Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa, dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari.
Berangkatlah saya beserta keluarga besar saya ke Kebumen menggunakan mobil yang saya pinjam dari kolega saya. Ada istri, 2 anak saya, Ibu mertua saya, dan Bapak Ibu saya. Tidak lupa berbagai perlengkapan hidup seperti makanan, baju-baju anak, mainan, lemari pakian anak-anak, tempat tidur, panci, kulkas, meja makan, kipas angin, wajan, tempat sampah, tempat mandi, tempat parkir, tromol ninja, knalpot supra, dan tetek bengeknya yang hampir menuhin satu mobil.
Yang tidak saya pikir panjang adalah, anak saya yang pertama baru saja berumur 3 tahun kurang seminggu. Anak kedua saya baru berumur 3 bulan lebih 10 hari. dan kenapa saya berani memboyong istri dan anak saya adalah, karena saya hanya berfikir bahagianya saja. Saya tidak berfikir bagaimana repotnya istri saya mengurus kedua anak kami tanpa bantuan siapapun. Belum lagi urusan beres-beres rumah, umbah-umbah baju, dan kerjaan rumah lainnya. Apalagi kalo hasrat berreproduksi ini lagi tinggi. Waduh kasihan istri saya. Belum lagi urusan masak memasak. Karena saya ini manusia tampan yang tidak bisa memasak sama sekali . Terakhir kali saya coba memasak, masih mending rasa upil saya daripada masakan saya.
Yang saya dan istri saya takutkan akhirnya terjadi. Setelah pindahan itu, tiba-tiba saya drop. Badan sakit, kepala puyeng, panas tapi dingin, dingin tapi panas, mual, muntah, berak, kencing, berak campur kencing, kencing campur berak, kadas, kurap, kutu air, dan penyakit kulit lainnya. Kurang lebih tiga hari saya tergeletak tampan tak berdaya menahan sakit. Tetapi, ada satu tugas yang harus saya selesaikan mengakhiri rangkaian pindahan keluarga kami. Jadi, setelah Ibu dan Bapak saya pulang kembali ke Banjarnegara, Ibu mertua saya ditinggal di Kebumen untuk sementara menemani kami yang baru pindahan. Itung-itung santai sembari membantu kami menata barang-barang bawaan kami dari Banjarnegara. dan dalam keadaan saya yang masih tergeletak tak berdaya, saya harus mengantar ibu mertua pulang ke Banjarnegara. Dengan keadaan masih lemah dan puyeng kepala, akhirnya saya antarkan Ibu mertua ke Banjarnegara.
Tapi bukan itu yang paling ditakutkan istri saya. sehari setelah saya sehat, anak saya yang besar, tiba-tiba ikut-ikutan drop. Bahkan dengan panas badan yang jauh melebihi diatas panas tubuh saya. Kalo panas badan saya sampai segitu, pasti saya sudah merintih, mengigau, ngelantur pengin kawin lagi. Saya kalo panas memang suka aneh-aneh. Untung saja anak saya bukan seperti bapaknya. Pernah suatu ketika dia panas sampai 40 derajat lebih. Tetapi masih sangat tegar dan tidak kejang. Dokter saja sampai heran.
Pokoknya bisa dibayangkan bagaimana repotnya kami, terutama istri saya. Hidup hanya berdua tanpa sanak family, dengan momongan yang masih kecil kecil, dan lagi sakit. Hari pertama, kami cuma berusaha memberikan obat yang kami beli di apotik. Tapi di hari kedua, panas anak saya tak kunjung turun. Hanya beberapa saat saja panasnya bisa turun setelah diberikan obat. akhirnya kami memutuskan membawa si Mba ke klinik terdekat. Kenapa ngga yang jauh? Ya ngapain ke tempat yang jauh kalo ada yang dekat? apa sih?
Sore hari di hari kedua, panas anak saya tak kunjung turun. bahkan lebih panas lagi. akhirnya kami memutuskan untuk membawa kembali anak saya ke klinik untuk diopname.
"Dok, anak saya sudah kesini tadi pagi, tapi sampai sekarang panasnya belum turun. Saya pengin anak saya diopname saja dok", kata saya.
"Oke dengan Bapak siapa, dimana?", tanya pak Dokter.
"Saya Kasum pak, dari Banjarnegara", jawab saya.
"Passwordnya apa pak Kasum?", tanya pak Dokter.
"Kopi nikmat nyaman di lambung", jawab saya.
"Betul sekali Bapak Kasum, bapak pake BPJS ngga? Kelas berapa?", tanya dokter.
"yang PNS dok. Kelas 1", jawab saya.
"Oke sebentar saya cek kamar dulu ya pak", jawab dokter yang sejurus kemudian datang setelah mengecek kamar.
"Maaf pak, untuk kelas 1 kamar sudah habis. Kalau Bapak mau, ada yang untuk kelas 3. Tapi satu kamar 3 pasien. Atau saya sarankan bapak Ke Rumah Sakit Purbowangi, kurang lebih 10 KM dari sini. Disana kelas 1nya mantap, ada spesialis anak juga. Monggo, pilihan ada di njenengan. Mau lanjut atau pass? Kalau lanjut Bapak Berkesempatan mendapatkan 10 juta rupiah, kalo pass Bapak berarti puas dengan 5 juta saja. atau saya kasih pilihan lain? Mau pass atau pilih tirai 3?".
Celotehan pak dokter semakin membuat saya bingung. Untung saja panas anak saya semakin turun dan tidak naik lagi. dan Alhamdulillah setelah ke klinik kedua kalinya tadi, anak saya tidak panas lagi dan sembuh seperti sedia kala tanpa harus diopname di klinik terdekat, maupun di RS Purbowangi.
Tapi masalah tidak cukup sampai disitu. Setelah anak saya sembuh, dia jadi sering termenung. Tidak ceria, dan sering sekali uring-uringan. Tentu saja saya beserta istri sangat khawatir. Karena kami sangat tahu tabiat anak kami yang sangat aktif dan sangat ceria. jadi melihat anak saya yang sering melamun, kami tahu pasti ada yang tidak beres. usut punya usut, anak saya merasa kurang betah tinggal di Kebumen dan memang dia sering sekali minta pulang ke Banjarnegara. dan itu terus berlangsung sampai sekarang.
Akhirnya saya sadar, memang anak seusia itu pasti punya perasaan yang dipendam tapi belum bisa mengungkapkan. Belum punya teman di Kebumen, rumah baru yang sempit, cuaca yang sangat berbeda dengan di Banjarnegara, ayah yang sibuk bekerja, ibu yang kerepotan mengurus si Ade, kangen kakek dan neneknya di Banjarnegara, dan banyak faktor lain yang membuat dia tidak nyaman. Kalaulah dia sudah besar pasti dia akan mengatakan itu semuanya.
Akhirnya setelah melalui diskusi panjang dengan berbagai pihak, dengan berat hati demi kebahagiaan semua, saya putuskan untuk memboyong kembali anak-anak beserta istri kembali ke Banjarnegara. Memang keputusan yang berat tapi saya tak akan egois hanya demi kebahagiaan saya sendiri yang mengorbankan banyak kebahagiaan orang lain. Lagian buat apa anak disini tapi selalu sedih dan tidak ceria? itu justru membuat saya tersiksa. dan suatu saat kita akan hidup bersama. Tetapi saya sadar, dengan berbagai alasan tadi, sepertinya waktunya memang belum sekarang.
Atau ada yang punya saran lain? yang lebih efektif mengatasi anak saya yang tidak ceria? Selain menghadirkan Kidz Zone di Depo Pelita ke rumah saya?


0 komentar