• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

Picture : quotesgram.com

Saya mempunyai teman yang sering sekali berselisih paham dengan teman sendiri dan berujung perkelahian. Sebut saja namanya Terran. Terran adalah tipe orang yang bicaranya blak-blakan dan cenderung sering tidak terkontrol, tidak tepat waktu, dan tidak pada tempatnya. Karena hal itu, Terran sering “diadili” oleh teman-temannya sendiri gara-gara omongannya itu.

Bentuk “pengadilan”nya pun macam-macam. Waktu SMA, Terran pernah dikelilingi “preman-preman” sekolahnya dan satu per satu memukul Terran gara-gara mereka berselisih paham. Sayangnya Terran termasuk orang yang sama sekali tidak jago berkelahi. Jadi Ketika dipukul, Terran banyak sekali menangkis. Dengan pipi tentunya.

Waktu Terran SMP, dia pernah cerita kalo dia pernah dibentak-bentak oleh temannya sendiri karena omongannya yang cukup menyakitkan temannya. Waktu SMA pula, dia juga pernah hampir baku hantam dengan adik kelasnya.

Tapi, ada satu peristiwa yang menurut Terran tidak akan terlupakan. Dia pernah dipukul teman sendiri karena kesalah pahaman. Lagi-lagi itu terjadi karena mulut Terran yang kurang terkontrol. Waktu itu mulut Terrran sampai berdarah karena dipukul, dan bibirnya sampai bengkak. Kayaknya Angelina Jolie bibirnya seksi gitu karena dipukul temannya juga deh.

Kenapa menurut Terran peristiwa itu tidak bisa terlupakan? Karena menurut Terran yang memukul itu termasuk teman yang cukup dekat dan sering sekali berinteraksi untuk melakukan kegiatan Bersama di sekolah. Dan menurut Terran juga, peristiwa pemukulan itu seharusnya ngga perlu terjadi karena itu hanya kesalah pahaman kecil yang bisa dibicarakan. dan yang jelas Terran harus sampai terluka dan berdarah. Menurutnya baru peristiwa pemukulan itu yang benar-benar menimbulkan luka. Tidak hanya luka fisik, namun luka batin yang lebih parah.

Tapi, yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan soal pukul memukul itu. Ini tentang Terran dan hatinya yang begitu ikhlas hingga akan banyak cerita unik yang menyeret orang-orang yang pernah berselisih paham dengan Terran. Dan hal itu terjadi bertahun-tahun setelahnya.

Sebagai teman yang cukup dekat dengan Terran, saya tahu betul bahwa sebenarnya Terran adalah orang yang ngga pernah macam-macam. Boro-boro berkelahi. Wong dia pernah cerita, membayangkan berkelahi aja dia sudah merasa sakit.

Peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan tadi sebenarnya adalah karena kesalah pahaman saja antara Terran dan teman-temannya. Saya tahu betul, Terran adalah orang yang spontan. Kata-kata yang diucapkannya jujur dari dalam hatinya. Sayangnya, memang kata-kata itu kadang keluar di saat yang tidak tepat sehingga sering menimbulkan perselisihan. Tapi saya tahu Terran tidak bermaksud untuk melukai hati teman-temannya. Apalagi untuk alasan berkelahi. Tidak mungkin. Nonton sinetron aja dia nangis.

Tapi yang paling membuat aku kagum adalah sikap Terran dalam menghadapi itu semua. Dia benar-benar ikhlas, tidak dendam, dan tidak ingin melakukan apapun setelahnya. Dia juga jarang sekali berfikir “Biar Tuhan yang membalas”. Let it flow saja terus seperti itu. Hingga bertahun-tahun setelahnya, ada beberapa peristiwa unik yang mengaitkan Terran dengan orang-orang yang pernah “berkelahi” dengan dia.

10 Tahun berlalu, Terran masih berkomunikasi intens dengan saya. Terran sekarang mempunyai istri yang berdagang online. Tahu ngga? Langganan utamanya adalah istri dari salah satu orang yang berkeliling memukul Terran yang sebelumnya saya ceritakan. Padahal rumahnya jauh dan sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, tidak ada komunikasi dan memang bukan siapa-siapa.

Yang lebih epic lagi, Tadi saya becerita bahwa ada satu peristiwa yang benar-benar tidak bisa Terran lupakan. BTW si pemukul Terran sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Terran baru tahu karena istri Terran baru cerita belum lama ini.

Suatu hari istri dari si pemukul Terran pernah menghubungi istri Terran bermaksud meminjam uang untuk beli susu anaknya karena susu anaknya habis dan si pemukul Terran belum gajian. Sekali lagi, padahal dia bukan siapa-siapa, tempat tinggalnya sangat jauh, kenal pun  hanya sebatas kenal. Oh My God. Allahu Akbar. Sempit sekali dunia ini.

