• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

 “Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.

Begitulah salah satu rangkaian lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya. Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain. “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok malah ngelantur kemana-mana.

Kembali ke topik. Di tulisan saya sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.

Kembali ke Maret 2019, saya mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya. Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang dan harus diambil oleh yang bersangkutan.

Detik mendebarkan itu pun tiba, perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu. Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan ditempatkan.

Setelah SK CPNS berada di tangan, dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85 kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.

Tidak disangka tidak dinyana, bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng.  Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat keputusan mutasi secara simbolis.

Aduh. Jadi deg-degan lagi . Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.

2 hari berlalu, tibalah saatnya penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS, perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah, puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”.

MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.

Bangunannya memang bukan bangunan baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat bagus untuk perkembangan anak didik kita.

Hal lain yang menguatkan bahwa MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.

Itulah cerita bagaimana perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.

Ada fakta menarik di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 😃😃😃

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


01-01-2020 - SAHABAT PENA KITA

(Picture :sahabatpenakita.id ) 

Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.

Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang  terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D

Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.

Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”

Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.

Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”

Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.

Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.

Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.

Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.

Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu.  Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.

Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.

2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.

Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.

Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.

2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.

Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas  segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir. 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa aku pernah cerita kalo dulu selepas SD pernah putus sekolah? iya. Aku yang sekarang ini jadi seorang guru nan tampan rupawan ini dulu pernah putus sekolah. dan putus sekolahnya itu ngga main-main. Lulus SD langsung putus sekolah. Sebuah ironi yang sangat menyakitkan pankreas dan kantung empedu, mengingat di SDku dulu, aku termasuk murid yang pintar. Kenapa kok sampai putus sekolah? Panjang ceritanya. Ngga sepanjang angan-angan saya yang pengin punya Honda HRV Prestige sih. Tapi pokoknya panjang lah ceritanya.

Jadi, sehabis kejadian putus sekolah itu, aku dan satu orang temanku yang sama-sama putus sekolah, merantau ke sebuah kota kecil di Jawa Barat bernama Majalengka. Tunggu tunggu. Kok ada temenku yang putus sekolah juga ya? Apa jangan-jangan putus sekolah sebenernya bukan hal istimewa di desaku? Jangan-jangan putus sekolah jadi sebuah passion buat masyarakat kampung kaya kami? Apa jangan-jangan pemerintah ngga hadir di situ? Ah sudahlah. Kita lanjut cerita aja.

Majalengka sebuah kota kecil di Jawa Barat, menjadi tujuan aku dan kawan aku buat merantau. Majalengka itu, diantara Sumedang, Cirebon, Indramayu, Kuningan. Kalo kalian sudah sampai di ujung Cirebon sebelah wetan, tanya aja sama warga yang lagi duduk-duduk di pinggir jalan. "Pak mau tanya, disini yang namanya Asep sama Ujang dimana?". Kalo jawabannya "Wah Asep sama Ujang ada dimana-mana pak", berarti kalian udah sampai di Majalengka.

Singkat cerita, aku tiba di rumah seorang bos, Distributor besar Jamu Nyonya Meneer. Tahu kan jamu legendaris produksi Ungaran Semarang yang di bungkusnya ada foto ibu-ibu yang tulisannya berdiri sejak 1919? Kalian pernah bayangin ngga, ada ibu-ibu berdiri dari tahun 1919? Gila bener. Laki-laki aja berdirinya paling lama 10 menit. Apa? Kalian bisa berdiri sejam? Kok punyaku bentar doang? Apaan sih?

FYI, perusahaanya sekarang udah pailit. Jadi intinya saya punya bos seorang distributor Jamu Nyonya Meneer yang cukup besar. Armadanya banyak, karyawannya banyak, rumahnya besar, dan peliharaanya banyak. Punya burung. Pasti lah. Kan laki-laki. Masa ngga punya burung? Aduh. kesitu lagi. Maksudku, peliharaannya banyak. Ada burung perkutut, burung kicauan, ayam, ikan, anjingnya macem-macem jenis, bahkan punya peliharaan simpanse sama orang utan. Nah, pekerjaanku salah satunya adalah ngasih makan hewan-hewan yang aku sebutkan tadi. Kecuali perkutut ya. Karena perkututnya bosku itu memang udah dikelola profesional dan punya karyawan kusus yang setiap hari merawat burung. Perkutut.

