• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

 “Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.

Begitulah salah satu rangkaian lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya. Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain. “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok malah ngelantur kemana-mana.

Kembali ke topik. Di tulisan saya sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.

Kembali ke Maret 2019, saya mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya. Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang dan harus diambil oleh yang bersangkutan.

Detik mendebarkan itu pun tiba, perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu. Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan ditempatkan.

Setelah SK CPNS berada di tangan, dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85 kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.

Tidak disangka tidak dinyana, bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng.  Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat keputusan mutasi secara simbolis.

Aduh. Jadi deg-degan lagi . Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.

2 hari berlalu, tibalah saatnya penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS, perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah, puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”.

MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.

Bangunannya memang bukan bangunan baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat bagus untuk perkembangan anak didik kita.

Hal lain yang menguatkan bahwa MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.

Itulah cerita bagaimana perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.

Ada fakta menarik di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 😃😃😃

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


01-01-2020 - SAHABAT PENA KITA

(Picture :sahabatpenakita.id ) 

Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.

Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang  terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D

Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.

Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”

Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.

Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”

Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.

Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.

Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.

Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.

Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu.  Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.

Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.

2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.

Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.

Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.

2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.

Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas  segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir. 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa aku pernah cerita kalo dulu selepas SD pernah putus sekolah? iya. Aku yang sekarang ini jadi seorang guru nan tampan rupawan ini dulu pernah putus sekolah. dan putus sekolahnya itu ngga main-main. Lulus SD langsung putus sekolah. Sebuah ironi yang sangat menyakitkan pankreas dan kantung empedu, mengingat di SDku dulu, aku termasuk murid yang pintar. Kenapa kok sampai putus sekolah? Panjang ceritanya. Ngga sepanjang angan-angan saya yang pengin punya Honda HRV Prestige sih. Tapi pokoknya panjang lah ceritanya.

Jadi, sehabis kejadian putus sekolah itu, aku dan satu orang temanku yang sama-sama putus sekolah, merantau ke sebuah kota kecil di Jawa Barat bernama Majalengka. Tunggu tunggu. Kok ada temenku yang putus sekolah juga ya? Apa jangan-jangan putus sekolah sebenernya bukan hal istimewa di desaku? Jangan-jangan putus sekolah jadi sebuah passion buat masyarakat kampung kaya kami? Apa jangan-jangan pemerintah ngga hadir di situ? Ah sudahlah. Kita lanjut cerita aja.

Majalengka sebuah kota kecil di Jawa Barat, menjadi tujuan aku dan kawan aku buat merantau. Majalengka itu, diantara Sumedang, Cirebon, Indramayu, Kuningan. Kalo kalian sudah sampai di ujung Cirebon sebelah wetan, tanya aja sama warga yang lagi duduk-duduk di pinggir jalan. "Pak mau tanya, disini yang namanya Asep sama Ujang dimana?". Kalo jawabannya "Wah Asep sama Ujang ada dimana-mana pak", berarti kalian udah sampai di Majalengka.

Singkat cerita, aku tiba di rumah seorang bos, Distributor besar Jamu Nyonya Meneer. Tahu kan jamu legendaris produksi Ungaran Semarang yang di bungkusnya ada foto ibu-ibu yang tulisannya berdiri sejak 1919? Kalian pernah bayangin ngga, ada ibu-ibu berdiri dari tahun 1919? Gila bener. Laki-laki aja berdirinya paling lama 10 menit. Apa? Kalian bisa berdiri sejam? Kok punyaku bentar doang? Apaan sih?

FYI, perusahaanya sekarang udah pailit. Jadi intinya saya punya bos seorang distributor Jamu Nyonya Meneer yang cukup besar. Armadanya banyak, karyawannya banyak, rumahnya besar, dan peliharaanya banyak. Punya burung. Pasti lah. Kan laki-laki. Masa ngga punya burung? Aduh. kesitu lagi. Maksudku, peliharaannya banyak. Ada burung perkutut, burung kicauan, ayam, ikan, anjingnya macem-macem jenis, bahkan punya peliharaan simpanse sama orang utan. Nah, pekerjaanku salah satunya adalah ngasih makan hewan-hewan yang aku sebutkan tadi. Kecuali perkutut ya. Karena perkututnya bosku itu memang udah dikelola profesional dan punya karyawan kusus yang setiap hari merawat burung. Perkutut.

Pekerjaan pokok lainnya yaitu bersih-bersih rumah. Rumahnya itu gedenya luar biasa. Bukan cuma bangunan rumahnya aja yang gede sih. Tapi areanya itu yang nggilani. Jadi seluruh area rumah bosku itu dipagar tembok tinggi. Karena antara rumah bosku, kantor karyawan jamu, dan area hewan-hewan itu menjadi satu di dalam tembok tinggi itu. Jadi kalo udah mulai bersih-bersih, waktunya lama dan sangat melelahkan jiwa raga. Mana gajiku waktu itu aduh kalo diinget sekarang rasanya menyedihkan. Untung aja semua orang disana baiknya luar biasa. Mungkin karena kasihan juga lihat aku yang begitu polos, kecil, lucu menggemaskan sudah harus bekerja terpisah ratusan kilometer dengan keluarga.

BTW, bosku ada keturunan China Jawa, Nasrani. Jadi di dalam rumahnya ya banyak patung-patung Yesus, Bunda Maria gitu. Mulai dari yang kecil-kecil yang dipajang di lemari-lemari, sampai yang gede banget yang ada di dalam kamar tidur bosku.

Suatu hari aku lagi bersih-bersih ruang keluarga. Di dalam ruang keluarga itu ada lemari cukup besar dan ada patung Yesus dan Bunda Maria di lemari itu. Dasar aku yang memang dari kecil suka pethakilan, ndilalah aku ngga sengaja menjatuhkan patung Yesus dan hancur kira-kira jadi 3 bagian. Gila.Waktu itu takutnya bukan main. Sampai sekarang aja aku masih inget takutnya kaya gimana waktu itu. Untungnya bukan yang gede. Untungnya lagi, ngga ada siapapun disitu waktu itu. Tengok kanan kiri, aman. Aku kumpulin serpihan-serpihan patung Yesus itu, terus aku coba satukan kira-kira kalo dikasih lem Alteco masih bisa nyatu apa ngga. dan ternyata aku lihat kayaknya ngga kentara habis jatuh kalo disatuin pake lem Alteco. dengan secepat kilat aku beli lem yang kalo nempel di kulit sangat menyebalkan jiwa itu. Akhirnya patung Yesus menyatu lagi dan hasilnya juga ternyata lumayan.

Itu bener-bener kejadian yang ngga bakal aku lupain seumur hidup aku. karena waktu itu, kejadian itu adalah kejadian cukup mendebarkan sepanjang umur aku. FYI, aku Muslim yang Insyaallah sedikit paham dan memegang teguh Tauhid agamaku. Sekarang. Tapi waktu itu, waktu masih polos itu, tahun 2003 itu, apa kalian tahu yang paling aku pikirkan dan membuat aku takut? aku takut Yesus marah. :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa,  dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.

Tentu saja aku bingung mau tinggal dimana karena  tidak punya siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga. Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen. Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen, hanya saja beda instansi.

Di kontrakan itulah ide tulisan ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.

Setiap orang yang sudah berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana saja. 

Di setiap ada kesempatan, mereka berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main, yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.

Pun demikian yang terjadi denganku saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku. Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih bias pulang seminggu sekali.

Sebenarnya ini bukan hubungan jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah. 

Walaupun kadang rasa kangen tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku boyong kesini. 

Begitulah sedikit ceritaku mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.  

Kepada semua bapak-bapak hebat pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing. 

 FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM