Dieng, 6 Juli 2020. Hasrat pengin naik gunung udah ngga bisa ditahan. Ditambah beberapa hari lagi udah harus masuk kantor karena liburan udah hampir usai. padahal cuaca lagi ngga menentu banget. Tapi karena mungkin timingnya pas banget, akhirnya berangkatlah aku, berdua saja sama keponakanku. Tadinya mau berempat sama temen yang udah biasa muncak bareng, tapi susah banget koordinasinya. Iya. Kaya pemerintah Indonesia ngadepin Covid.
Akhirnya dibarengi dengan semangat 69, berangkatlah pagi-pagi sekali kita berdua langsung menuju Dieng. Tapi sebelum itu kita harus buat surat sehat dulu. Karena memang surat sehat menjadi salah satu syarat wajib dikarenakan masih dalam masa pandemi Covid 19. Akhirnya berangkatlah kita ke Puskesmas Karangkobar. Sayang sekali ternyata di Puskesmas Karangkobar, untuk meminta surat sehat, kita harus minta surat pengantar dari desa dulu. Tak mau ribet, karena aku lihat beberapa pendaki membuat surat sehat di Dieng dan ngga perlu ke Desa, akhirnya kita berdua sepakat langsung berangkat saja dan bikin surat sehat di Puskesmas Dieng.
Dengan cara saksama dan dalam tempo yang lumayan lambat, karena kita cuma naik Honda Beat, maka sampailah kita di Puskesmas tertinggi di Pulau Jawa, Batur 2. Kalo ngga salah kita berdua bayar 33 ribu saja untuk mengurus surat sehat.
Setelah selesai, langsung saja kita menuju Basecamp Dieng. Kenapa ngga lewat Patak Banteng saja biar lebih mainstream? Karena basecamp lain baru mau dibuka tanggal 10 Juli. Sekalian mencoba jalur lainnya. Karena ini pendakian keduaku di gunung Prau. Patak Banteng udah pernah.
Sampailah kita di Basecamp Gunung Prau Via Dieng. Cukup bersih dan fasilitas juga cukup memadai. Di sekeliling banyak warung-warung penyedia isi perut dan juga beberapa perlengkapan pendakian kaya kupluk, buff, syal, sarung tangan, dan sarung tinju. Toilet dan mushola juga disediakan oleh pihak basecamp. selain itu, kalau perlengkapan pendakian kita ternyata kurang, atau tertinggal, pihak basecamp juga menyewakan berbagai macam alat pendakian.
Singkat cerita, ternyata sebelum memulai pendakian, kita akan melewati tahap checking perlengkapan. sebenernya proses checkingnya sih cepet. Tapi antri nunggunya itu yang nggilani. Aku sama ponakanku itu sampai basecamp jam 9 pagi dan kita baru dipanggil sekitar jam setengah 12 siang.
Akhirnya selesai juga kita checking, dan bersiap melakukan petualangan sesungguhnya. Setelah shalat Dhuhur bareng pendaki-pendaki lain, berangkatlah kita ke Gunung Prau.
Dari basecamp sampai sekitar 100 meter, jalan masih didominasi perkebunan warga dan cukup landai. dan memang jalur Dieng ini sepanjang track ada banyak bonusnya. Memasuki hutan gunung Prau, kabut tebal terus mengiringi perjalanan kami.
Setelah kurang lebih setengah perjalanan, barulah "petaka" sesungguhnya dimulai. Hujan turun begitu derasnya. Karena prepare kita bagus dan lengkap, langsung kita pakai mantel masing-masing dan berharap semoga hujan cepat selesai. Tapi, hujan turun semakin nggilani, dan sesekali guntur menyambar-nyambar. Beberapa kali pula aku tanya ke ponakanku, apakah mau lanjut atau tidak. Aku tawarkan kalo mau lanjut, ayo. Kalo mau turun aja, ayo. Tapi berkali-kali pula ponakanku dengan yakin menjawab lanjut. Karena memang ini pendakian pertama dia. Jadi mungkin dia pengin dapet pengalaman sampai puncak gunung itu kaya gimana. Sebenernya ada rasa kasian juga sama ponakanku ini. Baru pertama kali naik gunung udah dapet cuaca yang seekstrem ini.
Tapi "petaka" ngga cuma sampai disitu. Ternyata mantel yang dipakai ponakanku itu rembesnya parah. Jadi sepanjang perjalanan, ponakanku sekujur badan udah basah kuyup. dan dia ngga bawa celana cadangan. Cuma bawa cadanga baju aja. Tapi ya udah lah ya. Kita lanjutkan saja dengan harapan semoga cuaca kembali cerah. Jam 3 tepat, sampailah kita di puncak gunung Prau. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit.
Dengan diiringi hujan yang luar biasa, langsung kita dirikan tenda dengan ala kadarnya karena berpacu dengan derasnya hujan. Akhirnya tenda berdiri dan kita langsung memasuki tenda. Sebenernya ada beberapa titik yang belum pas di sudut-sudut tenda. Tapi karena keadaan sudah ngga memungkinkan untuk kita benerin, ya udah kita biarkan saja.
