• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 
Dieng, 6 Juli 2020. Hasrat pengin naik gunung udah ngga bisa ditahan. Ditambah beberapa hari lagi udah harus masuk kantor karena liburan udah hampir usai. padahal cuaca lagi ngga menentu banget. Tapi karena mungkin timingnya pas banget, akhirnya berangkatlah aku, berdua saja sama keponakanku. Tadinya mau berempat sama temen yang udah biasa muncak bareng, tapi susah banget koordinasinya. Iya. Kaya pemerintah Indonesia ngadepin Covid. 

Akhirnya dibarengi dengan semangat 69, berangkatlah pagi-pagi sekali kita berdua langsung menuju Dieng. Tapi sebelum itu kita harus buat surat sehat dulu. Karena memang surat sehat menjadi salah satu syarat wajib dikarenakan masih dalam masa pandemi Covid 19. Akhirnya berangkatlah kita ke Puskesmas Karangkobar. Sayang sekali ternyata di Puskesmas Karangkobar, untuk meminta surat sehat, kita harus minta surat pengantar dari desa dulu. Tak mau ribet, karena aku lihat beberapa pendaki membuat surat sehat di Dieng dan ngga perlu ke Desa, akhirnya kita berdua sepakat langsung berangkat saja dan bikin surat sehat di Puskesmas Dieng.

Dengan cara saksama dan dalam tempo yang lumayan lambat, karena kita cuma naik Honda Beat, maka sampailah kita di Puskesmas tertinggi di Pulau Jawa, Batur 2. Kalo ngga salah kita berdua bayar 33 ribu saja untuk mengurus surat sehat. 

Setelah selesai, langsung saja kita menuju Basecamp Dieng. Kenapa ngga lewat Patak Banteng saja biar lebih mainstream? Karena basecamp lain baru mau dibuka tanggal 10 Juli. Sekalian mencoba jalur lainnya. Karena ini pendakian keduaku di gunung Prau. Patak Banteng udah pernah. 

Sampailah kita di Basecamp Gunung Prau Via Dieng. Cukup bersih dan fasilitas juga cukup memadai. Di sekeliling banyak warung-warung penyedia isi perut dan juga beberapa perlengkapan pendakian kaya kupluk, buff, syal, sarung tangan, dan sarung tinju. Toilet dan mushola juga disediakan oleh pihak basecamp. selain itu, kalau perlengkapan pendakian kita ternyata kurang, atau tertinggal, pihak basecamp juga menyewakan berbagai macam alat pendakian. 

Singkat cerita, ternyata sebelum memulai pendakian, kita akan melewati tahap checking perlengkapan. sebenernya proses checkingnya sih cepet. Tapi antri nunggunya itu yang nggilani. Aku sama ponakanku itu sampai basecamp jam 9 pagi dan kita baru dipanggil sekitar jam setengah 12 siang. 

Akhirnya selesai juga kita checking, dan bersiap melakukan petualangan sesungguhnya. Setelah shalat Dhuhur bareng pendaki-pendaki lain, berangkatlah kita ke Gunung Prau. 

Dari basecamp sampai sekitar 100 meter, jalan masih didominasi perkebunan warga dan cukup landai. dan memang jalur Dieng ini sepanjang track ada banyak bonusnya. Memasuki hutan gunung Prau, kabut tebal terus mengiringi perjalanan kami. 

Setelah kurang lebih setengah perjalanan, barulah "petaka" sesungguhnya dimulai.  Hujan turun begitu derasnya. Karena prepare kita bagus dan lengkap, langsung kita pakai mantel masing-masing dan berharap semoga hujan cepat selesai. Tapi, hujan turun semakin nggilani, dan sesekali guntur menyambar-nyambar. Beberapa kali pula aku tanya ke ponakanku, apakah mau lanjut atau tidak. Aku tawarkan kalo mau lanjut, ayo. Kalo mau turun aja, ayo. Tapi berkali-kali pula ponakanku dengan yakin menjawab lanjut. Karena memang ini pendakian pertama dia. Jadi mungkin dia pengin dapet pengalaman sampai puncak gunung itu kaya gimana. Sebenernya ada rasa kasian juga sama ponakanku ini. Baru pertama kali naik gunung udah dapet cuaca yang seekstrem ini. 

Tapi "petaka" ngga cuma sampai disitu. Ternyata mantel yang dipakai ponakanku itu rembesnya parah. Jadi sepanjang perjalanan, ponakanku sekujur badan udah basah kuyup. dan dia ngga bawa celana cadangan. Cuma bawa cadanga baju aja. Tapi ya udah lah ya. Kita lanjutkan saja dengan harapan semoga cuaca kembali cerah. Jam 3 tepat, sampailah kita di puncak gunung Prau. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit. 

Dengan diiringi hujan yang luar biasa, langsung kita dirikan tenda dengan ala kadarnya karena berpacu dengan derasnya hujan. Akhirnya tenda berdiri dan kita langsung memasuki tenda. Sebenernya ada beberapa titik yang belum pas di sudut-sudut tenda. Tapi karena keadaan sudah ngga memungkinkan untuk kita benerin, ya udah kita biarkan saja. 

Ternyata, ketidak beresan dalam mendirikan tenda, ternyata menjadi sumber "petaka" selanjutnya. Setelah makan, ngopi-ngopi dan rokokan, kira-kira jam 6 sore sehabis maghrib, tenda rembes sampai ke dalam karena layer tenda yang diluar, tidak terpasang dengan sempurna. Akhirnya ponakanku yang tidur lelap sehabis makan, aku bangunin. "Pilihannya cuma 2. Tetap disini berharap hujan berhenti, tapi kalo ngga berhenti resiko hypotermia, atau entah bagaimana caranya kita bongkar tenda, kita nekat turun di kondisi malam", kataku ke ponakanku.

Kebingungan dong ponakanku ditawari kaya gitu. Dia cuma ngomong "Aduh nek mudun wis pol ademe, tapi nek ning kene terus ya medeni. wong iki teles wis tekan ngkene-ngkene", kata ponakanku sambil menunjuk-nunjuk sleeping bagnya yang udah mulai terkena tetesan air. "Tapi ana PR maning. Iki nek nekat mudun, headlamp nek sampe kena banyu, bisa konslet. Bahaya banget nek mati ning dalan. Lah mung headlamp iki tok sumber cahayane. Lah iki cuaca agi pol ekstrem je", kataku lagi. 

Setelah berpikir berulang-ulang, kita mengambil keputusan yang cukup berani untuk turun di malam hari dengan cuaca yang begitu ekstrem. PR soal headlamp itu, akhirnya kita menemukan cara dengan memotong Botol air mineral dan memasukkan headlam itu ke botol air mineral itu, dan menjaga lubang botol tetap di bawah jadi headlamp aman. Tapi ada rasa gentar juga sih sebenernya. Soalnya seumur-umur aku naik gunung, belum pernah aku turun gunung malam hari dengan cuaca ekstrem kaya gini. Tapi mau gimana lagi, dari pada ambil resiko yang lebih besar, hypotermia. Musuh sejuta pendaki. 

Akhirnya diputuskan. untuk menjaga ponakanku tetap hangat, mantelku yang bagus, dipakai ponakanku. Juga celanaku yang masih cukup kering. Jadi, selama perjalanan nanti, yang aku pakai di sekujur badan itu basah. dan mantel yang aku pakai juga rembes. Jangan dibayangkan kaya apa dinginnya. Bahkan dinginnya sikap gebetan, belum ada apa-apanya. 

Dibongkarlah tenda dan semua perlengkapannya. Tepat jam 7.30, setelah selesai, lanjut kita turun. Sepanjang perjalanan hujan ngga pernah berhenti sekalipun. Sedikit reda pun ngga. Dan jangan bayangkan kaya apa seremnya berjalan di hutan, gelap gulita, dengan cuaca yang bikin bulu kuduk merinding. Alhamdulillah di beberapa titik kita berpapasan dengan pendaki yang sedang naik ke puncak. dan ekspresi mereka rata-rata keheranan. Kenapa jam segini ada pendaki turun ya? Karena di jam-jam itu memang lazimnya itu pendaki naik. 

Akhirnya setelah melewati seramnya hutan Gunung Prau, dengan beberapa kali terpeleset dan jatuh, sekitar jam 20.30 sampailah kita di basecamp. Mas-mas basecamp keheranan dong. "Loh katanya tadi mau ngecamp? Kok malah jam segini turun?", tanya mas-mas basecamp. "Aduh panjang ceritanya mas. Intinya ada masalah di tenda", jawabku. Setelah bersih-bersih badan, dan membuang sampah di tempat yang telah disediakan, kita menghubungi mas-mas basecamp untuk checkout dan pulang. 

Masih ada PR lagi dong selama perjalanan pulang. Bisa bayangin ngga jam 10 malem perjalanan dari Dieng, dengan baju yang basah? Aduh, Raja Firaun disuruh gitu, dia langsung nyembah Allah pasti.  Ini Dieng loh. Dieng. Setahuku daerah paling bikin tulang ngilu karena sangkin dinginnya ya Dieng. Sekitar 45 menit perjalanan,  Aku langsung muntah-muntah dipinggir jalan. Waduh masuk angin. Akhirnya ponakanku yang ambil alih kemudi. 15 menit kemudian sampailah kita di rumah tercinta disambut raut muka istriku yang keheranan. "Besok deh aku ceritain", kataku. 

Begitulah cerita perjalanan naik gunung Prau Via Dieng yang masih dalam masa pandemi. Besoknya, setelah aku ceritain, istriku tanya dengan nada mengejek. "Gimana? udah kapok naik gunung?",tanya istriku. "Weladalah, tukang mancing ngga selalu harus bawa ikan dong kalo pulang. Sering juga ngga dapet ikan. Kadang yo kepleset pas ning watu. Kadang ya ketemu genderuwo pas ning kali sing angker. Tapi nek wis seneng mancing, ngesuk ya mangkat maning", kataku sambil nyengir dan disambut muka kecut istriku. 

Tahu ngga apa yang paling bikin mbuh? Sepanjang perjalanan pulang dari basecamp ke rumah, langit cerah, bintang-bintang bertaburan, Sindoro Sumbing dan gunung Prau terlihat sangat jelas seakan-akan berkata dengan nada mengejek "Lha kok bali mas?". Arrrrghhhhhhh MBUHHHHHHHHH.




Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
6 Juni 2019. Hari raya Idul Fitri telah tiba. Setelah beberapa hari berkeliling bersilaturahmi dengan keluarga besar, saatnya aku hubungi teman-teman dan handai taulan yang rumahnya tak sempat aku kunjungi. Perlahan, satu persatu kontak dalam handphone aku kirimi chat yang intinya adalah seperti yang biasa kita kirim dan terima pada hari raya. Kata-kata yang sudah seperti template yang selalu kita kirim dan kita terima setiap hari raya Idul fitri. Tapi aku bukan tipe penganut “saat mata tak bisa melihat, saat kaki tak bisa berjalan”, karena insyaallah aku sehat lahir batin. 

Tiba saatnya aku kirimkan permohonan maaf kesalah satu guru aku, teman aku, mentor aku, orang tua aku, sebut saja pak Bambang (Nama sebenarnya). Beliau adalah guru Bahasa Inggris sewaktu aku di SMP. Berkat motivasi-motivasi dari beliaulah, aku mendapatkan salah satu optimisme dalam hidup yang Alhamdulillah  mengantarkan aku menjadi manusia seperti sekarang. FYI, dulu aku memang sejenis Avertebrata. 

Entah bagaimana ceritanya, tanpa sengaja aku chat seperti ini. “Apa ngga ada rencana ke gunung Slamet gitu pak?”. Memang sudah beberapa bulan ini kita sering chating tentang rencana pendakian, yang pada akhirnya hanya menjadi wacana. FYI, pak Bambang ini suka sekali dengan olahraga, termasuk mendaki gunung. Makanya aku sering chating soal rencana pendakian. 

Setelah aku membuka percakapan itu, beliau langsung menyahut “Oke silakan diagendakan mas, aku ada waktu tanggal 9-12”. Baiklah tanpa pikir panjang, langsung aku sahut lagi dong, “Oke berarti langsung saja pak. Kita berangkat besok hari senin tanggal 10”. “OK”, begitulah pak Bambang menjawab.

Aku tahu, tak mungkin lah gunung Slamet sepi. Apalagi ini memang masih suasana lebaran. Ngga penuh sesak aja sudah untung. Tapi aku tidak mau naik satu rombongan hanya dengan pak Bambang. Kurang rame untuk ngobrol. Dan alasan sebenernya sih supaya cariel yang  berat, yang isi tenda dan lain-lain itu bisa dibawa teman. Dan aku pilih yang ringan. Begitulah, pendaki licik seperti saya. Itu sudah menjadi kebiasaan rutin setiap aku mendaki gunung. “Merepotkan orang lain” adalah nama tengahku :D. 

Akhirnya aku ajaklah dua teman dari kampungku yang sudah jelas fisiknya kuat. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya terpilihlah dua temanku. Personil oke, logistik oke, cuaca oke, ternyata masih ada satu masalah. Dompet ngga oke, karena aku lama menganggur dikarenakan SK CPNS yang tak kunjung turun. Karena hal ini pula lah istriku hampir saja tidak mengijinkan pendakianku. Tapi, dengan tekad yang sudah membara, istriku berhasil aku rayu. Karena nyatanya walaupun ini adalah pendakian gunung tertinggi yang pernah aku daki, ini adalah pendakian terhemat yang pernah ada. Sewa peralatan pak Bambang. Bensin temanku yang nanggung. Logistik ngga beli. Mental gratisan gini memang asyik untuk diri sendiri dan menyebalkan untuk teman-teman.

Singkat cerita berangkatlah kita ke Purbalingga untuk kemudian menuju Bambangan, desa terakhir sebelum kita treking. Jalur menuju Bambangan ini lumayan menyebalkan. Kenapa? Dari arah mana saja ngga ada petunjuk arahnya. Akhirnya di tengah kota Purbalingga kita memanfaatkan google Map. Senjata sejuta umat ketika tersesat di kehidupan yang fana. Akhirnya sampailah kita ke Basecamp. Ndilalah pada waktu itu kabut sedang tebal-tebalnya. Sepanjang jalan kita tidak melihat gunung Slamet sama sekali. 

Shalat ashar, mengisi perut, membeli kekurangan logistik, selesai semua. Jam setengah 5 sore kita start treking. Dan trek dari basecamp ke pos 1 adalah trek tergila. Puanjaaaaaaaaang kaya jomblo yang hubungannya diulur-ulur gebetannya. Selain panjang, beberapa ratus meter sebelum pos 1, itu trek nanjaknya nggilani. Itu Firaun kalo lewat trek itu kayaknya bakalan tobat deh. 

Singkat cerita di pos 1 sekitar jam 6 sore. Gelar matras, shalat lah kita. Setelah badan cukup istirahat, lanjutlah kita ke pos 2. Trek dari pos 1 ke pos 2 tidak segila dari basecamp ke pos 1. Memang semakin menanjak tapi tidak sepanjang basecamp-pos 1. Dan ada banyak trek bonus walaupun pendek-pendek. 

FYI, trek Slamet via Bambangan itu jarak antar pos semakin naik semakin pendek. Jadi, yang paling menyiksa memang antara basecamp samapai kurang lebih pos 3. 

Singkat cerita sampailah kita di pos 3. Udara dingin semakin menusuk tulang, dan pak Bambang sudah kelihatan gemetar badannya karena sangkin dinginnya. Aku pikir, wah bisa bahaya kalo diteruskan tanpa pakaian dobel ini pak Bambang. Akhirnya aku sarankan beliau memakai 2 jaket, kaos tangan, dan penutup telinga. Alhamdulillah. Saran diterima, badan pak Bambang ngga lagi gemetaran. Kita lanjutkan bongkar makanan dalam tas karena perut yang semakin lapar. Beberapa pisang kepok rebus, beberapa buah kupat dengan lauk sisa-sisa lebaran langsung ludes kita santap. Dilanjutkan dengan minum kopi terenak sepanjang hayat. FYI, kopi, rokok, dan makanan kalo dimakan di gunung kok rasanya 10 kali lebih nikmat ya? Atau perasaanku saja?

Setelah kenyang, perjalanan kita lanjutkan ke pos 4. Sebuah pos keramat di Gunung Slamet via Bambangan. Sebuah pos yang dilarang mendirikan tenda di pos itu. Sebuah pos yang paling dihindari untuk beristirahat dalam waktu yang lama. Samarantu namanya. Mendengar namanya saja udah agak bikin merinding. Karena konon Samarantu itu berasal dari kata Samar dan Hantu. Serem pokoknya. Lebih serem dari cewek PMS. Kayu-kayunya gede-gede banget. Rimbun banget. Kalo siang, cahaya matahari aja susah masuk. Kata orang yang ngerti sih disitu ada banyak.... ah sudahlah.

Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang berliku, akhirnya kita sampai di pos 7 yang mana dari awal kita pengin ngecamp disitu. Ternyata, pas kita ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Purbalingga, antara pos 7 dan pos 8 itu jaraknya sangat pendek. Bahkan pos 8 bisa dilihat dari pos 7 kalo siang hari. Akhirnya kita berniat melanjutkan perjalanan karena fisik kita yang masih lumayan oke.  Perjalanan kita lanjutkan ke pos 8 dan ternyata di pos 8 memang area campnya ngga begitu luas dan sudah penuh. FYI, waktu kita mendaki itu lagi rame-ramenya. Sepanjang jalan naik turun itu ngga pernah berhenti orang naik dan turun. 

Karena di pos 8 sudah penuh, akhirnya rombonganku dan 1 rombongan dari Purbalingga mencoba mencari tanah yang cukup datar antara pos 8 dan pos 9. Yang mana pos 9 adalah pos terakhir dan batas akhir vegetasi. Alhamdulillah kita nemu tanah yang cukup datar dan luas diantara pos 8 dan pos 9. Tepat jam 12 malam, didirikanlah tenda. Setelah masak-masak dan ngopi-ngopi ganteng, kurang lebih pukul 1 malam, tidurlah kita. 

Jam 4 pagi, 1 orang teman dan pak Bambang langsung summit attack. Aku dan temanku mah santai saja sangkin ngantuknya. Tepat pukul 5 setelah shalat subuh dan ngopi-ngopi ganteng, naiklah aku dan 1 temanku menyusul pak Bambang ke Puncak. Dari pos 9 Pelawangan sampai puncak adalah trek yang nggilani juga. Bener-bener nanjak, licin karena kerikil, belum lagi kalo ada batu yang meluncur dari atas.  Sebuah miniatur Semeru. Akhirnya kurang lebih jam 6 pagi sampai lah aku di puncak tertinggi Jawa Tengah. Slamet, 3428 MDPL. 

Rasa letih, lesu, lelah, lunglai, rasanya langsung hilang melihat keindahan matahari yang perlahan mulai nampak di ufuk timur, dan keindahan alam yang luar biasa karena saat itu cuaca benar-benar cerah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa indah yang memang hanya bisa dilihat dari gunung. 

Setelah puas muter-muter di puncak, kurang lebih jam 7 turunlah kita. Akhirnya jam 2 siang sampailah kita di basecamp. Sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan dan ini adalah perjalanan naik gunung terlama yang pernah aku alami. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM