“Jangan makan burung emprit.
Nanti tua hidupnya pindah-pindah terus”. Begitu mitos yang sering diucapkan
orang-orang tua di kampungku. Tapi dari jaman aku kecil ucapan-ucapan ngga
masuk akal semacam itu selalu aku bantah. Soalnya dipikir secara logika aja
ngga nyampe. Apalagi kalau dikaitkan dengan agama. Bisa menjerumus ke Tatoyur.
Mempercayai sesuatu yang terjadi karena sebab-sebab yang ngga masuk akal. “Jangan
berdiri di depan pintu. Nanti menghalangi rejeki”. “Jangan nyisain makanan ntar
ayamnya mati”. “Jangan berdiri di tengah jalan tol, nanti ditabrak sedan”. “Jangan
kritik pemerintah. Nanti ada kang bakso lewat”. Dan masih banyak lagi yang
lainnya.
Hal yang bikin aku semakin ngga
percaya kalimat-kalimat ngga masuk akal tadi adalah, dari jaman orok aku ngga
pernah makan burung emprit. Tapi hidupku udah kaya burung emprit. Pindah-pindah
terus. Dari desa satu ke desa lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, bahkan
dari pulau satu ke pulau lain. Mari kita bedah.
Lulus SD, aku udah harus kerja di
Majalengka Jawa Barat selama kurang lebih 2 tahun. Ngga dapet apa-apa tuh
disitu. Paling yang aku dapet jadi lancar
banget ngomong Bahasa Sunda waktu itu. Bahkan kalo orang Sunda waktu itu
ngomong sama aku, dikira aku orang Sunda. Sangkin luwes dan fasehnya. Lulus SD
merantau ke Majalengka Jawa Barat 2 tahun.
Karena keadaan keluargaku yang wadidaw sekali, ikutlah aku sama orang yang biayain aku sekolah. Pindah ke desa lain. 3 tahun.
Kuliah ngga aku anggep merantau
lah ya. Karena emang harus kuliah di Semarang. Kan ngga mungkin kuliah di
kampungku sendiri.
Habis kuliah akhirnya pertarungan
sesungguhnya. Merantaulah ke luar pulau. Samarinda, Kalimantan Timur. 2 tahun. Lumayan
tuh disana dapet macem-macem. Dapet uang mahar, dapet biaya lahiran anak
pertama, dapet pengalaman sebagai karyawan Indomaret, dapet pengalaman
dibentak-bentak manager, dapet banyak lah pokoknya disana.
Sehabis istri melahirkan, resignlah
aku. Balik lagi ke kampung halaman. Jadilah perangkat desa. Kurang lebih 2 tahun. Nah pas
jadi perangkat desa ini aku juga tinggal pindah-pindah antar kecamatan. Soalnya
aku ikut mertua di Karangkobar, tapi perangkat desanya ikut kecamatan
kalibening.
2018, ikutlah aku tes CPNS. Diterimalah
aku di Kementerian Agama. Ditempatkanlah di Kebumen. 2 tahun kurang lebih.
Kaya ketiban Durian Montong,
tiba-tiba beberapa hari yang lalu dapet surat cinta dari Semarang. Dimutasilah
aku Kembali ke Banjarnegara. Tempat baru lagi, ketemu orang-orang baru lagi,
adaptasi lagi, dan tetek bengeknya. Tapi aku Bahagia. Kembali ke pangkuan ibu
pertiwi, kota kecil nan menggemaskan ini, adalah harapanku sedari dulu.
Walaupun aku udah kerja kemana-mana, Kembali ke Banjarnegara adalah harapan
yang selalu tersimpan dalam hati.
Jadi intinya di tulisan ini aku
mau bilang, “Jangan makan burung emprit nanti hidupnya pindah-pindah terus”,
adalah sebuah kebohongan yang nyata.
Semoga di Banjarnegara ini bisa sampai
pensiun lah ya. Capek banget pindah-pindah terus. Kaya hati seorang jomblo yang
gonta ganti pasangan namun tak jua menemukan tambatan hatinya.
Hubungannya sama judul? Sangat erat
hubungannya.
Di setiap kepindahanku pasti
selalu ada “Shit”nya. Banyak banget. Yang pasti, CAPEK. Tapi mau gimana lagi. Wong
kita Cuma wayang. mau gimanapun jalan kehidupan kita, ya terserah sang Dalang.
Tetap bersyukur adalah kunci dari semua ini. Well, let me say…. EVERY SHIT
HAPPEN, BUT …. LIFE MUST GO ON.
Dari rangkuman perjalanan hidupku ini, kayaknya ada sesuatu di balik 2 tahun. Hampir semua perjalanan karirku (cie karir 😀) selalu berpindah setelah 2 tahun. Majalengka 2 tahun, Samarinda 2 tahun, Kebumen 2 tahun. Apakah di Banjarnegara ini akan berpindah lagi setelah 2 tahun? Aku sendiri penasaran. Patut buat aku tunggu.
Oh iya satu lagi inti dari
tulisan ini adalah….. Dulu di Samarinda aku sering dibentak-bentak manager. Namanya Pak Wayan. Dari Bali dong. Masa dari Jawa. Kalo dari Jawa namanya Wahyono. 😀

1 komentar
Life happens. Shit happens. And it happens a lot. To a lot of people, dialam bawah sadarku mengatakan bahwa bulumata yg jatuh itu krna ada yang rindu (another shit😅), tapi berusaha aq tepiskan #semua itu atas kehendak Allah
BalasHapus