WONG JAWA ILANG JAWANE

by - Januari 15, 2020


“Pak, kiye priwe carane? Deneng komputere ra bisa urip?”, celetuk salah satu siswa saya ketika pelajaran TIK sedang berlangsung. Di sudut yang lain ada lagi siswa yang lain nyeletuk , “Kiye komputere ruwag ya pak? Deneng ora kena nggo Youtuban?”.
Bukan soal computer yang membuat saya cukup kaget. Karena saya tahu sebenarnya computer itu tidak ada masalah, hanya saja mereka yang belum begitu tahu cara mengoperasikan computer dengan benar.

Ngomong-ngomong soal pengoperasian computer, saya punya pengalaman cukup lucu ketika anak siswa sedang saya ajar pengoperasian dasar computer. Sebagai gambaran, pengetahuan siswa-siswa saya mengenai computer benar-benar dimulai dari 0. Karena memang mayoritas di sekolah dasar mereka tidak tersedia sarana computer yang memadai. Sehingga saya benar-benar harus mengajari mereka mulai dari menghidupkan sampai mematikannya. 
 
Suatu ketika saya sedang menerangkan mengenai pengoperasian Mouse. Dimana di sebuah mouse ada yang Namanya klik kanan dan klik kiri. Nah, untuk menjalankan sebuah menu di monitor, lazimnya kita menggunakan klik kiri supaya masuk ke menu/aplikasi yang dimaksud. Tetapi berkali-kali siswa saya yang satu ini selalu menggunakan klik kanan. Jadi bukan menu yang jalan tapi muncul banyak pilihan menu lagi. 

“Hey, kan sudah pak guru bilangin. Kalo mau memilih sesuatu pakai klik kiri”. Nada saya cukup tinggi waktu itu, karena siswa saya yang satu ini selalu memakai klik kanan. Padahal sudah berkali-kali saya bilangin. “Hey, lihat pak guru. Kirimu mana? Kiri. Kiri. Kiri. Kiri. Lalu tiba-tiba dia mengganti kanannya dengan tangan kirinya, dan tetap menekan klik kanan. Astaghfirullah. Mau ketawa tapi lagi marah. Mau marah tapi kok lucu banget. 

Kembali lagi ke soal kekagetan saya. Kekagetan saya yang cukup besar adalah Bahasa siswa-siswa saya yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan guru. Mereka selalu memakai Bahasa ngoko. Belum pernah saya menjumpai siswa saya memakai Bahasa Kromo. Kalopun tidak memakai kromo -karena mereka tahu Bahasa ngoko ke guru itu tidak sopan-, paling pol mereka memakai Bahasa Indonesia. 

FYI dalam Bahasa Jawa itu ada semacam tingkatan Bahasa dari yang paling kasar sampai yang paling halus (CMIIW). Paling kasar Namanya Ngoko. Ngoko pun masih bias dibagi lagi. Ngoko lugu dan ngoko alus. Peruntukkannya pun berbeda. Ngoko lugu biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya, yang sudah terbiasa akrab Bersama dengan kita. Ngoko alus biasanya digunakan untuk orang seumuran tetapi belum terlalu akrab dengan kita. 

Ada lagi tingkatan berikutnya Namanya kromo. Nah kromo ini Bahasa yang halus. Kromo pun masih dibagi lagi. Ada kromo lugu, kromo alus, dan kromo inggil. Seperti ngoko, peruntukan Bahasa kromo pun berbeda-beda. Kita ambil contoh kata MATA. Bahasa ngokonya MATA ya MATA. Itu sudah paling kasar. Naik sedikit menjadi MRIPAT. Naik lagi, ada SOCA, atau PANINGAL, atau NETRA.
Ambil contoh lagi, kata MAKAN. Paling kasar, itu ada NYEKEK, NDABLONG, NUCUK, NGUNTAL, dll. Itu sekasar-kasarnya kata makan. Jangan pernah memakai itu untuk bicara dengan kepala sekolah. Hehehe.  Naik lagi untuk teman sebaya biasanya MANGAN, atau MADANG. Kalo untuk agak halusnya menjadi MAEM. Halus lagi menjadi DAHAR. 

