Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).
kenapa saya cerita soal ternak? karena
saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang
berhubungan dengan ternak.
Watu itu, saya lupa tepatnya
tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya
masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan
dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya
laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya
cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D
kembali ke topik. Saya punya
Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup
banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa
tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan
mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.
Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami
tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin
uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai
Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit.
Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.
Sesudah sarapan pagi yang cukup
siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah
ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat
untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang
terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.
Bagi yang belum tahu, begini
bentuk arit.
Begini bentuk gandhek
Begini bentu tomblok
Singkat cerita, tujuan kami
ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami
menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak
rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.
Singkat cerita, tibalah kami di
tepi kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar
seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang
sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang
artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.
Terjadi perdebatan yang sengit
antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana
atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena
kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras
untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok
bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.
Perdebatan terus berlanjut dalam
waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua
RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua
RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang
Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong
untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.
Untuk menghindari basahnya baju kami,
kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru
kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita
bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami
tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika
menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang
sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber
petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan
arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau
kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus
merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.
Malang tak dapat dibendung,
untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan
kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami
harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau
berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana
burung-burung kami lagi lucu-lucunya.
Akhirnya tercetuslah ide untuk
membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang
lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan
terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap
saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe
maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”
Dan selalu saya jawab “Iseng pak.
Pengin ngerti rasane dadi lemper”.