Apa makna dari semua itu? Sepertinya kita harus belajar banyak dari Terran bagaimana untuk bersikap ikhlas dalam menjalani kehidupan. Karena ternyata ada banyak sentilan-sentilan mesra dari Allah kalau kita bersikap ikhlas. Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Bahkan kata-kata “Biar Allah yang membalas” saja, itu sudah menggambarkan ketidak ikhlaskan.

Ternyata dengan bersikap ikhlas, akan ada banyak hikmah dan makna yang bisa kita jadikan alasan untuk selalu tersenyum menghadapi kehidupan. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang benar-benar ikhlas sehingga bila kita merasa disakiti orang lain, bukan kita lagi yang akan membalasnya, tapi Tuhan. Dan balasan Tuhan jelas jauh lebih indah dari apapun.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


01-01-2020 - SAHABAT PENA KITA

(Picture :sahabatpenakita.id ) 

Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.

Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang  terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D

Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.

Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”

Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.

Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”

Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.

Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.

Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.

Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.

Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu.  Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.

Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.

2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.

Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.

Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.

2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.

Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas  segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir. 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

31 tahun yang lalu, Aku terlahir di keluarga yang cukup berada di kampungku. Ibuku pedagang ulung. Bapakku pekerja keras. Dikala anak-anak di kampungku masih bermain mobil-mobilan dari tanah liat, aku sudah bermain dengan mobil-mobilan yang dibeli dari pasar. Punya 2 peliharaan sapi juga menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi keluargaku cukup mapan, dimana kala itu punya peliharaan sapi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi di kampungku. Belum lagi lumbung padi dan jagung milik ibuku yang selalu terisi penuh karena pada saat itu masih banyak warga yang membeli keperluan rumah tangga di warung milik ibuku dengan system barter.

11 atau 12 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD, keadaan berbalik 180 derajat. Orang tuaku bercerai. Aku dan ibuku menumpang hidup di rumah uwa. Bapakku sementara masih memakai rumah lama yang dulu kita tinggali. Karena satu dan lain hal, Bapakku akhirnya meninggalkan rumah itu juga dan aku ngga begitu tahu dimana Bapakku tinggal setelahnya karena memang setelah kejadian perceraian itu, aku menjadi jauh dengan Bapakku.

Karena satu dan lain hal pula, satu tahun setelahnya aku tidak tinggal lagi dengan uwa. Aku menumpang hidup di rumah nenek. Sebenarnya bukan nenek kandung. Beliau hanya seseorang di kampungku yang sejak kecil merawat kakak perempuanku karena dari pernikahannya, Beliau tidak dikaruniai satu orang anak pun. Aku biasa memanggilnya Mbok Hadi. Memang sejak dulu sewaktu Bapak ibuku belum bercerai, Mbok Hadi sudah aku anggap keluarga sendiri.

Karena berbagai alasan, setelah aku lulus SD, aku tak bisa melanjutkan sekolah. 2 tahun aku merantau di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Majalengka. Aku menjadi tukang bersih-bersih rumah dan kantor sekaligus merangkap menjadi tukang rawat hewan-hewan peliharaan majikanku waktu itu.

Sedang asyik bekerja, bunyi telefon kantor berdering yang ternyata ibuku menelfon dari kampung, yang memintaku untuk pulang dan melanjutkan sekolah. Usut punya usut ternyata ada program beasiswa gratis full 3 tahun sampai lulus bahkan masih dibelikan perlengkapan sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Alhamdulillah 3 tahun di SMP berjalan lancar dan cukup menyenangkan. Walaupun setiap hari aku harus berjalan kaki kurang lebih 5 KM, dan sepulang sekolah masih harus mencari makanan kambing milik Mbok Hadi. 3 tahun berlalu, menjadi lulusan terbaik di SMP kala itu menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku, yang juga mengantarkan aku bisa melanjutkan ke sebuah SMA Negeri yang memberikan beasiswa gratis selama satu semester bagi lulusan terbaik.

Karena keadaan ekonomi, 3 tahun aku “menumpang” hidup di rumah salah seorang yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Sebut saja pak Hari. Jadi ceritanya, berpuluh-puluh tahun sudah Bapakku berkerja dengan pak Hari. Melihat potensiku yang cukup besar, pak Hari tak mau aku hanya sampai di SMP. Sehingga Beliau dengan suka rela membiarkan aku hidup di rumah beliau selama aku sekolah di SMA supaya pendidikanku tetap lancar. Karena memang Bapakku sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Pak Hari.

3 tahun berlalu, aku menjadi lulusan terbaik jurusan IPA di SMAku. Itu pula yang mengantarkan aku meraih bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun terseok-seok, akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu sesuai yang ditetapkan pemerintah kepada kami mahasiswa berbeasiswa.