Ternyata, ketidak beresan dalam mendirikan tenda, ternyata menjadi sumber "petaka" selanjutnya. Setelah makan, ngopi-ngopi dan rokokan, kira-kira jam 6 sore sehabis maghrib, tenda rembes sampai ke dalam karena layer tenda yang diluar, tidak terpasang dengan sempurna. Akhirnya ponakanku yang tidur lelap sehabis makan, aku bangunin. "Pilihannya cuma 2. Tetap disini berharap hujan berhenti, tapi kalo ngga berhenti resiko hypotermia, atau entah bagaimana caranya kita bongkar tenda, kita nekat turun di kondisi malam", kataku ke ponakanku.
Kebingungan dong ponakanku ditawari kaya gitu. Dia cuma ngomong "Aduh nek mudun wis pol ademe, tapi nek ning kene terus ya medeni. wong iki teles wis tekan ngkene-ngkene", kata ponakanku sambil menunjuk-nunjuk sleeping bagnya yang udah mulai terkena tetesan air. "Tapi ana PR maning. Iki nek nekat mudun, headlamp nek sampe kena banyu, bisa konslet. Bahaya banget nek mati ning dalan. Lah mung headlamp iki tok sumber cahayane. Lah iki cuaca agi pol ekstrem je", kataku lagi.
Setelah berpikir berulang-ulang, kita mengambil keputusan yang cukup berani untuk turun di malam hari dengan cuaca yang begitu ekstrem. PR soal headlamp itu, akhirnya kita menemukan cara dengan memotong Botol air mineral dan memasukkan headlam itu ke botol air mineral itu, dan menjaga lubang botol tetap di bawah jadi headlamp aman. Tapi ada rasa gentar juga sih sebenernya. Soalnya seumur-umur aku naik gunung, belum pernah aku turun gunung malam hari dengan cuaca ekstrem kaya gini. Tapi mau gimana lagi, dari pada ambil resiko yang lebih besar, hypotermia. Musuh sejuta pendaki.
Akhirnya diputuskan. untuk menjaga ponakanku tetap hangat, mantelku yang bagus, dipakai ponakanku. Juga celanaku yang masih cukup kering. Jadi, selama perjalanan nanti, yang aku pakai di sekujur badan itu basah. dan mantel yang aku pakai juga rembes. Jangan dibayangkan kaya apa dinginnya. Bahkan dinginnya sikap gebetan, belum ada apa-apanya.
Dibongkarlah tenda dan semua perlengkapannya. Tepat jam 7.30, setelah selesai, lanjut kita turun. Sepanjang perjalanan hujan ngga pernah berhenti sekalipun. Sedikit reda pun ngga. Dan jangan bayangkan kaya apa seremnya berjalan di hutan, gelap gulita, dengan cuaca yang bikin bulu kuduk merinding. Alhamdulillah di beberapa titik kita berpapasan dengan pendaki yang sedang naik ke puncak. dan ekspresi mereka rata-rata keheranan. Kenapa jam segini ada pendaki turun ya? Karena di jam-jam itu memang lazimnya itu pendaki naik.
Akhirnya setelah melewati seramnya hutan Gunung Prau, dengan beberapa kali terpeleset dan jatuh, sekitar jam 20.30 sampailah kita di basecamp. Mas-mas basecamp keheranan dong. "Loh katanya tadi mau ngecamp? Kok malah jam segini turun?", tanya mas-mas basecamp. "Aduh panjang ceritanya mas. Intinya ada masalah di tenda", jawabku. Setelah bersih-bersih badan, dan membuang sampah di tempat yang telah disediakan, kita menghubungi mas-mas basecamp untuk checkout dan pulang.
Masih ada PR lagi dong selama perjalanan pulang. Bisa bayangin ngga jam 10 malem perjalanan dari Dieng, dengan baju yang basah? Aduh, Raja Firaun disuruh gitu, dia langsung nyembah Allah pasti. Ini Dieng loh. Dieng. Setahuku daerah paling bikin tulang ngilu karena sangkin dinginnya ya Dieng. Sekitar 45 menit perjalanan, Aku langsung muntah-muntah dipinggir jalan. Waduh masuk angin. Akhirnya ponakanku yang ambil alih kemudi. 15 menit kemudian sampailah kita di rumah tercinta disambut raut muka istriku yang keheranan. "Besok deh aku ceritain", kataku.
Begitulah cerita perjalanan naik gunung Prau Via Dieng yang masih dalam masa pandemi. Besoknya, setelah aku ceritain, istriku tanya dengan nada mengejek. "Gimana? udah kapok naik gunung?",tanya istriku. "Weladalah, tukang mancing ngga selalu harus bawa ikan dong kalo pulang. Sering juga ngga dapet ikan. Kadang yo kepleset pas ning watu. Kadang ya ketemu genderuwo pas ning kali sing angker. Tapi nek wis seneng mancing, ngesuk ya mangkat maning", kataku sambil nyengir dan disambut muka kecut istriku.
Tahu ngga apa yang paling bikin mbuh? Sepanjang perjalanan pulang dari basecamp ke rumah, langit cerah, bintang-bintang bertaburan, Sindoro Sumbing dan gunung Prau terlihat sangat jelas seakan-akan berkata dengan nada mengejek "Lha kok bali mas?". Arrrrghhhhhhh MBUHHHHHHHHH.