Saya semakin yakin bahwa kebudayaan Jawa itu sangat kaya dan komplit. Jatuh saja ada berbagai macam kata sesuai dengan gaya jatuhnya. NGUNGSEB, biasanya jatuh telungkup. NGGLEMPANG, jatuh agak berputar. NDLOSOR, jatuh tapi ketika jatuh posisi badan berpindah dari titik pertama jatuh sampai ke titik tubuh berhenti. KEPLARAK, jatuh dengan kaki kepleset jauh. KANTEB, jatuh dengan bokong menyentuh tanah duluan. Ah masih banyak lagi. Dan hey. Kok saya jadi ngelantur.
Back to topic. Saya pernah waktu awal-awal tiba di sini, pernah bertanya kepada guru-guru senior. Apakah mereka bicara ngoko hanya dengan saya. Ya kan siapa tahu mereka melihat saya masih sangat muda dan tampan, sehingga kurang pas bicara dengan Bahasa kromo. Tapi , ternyata siswa – siswa juga berbicara menggunakan ngoko dengan guru senior. 

Saya berasumsi macam-macam mengenai kasus satu ini.
1.       Mereka tidak pernah diajari berbicara kromo sejak kecil
2.       Mereka diajari, tapi tidak tahu bahwa bicara dengan guru menggunakan ngoko itu tidak sopan
3.       Sudah umum dan tidak masalah di daerah sini berbicara seperti itu dengan orang yang lebih tua
4.       Sudah umum di Jawa bahwa “Wong Jawa ilang Jawane”. 

Waduh semoga bukan alasan ke 4. Karena budaya Jawa adalah kebudayaan luhur, dalam hal ini unggah-ungguhnya. Jadi kalo sampai Bahasa Jawa hilang, kebangetan. 

Saya perhatikan akhir-akhir ini memang ada fenomena orang tua lebih memilih Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ibu kepada anak-anaknya ketimbang Bahasa Jawa. Bahkan untuk orang-orang yang hidupnya di kampung sekalipun. Kalo itu terjadi massal dan terus menerus, maka kalimat “Wong Jawa ilang Jawane” akan benar-benar terjadi. Jangankan untuk kromo. Bahkan Bahasa Jawa ngokopun anak-anak tidak tahu. 

Bicara Panjang lebar gitu emang apa yang sudah saya lakukan untuk menjaga eksistensi Bahasa Jawa? Saya dan keluarga mengajarkan Bahasa Kromo sebagai Bahasa Ibu ke anak-anak saya. Anak saya sekarang  3 tahun. Bahkan Bahasa Indonesia untuk percakapan yang dia tahu baru satu dua kata. Paling pol nyanyian yang pasti pakai Bahasa Indonesia. Dan Bahasa ngoko yang dia tahu juga karena bermain dengan teman-temannya. Dan itu sesuatu yang  tidak bias dicegah. Ya kan ngga mungkin anak saya dikurung supaya ngga bicara ngoko. Kan suatu saat dia besar tinggal dikasih pengertian bahwa Bahasa Jawa itu ada peruntukkannya masing-masing.

Saya tidak sedang pamer atau membanggakan anak saya atau sesuatu yang saya lakukan. Paling tidak yang saya lakukan  itu sebagai secuil  rasa syukur saya kepada Allah yang telah menakdirkan saya terlahir sebagai orang Jawa. Tentu saya tidak menyalahkan orang tua yang mengajarkan anaknya berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Karena pasti mereka bukan tanpa alasan melakukan itu. Dan bukan saya tidak cinta Indonesia. Saya sangat cinta Indonesia. Buktinya saya kalau naik gunung, Cuma gunung Indonesia. Bukan Fuji atau  Elbrus, apalagi Everest :D

Intinya saya sedang mencoba bersyukur menjadi orang Jawa. Kalo kita dilahirkan jadi kambing, ya kita harus mensyukuri jadi kambing. Jangan kepengin jadi burung yang bisa terbang. Karena terbangnya tidak mungkin kesampaian, dan hidupmu tidak nikmat karena tidak bersyukur menjadi kambing. 

You May Also Like

0 komentar