Lulus kuliah, tak lantas membuat aku menemukan pekerjaan seperti yang aku pikirkan. Beberapa bulan aku masih menganggur. Hanya beberapa pekerjaan serabutan saja yang aku kerjakan untuk mengisi hari-hariku.

Akhirnya, di tengah keputusasaanku yang tak kunjung mendapat pekerjaan, aku teringat kakak perempuanku yang ada di Samarinda. Ku telfon dia dan gayung bersambut. Kakakku punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya dengan bekal seadanya, berangkatlah aku ke Samarinda yang menjadi pengalamanku pertama kali keluar pulau Jawa dan pertama kali pula naik pesawat terbang.

Sampai disana, bekerjalah aku di sebuah minimarket yang cabangnya menyebar secara sporadic diseluruh nusantara. Sebut saja Indomaret. Lebih kurang 2 tahun aku bekerja di perusahaan yang ternyata kalo di toko ada barang yang hilang, maka anak tokolah yang harus dipotong gajinya senilai barang yang hilang tersebut. Sialnya, pertama kali aku menjadi kepala toko, ternyata kasirnya lihai sekali mencuri barang. Nasib badan.

Satu tahun berlalu, tiba saatnya aku menikahi gadis yang sangat aku sayang. Ambil cuti kurang lebih 10 hari, lalu berlangsunglah pernikahan itu dengan lancar. H+4 setelah pernikahan, aku Kembali berangkat ke Samarinda dengan sudah ditemani istri tercinta.

8 bulan setelahnya istriku hamil dan keluarga di Jawa menghendaki agar istriku melahirkan di Jawa. Akhirnya di usia kehamilan ke 7 bulan, istriku pulang ke Jawa, sementara aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dulu di Samarinda.

Selang 1 bulan setelah anakku lahir, aku memutuskan resign dan pulang Kembali ke Jawa. Kira-kira 2 atau 3 bulan setelah resign, kembalilah aku menjadi pengangguran. Sedangkan susu dan popok bayi terus saja habis. Nasib badan.

Akhirnya aku mencoba peruntungan mendaftar menjadi perangkat desa dan diterimalah aku menjadi Kepala Urusan Keuangan. Yang dengan itu perekonomian keluargaku mulai membaik. Meskipun belum bisa dikatakan memadai.

2 tahun berlalu, pemerintah membuka lowongan CPNS, dan diterimalah aku di Kementerian Agama, menjadi seorang Guru di sebuah MTs Negeri. Setelah SK CPNS diterima di tangan, ternyata aku di tempatkan di sebuah MTs Negeri di Kebumen, perbatasan Cilacap dan Banyumas. MTs Negeri Rowokele atau MTs Negeri 4 Kebumen.

“Jalan hidup kita yang merencanakan. Tuhan yang tentukan.”

“Dream it. Make it”

 (hehehe bisa juga aku nulis ngga ada guyonnya).

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Selain karena sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang sudah tamat, nampaknya aku harus bersyukur karena sejak tanggal 18 Januari kemarin, aku resmi menjadi seorang ayah. Tapi tahukah kalian bahwa dengan berakhirnya sinetron yang aku sebutkan tadi, berakhir juga prahara-prahara rumah tangga yang terjadi karena perebutan remot tivi antara anak dan orang tua? Ini sinetron emang gila. Kalo diibaratkan sempak, ini adalah sempak yang bener-bener sudah bolong-bolong yang wajib untuk dibuang. Bikin muak, asem, kecut, kendor, dan tentu saja bolong. Bayangin aja, Cinta Fitri yang episodenya 1000 lebih, menghabiskan 7 season. Tukang bubur naik haji, 2000 episode lebih ngga pake season2an. Halah malah ngelantur ngomongin Tukang Bubur.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Akhir 2018 menjadi tonggak sejarah baru dalam hidupku. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, aku lolos tes CPNS tahun 2018. Ini adalah kali pertama aku mendaftar dan Alhamdulillah Allah langsung mengijinkan aku lolos. Sebuah anugerah yang tiada terkira. Mengingat, ada ribuan bahkan jutaan orang yang berkali-kali mendaftar CPNS dan selalu gagal.


Aku bukan sedang menyombongkan diri. Aku mah apa atuh? dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan yang maha luas, aku mah cuma butiran debu yang jatuh dan tak bisa bangkit lagi. Aku cuma lagi pengin sharing. Siapa tahu lewat ceritaku ini, ada sedikit inspirasi yang bisa kita jadiin pelajaran.


Gimana sih kok aku bisa lolos CPNS? Apa sih rahasia suksesnya? Dan ada cerita apa aja dalam perjalananku menuju CPNS 2018? Kuy lah kita baca sampai habis ceritaku ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM