Seberapa Kampungan Masa Kecilku?

by - Mei 06, 2019

Di era serba modern ini, aku begitu bersyukur karena bisa merasakan kemudahan-kemudahan yang diakibatkan karena kemajuan teknologi yang ada di masa sekarang. Jaman sekarang pacaran aja bisa online. Suatu saat nanti mungkin bakalan ada hamil online. Tapi jauh sebelum hari ini, mari aku ajak mundur kurang lebih 20 tahun yang lalu.

Sebelum setampan dan semodern sekarang, aku adalah seorang anak kecil garis lucu yang lahir di sebuah dusun kecil di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nama Desaku Kalibombong, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Kalo kalian berusaha cari Desa aku di Google Map, maka kalian seperti berusaha menemukan jarum di tumpukan jerami. Susah. Sangkin susah dan terpencilnya, jalanan ke desaku pada waktu itu benar-benar bikin miris. Pokoknya jangan dibayangkan jalan seperti sekarang. Alih-alih jalan aspal atau minimal jalan berbatu, itu lebih cocok disebut galur kebo. Mobil masuk ke desaku waktu itu seperti mimpi. Satu-satunya mobil yang mau masuk ke desaku adalah mobil yang mau aku ceritakan di paragraph selanjutnya.

Waktu aku kecil sekitar pertengahan 90an, desaku benar-benar masih sangat jauh dari peradaban maju. Mari aku kasih satu contoh. Waktu aku kecil, itu lagi ada Perhutani menebang hutan pinus untuk kemudian ditanami lagi dengan tanaman yang baru. Mobil yang buat angkut kayu pinus itu gede-gede dan suaranya menggelegar bisa terdengar jauh sampai ke pojok dusun. Sangkin gumunnya anak-anak di desaku, begitu mereka mendengar suara mobil-mobil itu, maka anak satu kampung bakalan keluar rumah dan mengejar mobil itu. Kita pikir, “Iki apa gede temen? Bisa ngangkut kayu akeh banget pisan” Dan ngga Cuma sampai situ saja. Kita bakalan berusaha naik ke mobil yang sarat muatan itu. Entah bagaimana caranya. Pokoknya brutal. Sebrutal jomblo melihat gadis seksi di Bigo live. Ada yang sampai benjut luka-luka karena jatuh dari mobil itu. Tapi kita ngga peduli. Yang penting kita bisa naik ke mobil itu. Mungkin pada saat itu sopirnya berfikir, “Ini anak-anak hidup di jaman Megalitikum atau gimana? Kok mereka kampungan sekali?”.

Setelah naik mobil tadi, kapan kita turun dan dimana kita turun? Nah ini lucu lagi. Biasanya kita bakal naik sampai Karangkobar dan turun disana. Jarak Karangkobar sampai ke desa aku itu kurang lebih 8 Km. Lah terus gimana cara kita balik ke desa? JALAN KAKI. Tapi apakah kita kapok dan bersedih? Tidak. Kita akan sangat gembira dan terus melakukan “Kegiatan yang sangat kampungan” itu. Pokoknya pada saat itu ngga ada kegiatan yang lebih membahagiakan kita melebihi itu.

Buset dah itu beneran ada anak-anak yang kaya gitu di tahun 90an? kok udik banget ya? Lah memang udik kok. Dan ini kisah nyata. Lha wong aku salah satu pelakunya kok.

Ngomong-ngomong soal mobil perhutani tadi, kadang ada kejadian yang paling menjengkelkan. Tetanggaku kan dinding rumahnya dari kayu. Dan kalo dindingnya dipukul pake tangan, suaranya itu persis kaya suara mobil Perhutani tadi. Mobil Perhutani tadi, kalo lagi ngga begitu ngegas, suaranya sama persis kaya dinding kayu tadi. Walaupun suaranya ngga begitu keras, paling ngga anak-anak di sekitaran rumah tetanggaku tadi pada denger.

Suatu hari ada anak yang iseng. Dia pukul dinding kayu itu keras-keras. Anak-anak di sekitaran rumahku berhamburan keluar, bersiap-siap ambil langkah seribu untuk mengejar mobil Perhutani. Begitu mereka keluar rumah, muka mereka suram. Kecewa tiada tara. Sekecewa jomblo yang ditinggal pas lagi saying-sayangnya. Satu persatu mereka kembali ke rumah masing-masing sambil menggerutu, “Oalah Asu. Kenang tipu maning”.

You May Also Like

0 komentar