WONG JAWA ILANG JAWANE
“Pak, kiye priwe carane? Deneng komputere ra bisa urip?”, celetuk salah satu siswa saya ketika pelajaran TIK sedang berlangsung. Di sudut yang lain ada lagi siswa yang lain nyeletuk , “Kiye komputere ruwag ya pak? Deneng ora kena nggo Youtuban?”.
Bukan soal computer yang membuat saya cukup
kaget. Karena saya tahu sebenarnya computer itu tidak ada masalah, hanya saja
mereka yang belum begitu tahu cara mengoperasikan computer dengan benar.
Ngomong-ngomong soal pengoperasian
computer, saya punya pengalaman cukup lucu ketika anak siswa sedang saya ajar
pengoperasian dasar computer. Sebagai gambaran, pengetahuan siswa-siswa saya
mengenai computer benar-benar dimulai dari 0. Karena memang mayoritas di
sekolah dasar mereka tidak tersedia sarana computer yang memadai. Sehingga saya
benar-benar harus mengajari mereka mulai dari menghidupkan sampai mematikannya.
Suatu ketika saya sedang menerangkan
mengenai pengoperasian Mouse. Dimana di sebuah mouse ada yang Namanya klik
kanan dan klik kiri. Nah, untuk menjalankan sebuah menu di monitor, lazimnya
kita menggunakan klik kiri supaya masuk ke menu/aplikasi yang dimaksud. Tetapi
berkali-kali siswa saya yang satu ini selalu menggunakan klik kanan. Jadi bukan
menu yang jalan tapi muncul banyak pilihan menu lagi.
“Hey, kan sudah pak guru bilangin. Kalo mau
memilih sesuatu pakai klik kiri”. Nada saya cukup tinggi waktu itu, karena
siswa saya yang satu ini selalu memakai klik kanan. Padahal sudah berkali-kali
saya bilangin. “Hey, lihat pak guru. Kirimu mana? Kiri. Kiri. Kiri. Kiri. Lalu
tiba-tiba dia mengganti kanannya dengan tangan kirinya, dan tetap menekan klik
kanan. Astaghfirullah. Mau ketawa tapi lagi marah. Mau marah tapi kok lucu
banget.
Kembali lagi ke soal kekagetan saya.
Kekagetan saya yang cukup besar adalah Bahasa siswa-siswa saya yang mereka
gunakan untuk berkomunikasi dengan guru. Mereka selalu memakai Bahasa ngoko.
Belum pernah saya menjumpai siswa saya memakai Bahasa Kromo. Kalopun tidak
memakai kromo -karena mereka tahu Bahasa ngoko ke guru itu tidak sopan-, paling
pol mereka memakai Bahasa Indonesia.
FYI dalam Bahasa Jawa itu ada semacam
tingkatan Bahasa dari yang paling kasar sampai yang paling halus (CMIIW). Paling
kasar Namanya Ngoko. Ngoko pun masih bias dibagi lagi. Ngoko lugu dan ngoko
alus. Peruntukkannya pun berbeda. Ngoko lugu biasanya digunakan untuk
berkomunikasi dengan teman sebaya, yang sudah terbiasa akrab Bersama dengan
kita. Ngoko alus biasanya digunakan untuk orang seumuran tetapi belum terlalu
akrab dengan kita.
Ada lagi tingkatan berikutnya Namanya
kromo. Nah kromo ini Bahasa yang halus. Kromo pun masih dibagi lagi. Ada kromo
lugu, kromo alus, dan kromo inggil. Seperti ngoko, peruntukan Bahasa kromo pun
berbeda-beda. Kita ambil contoh kata MATA. Bahasa ngokonya MATA ya MATA. Itu sudah
paling kasar. Naik sedikit menjadi MRIPAT. Naik lagi, ada SOCA, atau PANINGAL,
atau NETRA.
Ambil contoh lagi, kata MAKAN. Paling
kasar, itu ada NYEKEK, NDABLONG, NUCUK, NGUNTAL, dll. Itu sekasar-kasarnya kata
makan. Jangan pernah memakai itu untuk bicara dengan kepala sekolah. Hehehe. Naik lagi untuk teman sebaya biasanya MANGAN,
atau MADANG. Kalo untuk agak halusnya menjadi MAEM. Halus lagi menjadi DAHAR.
Saya semakin yakin bahwa kebudayaan Jawa
itu sangat kaya dan komplit. Jatuh saja ada berbagai macam kata sesuai dengan
gaya jatuhnya. NGUNGSEB, biasanya jatuh telungkup. NGGLEMPANG, jatuh agak
berputar. NDLOSOR, jatuh tapi ketika jatuh posisi badan berpindah dari titik
pertama jatuh sampai ke titik tubuh berhenti. KEPLARAK, jatuh dengan kaki
kepleset jauh. KANTEB, jatuh dengan bokong menyentuh tanah duluan. Ah masih
banyak lagi. Dan hey. Kok saya jadi ngelantur.
Back to topic. Saya pernah waktu awal-awal
tiba di sini, pernah bertanya kepada guru-guru senior. Apakah mereka bicara
ngoko hanya dengan saya. Ya kan siapa tahu mereka melihat saya masih sangat
muda dan tampan, sehingga kurang pas bicara dengan Bahasa kromo. Tapi ,
ternyata siswa – siswa juga berbicara menggunakan ngoko dengan guru senior.
Saya berasumsi macam-macam mengenai kasus
satu ini.
1.
Mereka tidak pernah diajari
berbicara kromo sejak kecil
2.
Mereka diajari, tapi tidak tahu
bahwa bicara dengan guru menggunakan ngoko itu tidak sopan
3.
Sudah umum dan tidak masalah di
daerah sini berbicara seperti itu dengan orang yang lebih tua
4.
Sudah umum di Jawa bahwa “Wong
Jawa ilang Jawane”.
Waduh semoga bukan alasan ke 4. Karena
budaya Jawa adalah kebudayaan luhur, dalam hal ini unggah-ungguhnya. Jadi kalo
sampai Bahasa Jawa hilang, kebangetan.
Saya perhatikan akhir-akhir ini memang ada
fenomena orang tua lebih memilih Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ibu kepada
anak-anaknya ketimbang Bahasa Jawa. Bahkan untuk orang-orang yang hidupnya di
kampung sekalipun. Kalo itu terjadi massal dan terus menerus, maka kalimat
“Wong Jawa ilang Jawane” akan benar-benar terjadi. Jangankan untuk kromo.
Bahkan Bahasa Jawa ngokopun anak-anak tidak tahu.
Bicara Panjang lebar gitu emang apa yang
sudah saya lakukan untuk menjaga eksistensi Bahasa Jawa? Saya dan keluarga
mengajarkan Bahasa Kromo sebagai Bahasa Ibu ke anak-anak saya. Anak saya
sekarang 3 tahun. Bahkan Bahasa
Indonesia untuk percakapan yang dia tahu baru satu dua kata. Paling pol
nyanyian yang pasti pakai Bahasa Indonesia. Dan Bahasa ngoko yang dia tahu juga
karena bermain dengan teman-temannya. Dan itu sesuatu yang tidak bias dicegah. Ya kan ngga mungkin anak
saya dikurung supaya ngga bicara ngoko. Kan suatu saat dia besar tinggal
dikasih pengertian bahwa Bahasa Jawa itu ada peruntukkannya masing-masing.
Saya tidak sedang pamer atau membanggakan
anak saya atau sesuatu yang saya lakukan. Paling tidak yang saya lakukan itu sebagai secuil rasa syukur saya kepada Allah yang telah
menakdirkan saya terlahir sebagai orang Jawa. Tentu saya tidak menyalahkan
orang tua yang mengajarkan anaknya berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia.
Karena pasti mereka bukan tanpa alasan melakukan itu. Dan bukan saya tidak
cinta Indonesia. Saya sangat cinta Indonesia. Buktinya saya kalau naik gunung,
Cuma gunung Indonesia. Bukan Fuji atau
Elbrus, apalagi Everest :D
Intinya saya sedang mencoba bersyukur
menjadi orang Jawa. Kalo kita dilahirkan jadi kambing, ya kita harus mensyukuri
jadi kambing. Jangan kepengin jadi burung yang bisa terbang. Karena terbangnya
tidak mungkin kesampaian, dan hidupmu tidak nikmat karena tidak bersyukur
menjadi kambing.


0 komentar