Nama Anak Kedua saya Nigeria Merdekawati?
Rasanya memang hanya rasa syukur kepada Allah yang patut saya ungkapkan ketika saya mengingat nikmat-nikmat yang Allah limpahkan di tahun-tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, setelah anak pertama saya berumur kurang lebih 2,5 tahun, saya dipercaya kembali oleh Allah untuk punya anak lagi. Tidak seperti anak pertama yang direncanakan penuh perhitungan, anak kedua ini sama sekali tidak direncanakan. Tiba-tiba saja istri saya telat satu minggu dan ketika ditest -dengan test pack tentunya- ada 2 garis merah di test pack tersebut.
Saya saja sampai bingung itu anak hasil dari proses reproduksi yang mana. Hehehe. Tentu kami senang bercampur kaget juga. Karena memang kami tidak menyangka akan segampang itu untuk punya anak lagi. Mengingat di anak pertama kami, kami harus berjuang -You know perjuangan yang seperti apa untuk bisa punya anak :D - dan menunggu sampai 8 bulan.
Saya saja sampai bingung itu anak hasil dari proses reproduksi yang mana. Hehehe. Tentu kami senang bercampur kaget juga. Karena memang kami tidak menyangka akan segampang itu untuk punya anak lagi. Mengingat di anak pertama kami, kami harus berjuang -You know perjuangan yang seperti apa untuk bisa punya anak :D - dan menunggu sampai 8 bulan.
Tapi ada satu kesamaan antara anak pertama dan kedua. Ketika mereka lahir ke dunia, saya tidak ada di samping mereka. Waktu lahir anak pertama, posisi saya masih nungging. Eh salah. Maksudnya posisi saya masih di Samarinda. Waktu itu saya masih harus berjuang mencari uang untuk biaya lahiran anak saya. Jadi, saya dan istri harus saling pengertian bahwa untuk mendapatkan sesuatu kadang kita memang harus mengorbankan sesuatu. Walaupun hasil dari merantau itu tidak bisa mengcover semuanya, setidaknya saya bisa sedikit mengurangi pedasnya omongan tetangga. "Kae delengna nggon lahirane anake pak Kasum. Masa pas aku tilik bayi maring ngana, suguhane mung banyu putih? Emange aku kenang diabetes apa? Masa ora ana teh gelas acan?". Hiiiiii omongan tetangga emang lebih pedas dari ditempeleng sendal swallow guys.
Sama dengan anak pertama, ketika anak kedua saya lahir, posisi saya ada di Semarang sedang mengikuti tugas negara yang tak bisa ditinggalkan. Lagi-lagi, saya dan istri harus bersabar dan menyadari bahwa kadang harapan memang tak selalu sesuai dengan kenyataan, layaknya jomblo yang selalu di-PHP-kan gebetannya.
Anak saya lahir tanggal 1 Oktober 2019 bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila. Bertepatan pula dengan saya sedang mengikuti Latihan Dasar (Latsar) CPNS. Jadi, teman-teman saya di Semarang waktu itu sudah heboh bercanda-canda untuk memberikan nama ke anak saya.
"Pak, dijenengi Pancasilawati wae", celetuk teman saya.
"Ora. Mending Pancasila Saktiwati wae", celetuk teman yang lain.
"Iki bae pak. Pancasila Latsarina. Pas banget momenne", celetuk teman yang lain lagi yang hanya saya sambut dengan senyuman karena sebenarnya saya dan istri sudah mempersiapkan nama untuk anak kedua kami.
Saya adalah orang Jawa tulen. Saya adalah orang yang sangat menyukai budaya Jawa. Karena saya merasa tidak ada budaya di belahan dunia manapun sekaya budaya Jawa. Termasuk untuk penamaan anak saya. Saya ingin menamai anak saya dengan sesuatu yang berbau Jawa. lebih tepatnya Sansekerta. Seperti nama anak pertama saya, -Aishwarya Divya Lituhayu-, anak kedua saya pun akan saya namai dengan sesuatu yang berbau Jawa juga. Setelah melalui diskusi yang panjang dan melelahkan akhirnya terpilihlah satu nama,
"KINANTHI GAURI WIDYAISWARA".
Kinanthi. Diambil dari salah satu tembang Jawa Mocopat. Tembang kinanthi berwatak gembira, mesra, dan asih yang artinya adalah bahagia, mesra, serta rasa cinta. dengan harapan anak saya selalu menjadi orang yang penuh asih dan cinta kepada sesama.
Gauri. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna. Ini adalah nama pemberian dari istri saya yang bahkan saya tidak bisa mengganggu gugat.
Widyaiswara. Kalau Gauri itu dari istri saya, Widyaiswara itu dari saya. Ini pun tidak bisa diganggu gugat. Karena waktu itu istri saya sempat protes karena nama Widya itu kan sudah dimana-mana. Tapi saya tetap mempertahankan nama Widyaiswara karena ini berkaitan dengan momen hidup.
Kalo diartikan secara harfiah Widyaiswara artinya pembawa kebenaran (atau suara yang baik, dari kata widya=baik, dan iswara=suara). Tetapi sebenarnya, berdasarkan KBBI, Widyaiswara adalah jabatan fungsional yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil dengan
tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit
pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah. Saya juga baru tahu kalo gurunya guru namanya Widyaiswara. dan jabatan itu memang benar-benar ada. dan saya baru tahu itu waktu saya Latsar. Jadi, bukan karena saya ingin anak saya jadi Widyaiswara -walaupun kalo jadi ya alhamdulillah- tetapi lebih kepada momen hidup saja.
So, itulah sedikit cerita tentang nama anak kedua saya. Semoga anak-anak saya bisa hidup dengan sangat baik, sebaik nama-nama mereka.
Belakangan saya baru tahu kalo di hari yang sama di tahun 1960, Nigeria merdeka dari Britania Raya. Masa nama anak saya Nigeria Merdekawati?


0 komentar