Pekerjaan pokok lainnya yaitu bersih-bersih rumah. Rumahnya itu gedenya luar biasa. Bukan cuma bangunan rumahnya aja yang gede sih. Tapi areanya itu yang nggilani. Jadi seluruh area rumah bosku itu dipagar tembok tinggi. Karena antara rumah bosku, kantor karyawan jamu, dan area hewan-hewan itu menjadi satu di dalam tembok tinggi itu. Jadi kalo udah mulai bersih-bersih, waktunya lama dan sangat melelahkan jiwa raga. Mana gajiku waktu itu aduh kalo diinget sekarang rasanya menyedihkan. Untung aja semua orang disana baiknya luar biasa. Mungkin karena kasihan juga lihat aku yang begitu polos, kecil, lucu menggemaskan sudah harus bekerja terpisah ratusan kilometer dengan keluarga.

BTW, bosku ada keturunan China Jawa, Nasrani. Jadi di dalam rumahnya ya banyak patung-patung Yesus, Bunda Maria gitu. Mulai dari yang kecil-kecil yang dipajang di lemari-lemari, sampai yang gede banget yang ada di dalam kamar tidur bosku.

Suatu hari aku lagi bersih-bersih ruang keluarga. Di dalam ruang keluarga itu ada lemari cukup besar dan ada patung Yesus dan Bunda Maria di lemari itu. Dasar aku yang memang dari kecil suka pethakilan, ndilalah aku ngga sengaja menjatuhkan patung Yesus dan hancur kira-kira jadi 3 bagian. Gila.Waktu itu takutnya bukan main. Sampai sekarang aja aku masih inget takutnya kaya gimana waktu itu. Untungnya bukan yang gede. Untungnya lagi, ngga ada siapapun disitu waktu itu. Tengok kanan kiri, aman. Aku kumpulin serpihan-serpihan patung Yesus itu, terus aku coba satukan kira-kira kalo dikasih lem Alteco masih bisa nyatu apa ngga. dan ternyata aku lihat kayaknya ngga kentara habis jatuh kalo disatuin pake lem Alteco. dengan secepat kilat aku beli lem yang kalo nempel di kulit sangat menyebalkan jiwa itu. Akhirnya patung Yesus menyatu lagi dan hasilnya juga ternyata lumayan.

Itu bener-bener kejadian yang ngga bakal aku lupain seumur hidup aku. karena waktu itu, kejadian itu adalah kejadian cukup mendebarkan sepanjang umur aku. FYI, aku Muslim yang Insyaallah sedikit paham dan memegang teguh Tauhid agamaku. Sekarang. Tapi waktu itu, waktu masih polos itu, tahun 2003 itu, apa kalian tahu yang paling aku pikirkan dan membuat aku takut? aku takut Yesus marah. :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa,  dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.

Tentu saja aku bingung mau tinggal dimana karena  tidak punya siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga. Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen. Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen, hanya saja beda instansi.

Di kontrakan itulah ide tulisan ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.

Setiap orang yang sudah berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana saja. 

Di setiap ada kesempatan, mereka berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main, yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.

Pun demikian yang terjadi denganku saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku. Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih bias pulang seminggu sekali.

Sebenarnya ini bukan hubungan jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah. 

Walaupun kadang rasa kangen tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku boyong kesini. 

Begitulah sedikit ceritaku mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.  

Kepada semua bapak-bapak hebat pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing. 

 FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

“Pokoknya saya harus lulus tepat waktu. Maksimal 4 tahun saya sudah harus wisuda”, batin saya waktu itu. Dengan semangat berapi-api, saya selesaikan kuliah saya tepat waktu. Alhamdulillah, dengan perjuangan yang panjang, saya dapat lulus kurang dari 4 tahun. Lebih tepatnya 3 tahun 11 bulan 28 hari.

Akhirnya saya menyandang predikat S.Pd, Sarjana Pendidikan. Sesuai dengan kodrat, seharusnya setelah lulus saya harus menjadi seorang guru. FYI, sejak jaman Angling Darma masih memerintah di kerajaan Malwapati, saya memang ingin menjadi seorang guru. Tetapi apa mau dikata, dunia persilatan berkata lain. Sang penggurat goresan kehidupan, menghendaki saya menjadi seorang karyawan minimarket. Sebuah nasib yang sangat kontras dan sangat tidak nyambung. Layaknya seorang jomblo yang mengejar-ngejar gebetannya namun gebetannya jalan dengan lelaki lain.

Yup, 2 tahun lamanya saya menjadi seorang karyawan sebuah minimarket yang cabangnya tersebar secara sporadis di seluruh antero Indonesia. Bagaikan jomblo yang setiap malam minggu menyebar di sudut-sudut gang. Sebuah minimarket dengan awalan Indo, berakhiran Maret. Betul. Matahari. Saya yakin minimarket ini dulunya dibangun di bulan April. FYI, saya dulu masuk di cabang Samarinda. Lalu, kenapa sih orang yang tampan rupawan yang lulusan pendidikan ini bisa menjadi karyawan minimarket? Dan juga kenapa harus di Samarinda? Suatu saat akan saya bahas di tulisan lain.

Singkat cerita, 2 tahun setelahnya, karena waktu itu istri saya hamil besar dan memutuskan pulang ke Jawa, akhirnya saya menyusul kembali ke Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan dan memutuskan untuk melanjutkan kehidupan yang fana ini di Kampung halaman.

Selepas itu, saya mencoba peruntungan mendaftar menjadi seorang perangkat Desa. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, akhirnya saya diterima menjadi Kepala Urusan Keuangan. Sebuah jabatan yang belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah jabatan penuh dengan resiko dan pengorbanan tinggi mengingat semua uang yang diperoleh dari sumber manapun ke desa mengalir melalui Kepala Urusan Keuangan. Kenapa perangkat Desa? Jujur saja, sebelum saya menjadi Kaur Keuangan, saya sudah diterima menjadi tenaga honorer di sebuah sekolah di daerah tempat tinggal saya. Namun baru saja saya mendaftar, list kebutuhan anak saya sudah terpampang jelas di depan mata. Susu SGM Merk Frisian Flag, Pampers merk Merries, dan kebutuhan-kebutuhan lain dengan nominal yang tidak kecil sudah menanti untuk dipenuhi. Sementara kita semua tahu berapa gaji guru honorer. Memang rejeki Allah sudah atur. Tapi manusia juga diberi kesempatan untuk berikhtiar. Nah, ikhtiar saya waktu itu adalah dengan memilih menjadi seorang perangkat desa.

Memang garis hidup sudah ditentukan. 2 tahun setelah saya menjadi Perangkat Desa, dibukalah pendaftaran CPNS tahun 2018. Harapan untuk saya menyalurkan ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah akhirnya terbuka. Semangat menggebu-gebu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk berlatih soal-soal CPNS yang dulu pernah keluar di tahun-tahun sebelumnya. Selain berusaha sekuat tenaga, berdoa juga menjadi andalan saya di setiap waktu. Karena saya yakin bahwa sehebat apapun usaha yang saya lakukan, tidak akan berhasil tanpa ridho dari Sang Maha Kuasa.

Untuk detail tahapan dan perjalanan saya menjadi seorang CPNS, bisa dibaca disini. Dijamin konyol dan agak lucu.

Singkat cerita, Alhamdulillah saya resmi menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang lama terpendam dan belum tersalurkan yang akhirnya di tahun 2019 ini bisa terrealisasi. Kementerian Agama , menjadi kementerian yang menaungi pekerjaan saya ini.

MTs Negeri 4 Kebumen, sebuah MTs di pinggiran kota Kebumen, menjadi tempat pertama saya menjalankan tugas. FYI, basic pendidikan saya adalah Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer. Jadi di MTs 4 saya pasti mengajar TIK dong. Tetapi karena pelajaran TIK di SMP hanya 1 jam per minggu, maka saya diminta untuk mengajar Seni Budaya. Sebuah pengalaman baru lagi mengingat ini adalah kali pertama kali saya mengenal materi seni Budaya.

Lah kenapa saya yang basicnya komputer kok ngajar seni Budaya? Usut punya usut, suatu saat saya bermain keyboard yang ada di sekolah. Nah, ndilalah bagian kurikulum melihat saya sedang bermain keyboard itu. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mengatakan, “Oke tahun pelajaran ini Bapak ngajar seni Budaya”. “Baiklah”, begitu langsung saya jawab. Beliau ngga tahu kalo sebenarnya saya cuma hafal chord C. Itupun C Mayor. Soalnya C Minor ada tuts hitamnya. Hehehe

Singkat cerita, saya sudah 2 bulan ini menjadi guru seni Budaya dan TIK. Banyak banget cerita yang mengiringi perjalanan saya mencoba menjadi seorang guru. Mulai dari tingkah anak-anak yang agak konyol, sampai hal-hal yang membuat jengkel. Banyak hal lucu, banyak pula hal-hal yang menjengkelkan. Insyaallah akan ada banyak cerita yang akan ditulis di blog ini. Itu Kalo saya tidak ngantuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
6 Juni 2019. Hari raya Idul Fitri telah tiba. Setelah beberapa hari berkeliling bersilaturahmi dengan keluarga besar, saatnya aku hubungi teman-teman dan handai taulan yang rumahnya tak sempat aku kunjungi. Perlahan, satu persatu kontak dalam handphone aku kirimi chat yang intinya adalah seperti yang biasa kita kirim dan terima pada hari raya. Kata-kata yang sudah seperti template yang selalu kita kirim dan kita terima setiap hari raya Idul fitri. Tapi aku bukan tipe penganut “saat mata tak bisa melihat, saat kaki tak bisa berjalan”, karena insyaallah aku sehat lahir batin. 

Tiba saatnya aku kirimkan permohonan maaf kesalah satu guru aku, teman aku, mentor aku, orang tua aku, sebut saja pak Bambang (Nama sebenarnya). Beliau adalah guru Bahasa Inggris sewaktu aku di SMP. Berkat motivasi-motivasi dari beliaulah, aku mendapatkan salah satu optimisme dalam hidup yang Alhamdulillah  mengantarkan aku menjadi manusia seperti sekarang. FYI, dulu aku memang sejenis Avertebrata. 

Entah bagaimana ceritanya, tanpa sengaja aku chat seperti ini. “Apa ngga ada rencana ke gunung Slamet gitu pak?”. Memang sudah beberapa bulan ini kita sering chating tentang rencana pendakian, yang pada akhirnya hanya menjadi wacana. FYI, pak Bambang ini suka sekali dengan olahraga, termasuk mendaki gunung. Makanya aku sering chating soal rencana pendakian. 

Setelah aku membuka percakapan itu, beliau langsung menyahut “Oke silakan diagendakan mas, aku ada waktu tanggal 9-12”. Baiklah tanpa pikir panjang, langsung aku sahut lagi dong, “Oke berarti langsung saja pak. Kita berangkat besok hari senin tanggal 10”. “OK”, begitulah pak Bambang menjawab.

Aku tahu, tak mungkin lah gunung Slamet sepi. Apalagi ini memang masih suasana lebaran. Ngga penuh sesak aja sudah untung. Tapi aku tidak mau naik satu rombongan hanya dengan pak Bambang. Kurang rame untuk ngobrol. Dan alasan sebenernya sih supaya cariel yang  berat, yang isi tenda dan lain-lain itu bisa dibawa teman. Dan aku pilih yang ringan. Begitulah, pendaki licik seperti saya. Itu sudah menjadi kebiasaan rutin setiap aku mendaki gunung. “Merepotkan orang lain” adalah nama tengahku :D. 

Akhirnya aku ajaklah dua teman dari kampungku yang sudah jelas fisiknya kuat. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya terpilihlah dua temanku. Personil oke, logistik oke, cuaca oke, ternyata masih ada satu masalah. Dompet ngga oke, karena aku lama menganggur dikarenakan SK CPNS yang tak kunjung turun. Karena hal ini pula lah istriku hampir saja tidak mengijinkan pendakianku. Tapi, dengan tekad yang sudah membara, istriku berhasil aku rayu. Karena nyatanya walaupun ini adalah pendakian gunung tertinggi yang pernah aku daki, ini adalah pendakian terhemat yang pernah ada. Sewa peralatan pak Bambang. Bensin temanku yang nanggung. Logistik ngga beli. Mental gratisan gini memang asyik untuk diri sendiri dan menyebalkan untuk teman-teman.

Singkat cerita berangkatlah kita ke Purbalingga untuk kemudian menuju Bambangan, desa terakhir sebelum kita treking. Jalur menuju Bambangan ini lumayan menyebalkan. Kenapa? Dari arah mana saja ngga ada petunjuk arahnya. Akhirnya di tengah kota Purbalingga kita memanfaatkan google Map. Senjata sejuta umat ketika tersesat di kehidupan yang fana. Akhirnya sampailah kita ke Basecamp. Ndilalah pada waktu itu kabut sedang tebal-tebalnya. Sepanjang jalan kita tidak melihat gunung Slamet sama sekali. 

Shalat ashar, mengisi perut, membeli kekurangan logistik, selesai semua. Jam setengah 5 sore kita start treking. Dan trek dari basecamp ke pos 1 adalah trek tergila. Puanjaaaaaaaaang kaya jomblo yang hubungannya diulur-ulur gebetannya. Selain panjang, beberapa ratus meter sebelum pos 1, itu trek nanjaknya nggilani. Itu Firaun kalo lewat trek itu kayaknya bakalan tobat deh. 

Singkat cerita di pos 1 sekitar jam 6 sore. Gelar matras, shalat lah kita. Setelah badan cukup istirahat, lanjutlah kita ke pos 2. Trek dari pos 1 ke pos 2 tidak segila dari basecamp ke pos 1. Memang semakin menanjak tapi tidak sepanjang basecamp-pos 1. Dan ada banyak trek bonus walaupun pendek-pendek. 

FYI, trek Slamet via Bambangan itu jarak antar pos semakin naik semakin pendek. Jadi, yang paling menyiksa memang antara basecamp samapai kurang lebih pos 3. 

Singkat cerita sampailah kita di pos 3. Udara dingin semakin menusuk tulang, dan pak Bambang sudah kelihatan gemetar badannya karena sangkin dinginnya. Aku pikir, wah bisa bahaya kalo diteruskan tanpa pakaian dobel ini pak Bambang. Akhirnya aku sarankan beliau memakai 2 jaket, kaos tangan, dan penutup telinga. Alhamdulillah. Saran diterima, badan pak Bambang ngga lagi gemetaran. Kita lanjutkan bongkar makanan dalam tas karena perut yang semakin lapar. Beberapa pisang kepok rebus, beberapa buah kupat dengan lauk sisa-sisa lebaran langsung ludes kita santap. Dilanjutkan dengan minum kopi terenak sepanjang hayat. FYI, kopi, rokok, dan makanan kalo dimakan di gunung kok rasanya 10 kali lebih nikmat ya? Atau perasaanku saja?

Setelah kenyang, perjalanan kita lanjutkan ke pos 4. Sebuah pos keramat di Gunung Slamet via Bambangan. Sebuah pos yang dilarang mendirikan tenda di pos itu. Sebuah pos yang paling dihindari untuk beristirahat dalam waktu yang lama. Samarantu namanya. Mendengar namanya saja udah agak bikin merinding. Karena konon Samarantu itu berasal dari kata Samar dan Hantu. Serem pokoknya. Lebih serem dari cewek PMS. Kayu-kayunya gede-gede banget. Rimbun banget. Kalo siang, cahaya matahari aja susah masuk. Kata orang yang ngerti sih disitu ada banyak.... ah sudahlah.

Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang berliku, akhirnya kita sampai di pos 7 yang mana dari awal kita pengin ngecamp disitu. Ternyata, pas kita ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Purbalingga, antara pos 7 dan pos 8 itu jaraknya sangat pendek. Bahkan pos 8 bisa dilihat dari pos 7 kalo siang hari. Akhirnya kita berniat melanjutkan perjalanan karena fisik kita yang masih lumayan oke.  Perjalanan kita lanjutkan ke pos 8 dan ternyata di pos 8 memang area campnya ngga begitu luas dan sudah penuh. FYI, waktu kita mendaki itu lagi rame-ramenya. Sepanjang jalan naik turun itu ngga pernah berhenti orang naik dan turun. 

Karena di pos 8 sudah penuh, akhirnya rombonganku dan 1 rombongan dari Purbalingga mencoba mencari tanah yang cukup datar antara pos 8 dan pos 9. Yang mana pos 9 adalah pos terakhir dan batas akhir vegetasi. Alhamdulillah kita nemu tanah yang cukup datar dan luas diantara pos 8 dan pos 9. Tepat jam 12 malam, didirikanlah tenda. Setelah masak-masak dan ngopi-ngopi ganteng, kurang lebih pukul 1 malam, tidurlah kita. 

Jam 4 pagi, 1 orang teman dan pak Bambang langsung summit attack. Aku dan temanku mah santai saja sangkin ngantuknya. Tepat pukul 5 setelah shalat subuh dan ngopi-ngopi ganteng, naiklah aku dan 1 temanku menyusul pak Bambang ke Puncak. Dari pos 9 Pelawangan sampai puncak adalah trek yang nggilani juga. Bener-bener nanjak, licin karena kerikil, belum lagi kalo ada batu yang meluncur dari atas.  Sebuah miniatur Semeru. Akhirnya kurang lebih jam 6 pagi sampai lah aku di puncak tertinggi Jawa Tengah. Slamet, 3428 MDPL. 

Rasa letih, lesu, lelah, lunglai, rasanya langsung hilang melihat keindahan matahari yang perlahan mulai nampak di ufuk timur, dan keindahan alam yang luar biasa karena saat itu cuaca benar-benar cerah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa indah yang memang hanya bisa dilihat dari gunung. 

Setelah puas muter-muter di puncak, kurang lebih jam 7 turunlah kita. Akhirnya jam 2 siang sampailah kita di basecamp. Sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan dan ini adalah perjalanan naik gunung terlama yang pernah aku alami. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Salah satu kebiasaan aneh yang sudah turun temurun dilakukan orang-orang di kampungku adalah mengganti nama ketika sudah resmi menikah. Jadi, setelah melakukan ijab qobul, akan diadakan semacam selamatan dan menghidangkan bubur merah putih, kemudian diresmikanlah nama baru oleh tetua di kampungku. Setelah acara ini selesai, maka orang sekampung harus memanggil kedua mempelai dengan nama barunya.
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Di era serba modern ini, aku begitu bersyukur karena bisa merasakan kemudahan-kemudahan yang diakibatkan karena kemajuan teknologi yang ada di masa sekarang. Jaman sekarang pacaran aja bisa online. Suatu saat nanti mungkin bakalan ada hamil online. Tapi jauh sebelum hari ini, mari aku ajak mundur kurang lebih 20 tahun yang lalu.

Sebelum setampan dan semodern sekarang, aku adalah seorang anak kecil garis lucu yang lahir di sebuah dusun kecil di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nama Desaku Kalibombong, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Kalo kalian berusaha cari Desa aku di Google Map, maka kalian seperti berusaha menemukan jarum di tumpukan jerami. Susah. Sangkin susah dan terpencilnya, jalanan ke desaku pada waktu itu benar-benar bikin miris. Pokoknya jangan dibayangkan jalan seperti sekarang. Alih-alih jalan aspal atau minimal jalan berbatu, itu lebih cocok disebut galur kebo. Mobil masuk ke desaku waktu itu seperti mimpi. Satu-satunya mobil yang mau masuk ke desaku adalah mobil yang mau aku ceritakan di paragraph selanjutnya.

Waktu aku kecil sekitar pertengahan 90an, desaku benar-benar masih sangat jauh dari peradaban maju. Mari aku kasih satu contoh. Waktu aku kecil, itu lagi ada Perhutani menebang hutan pinus untuk kemudian ditanami lagi dengan tanaman yang baru. Mobil yang buat angkut kayu pinus itu gede-gede dan suaranya menggelegar bisa terdengar jauh sampai ke pojok dusun. Sangkin gumunnya anak-anak di desaku, begitu mereka mendengar suara mobil-mobil itu, maka anak satu kampung bakalan keluar rumah dan mengejar mobil itu. Kita pikir, “Iki apa gede temen? Bisa ngangkut kayu akeh banget pisan” Dan ngga Cuma sampai situ saja. Kita bakalan berusaha naik ke mobil yang sarat muatan itu. Entah bagaimana caranya. Pokoknya brutal. Sebrutal jomblo melihat gadis seksi di Bigo live. Ada yang sampai benjut luka-luka karena jatuh dari mobil itu. Tapi kita ngga peduli. Yang penting kita bisa naik ke mobil itu. Mungkin pada saat itu sopirnya berfikir, “Ini anak-anak hidup di jaman Megalitikum atau gimana? Kok mereka kampungan sekali?”.

Setelah naik mobil tadi, kapan kita turun dan dimana kita turun? Nah ini lucu lagi. Biasanya kita bakal naik sampai Karangkobar dan turun disana. Jarak Karangkobar sampai ke desa aku itu kurang lebih 8 Km. Lah terus gimana cara kita balik ke desa? JALAN KAKI. Tapi apakah kita kapok dan bersedih? Tidak. Kita akan sangat gembira dan terus melakukan “Kegiatan yang sangat kampungan” itu. Pokoknya pada saat itu ngga ada kegiatan yang lebih membahagiakan kita melebihi itu.

Buset dah itu beneran ada anak-anak yang kaya gitu di tahun 90an? kok udik banget ya? Lah memang udik kok. Dan ini kisah nyata. Lha wong aku salah satu pelakunya kok.

Ngomong-ngomong soal mobil perhutani tadi, kadang ada kejadian yang paling menjengkelkan. Tetanggaku kan dinding rumahnya dari kayu. Dan kalo dindingnya dipukul pake tangan, suaranya itu persis kaya suara mobil Perhutani tadi. Mobil Perhutani tadi, kalo lagi ngga begitu ngegas, suaranya sama persis kaya dinding kayu tadi. Walaupun suaranya ngga begitu keras, paling ngga anak-anak di sekitaran rumah tetanggaku tadi pada denger.

Suatu hari ada anak yang iseng. Dia pukul dinding kayu itu keras-keras. Anak-anak di sekitaran rumahku berhamburan keluar, bersiap-siap ambil langkah seribu untuk mengejar mobil Perhutani. Begitu mereka keluar rumah, muka mereka suram. Kecewa tiada tara. Sekecewa jomblo yang ditinggal pas lagi saying-sayangnya. Satu persatu mereka kembali ke rumah masing-masing sambil menggerutu, “Oalah Asu. Kenang tipu maning”.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM