• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

“Jangan makan burung emprit. Nanti tua hidupnya pindah-pindah terus”. Begitu mitos yang sering diucapkan orang-orang tua di kampungku. Tapi dari jaman aku kecil ucapan-ucapan ngga masuk akal semacam itu selalu aku bantah. Soalnya dipikir secara logika aja ngga nyampe. Apalagi kalau dikaitkan dengan agama. Bisa menjerumus ke Tatoyur. Mempercayai sesuatu yang terjadi karena sebab-sebab yang ngga masuk akal. “Jangan berdiri di depan pintu. Nanti menghalangi rejeki”. “Jangan nyisain makanan ntar ayamnya mati”. “Jangan berdiri di tengah jalan tol, nanti ditabrak sedan”. “Jangan kritik pemerintah. Nanti ada kang bakso lewat”. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal yang bikin aku semakin ngga percaya kalimat-kalimat ngga masuk akal tadi adalah, dari jaman orok aku ngga pernah makan burung emprit. Tapi hidupku udah kaya burung emprit. Pindah-pindah terus. Dari desa satu ke desa lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, bahkan dari pulau satu ke pulau lain. Mari kita bedah.

Lulus SD, aku udah harus kerja di Majalengka Jawa Barat selama kurang lebih 2 tahun. Ngga dapet apa-apa tuh disitu. Paling yang aku dapet  jadi lancar banget ngomong Bahasa Sunda waktu itu. Bahkan kalo orang Sunda waktu itu ngomong sama aku, dikira aku orang Sunda. Sangkin luwes dan fasehnya. Lulus SD merantau ke Majalengka Jawa Barat 2 tahun.

Karena keadaan keluargaku yang wadidaw sekali, ikutlah aku sama orang yang biayain aku sekolah. Pindah ke desa lain. 3 tahun.

Kuliah ngga aku anggep merantau lah ya. Karena emang harus kuliah di Semarang. Kan ngga mungkin kuliah di kampungku sendiri.  

Habis kuliah akhirnya pertarungan sesungguhnya. Merantaulah ke luar pulau. Samarinda, Kalimantan Timur. 2 tahun. Lumayan tuh disana dapet macem-macem. Dapet uang mahar, dapet biaya lahiran anak pertama, dapet pengalaman sebagai karyawan Indomaret, dapet pengalaman dibentak-bentak manager, dapet banyak lah pokoknya disana.

Sehabis istri melahirkan, resignlah aku. Balik lagi ke kampung halaman. Jadilah perangkat desa. Kurang lebih 2 tahun. Nah pas jadi perangkat desa ini aku juga tinggal pindah-pindah antar kecamatan. Soalnya aku ikut mertua di Karangkobar, tapi perangkat desanya ikut kecamatan kalibening.

2018, ikutlah aku tes CPNS. Diterimalah aku di Kementerian Agama. Ditempatkanlah di Kebumen. 2 tahun kurang lebih.

Kaya ketiban Durian Montong, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dapet surat cinta dari Semarang. Dimutasilah aku Kembali ke Banjarnegara. Tempat baru lagi, ketemu orang-orang baru lagi, adaptasi lagi, dan tetek bengeknya. Tapi aku Bahagia. Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, kota kecil nan menggemaskan ini, adalah harapanku sedari dulu. Walaupun aku udah kerja kemana-mana, Kembali ke Banjarnegara adalah harapan yang selalu tersimpan dalam hati.

Jadi intinya di tulisan ini aku mau bilang, “Jangan makan burung emprit nanti hidupnya pindah-pindah terus”, adalah sebuah kebohongan yang nyata.

Semoga di Banjarnegara ini bisa sampai pensiun lah ya. Capek banget pindah-pindah terus. Kaya hati seorang jomblo yang gonta ganti pasangan namun tak jua menemukan tambatan hatinya.

Hubungannya sama judul? Sangat erat hubungannya.

Di setiap kepindahanku pasti selalu ada “Shit”nya. Banyak banget. Yang pasti, CAPEK. Tapi mau gimana lagi. Wong kita Cuma wayang. mau gimanapun jalan kehidupan kita, ya terserah sang Dalang. Tetap bersyukur adalah kunci dari semua ini. Well, let me say…. EVERY SHIT HAPPEN, BUT …. LIFE MUST GO ON.

Dari rangkuman perjalanan hidupku ini, kayaknya ada sesuatu di balik 2 tahun. Hampir semua perjalanan karirku (cie karir 😀) selalu berpindah setelah 2 tahun. Majalengka 2 tahun, Samarinda 2 tahun, Kebumen 2 tahun. Apakah di Banjarnegara ini akan berpindah lagi setelah 2 tahun? Aku sendiri penasaran. Patut buat aku tunggu.

Oh iya satu lagi inti dari tulisan ini adalah….. Dulu di Samarinda aku sering dibentak-bentak manager. Namanya Pak Wayan. Dari Bali dong. Masa dari Jawa. Kalo dari Jawa namanya Wahyono. 😀

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Mumpung lagi semangat nulis, iseng-iseng aku jelajahi blogku yang sederhana ini. Aku baca-baca lagi tulisan-tulisan lamaku. Kadang senyum, kadang sedih juga. Karena memang blog ini aku buat untuk curhat kehidupan sehari-hari yang pernah aku alami, terutama hal-hal yang aku highlight. Karena aku ini tipe orang yang suka curhat. Suka bercerita. Nah, blog ini salah satu medianya. Sebenernya udah banyak banget tulisan yang pernah aku buat. Tapi ngga semuanya ngumpul di blog ini. Karena dulu aku masih kere, jadi tulisanku masih di platform-platform gratisan. Kemana-mana. Tercecer. Makanya, sangkin kerenya aku ngga mampu beli domain dot com. Dan karena hal itu, aku pernah jadi bahan ejekan temanku yang juga hobi nulis-nulis ngga jelas. Tulisannya bisa dibaca DISINI.

Lagi asyik-asyik scroll tiba-tiba aku cukup kaget lihat arsip tulisan di 2020. Bukan soal tahun 2020nya. Tapi jumlah tulisannya. Aku Cuma bikin 8 tulisan selama 2020. Itu cukup membuat aku terhenyak, kaget, merinding, melamun, sedih, kecewa, dan gundah gulana. Aku sampai harus menenangkan diri di kamar selama seminggu karena kejadian ini.

Yang bikin aku semakin sedih dan kecewa sampai mencakar-cakar muka sendiri, ternyata semakin kesini tulisanku terasa kurang luwes, kaku, dan cenderung ngga tertata. Baik diksi maupun gaya bahasanya. Karena setelah aku baca-baca lagi tulisanku yang ada di platform lain, tulisanku dulu cenderung lebih luwes dan enak dibaca. Dan yang paling penting, lebih lucu.

Bahkan istriku yang cuek, dan cenderung tidak mau membaca tulisan-tulisanku, tiba-tiba menjadi kritikus handal. “Kebanyakan mengulang kata itu”. “Ngga konsisten. Tadi bilang aku, kok jadi saya?”. “Kok ngga ada lucu-lucunya?”, “Kok mukamu ngga kaya Joong Kook?”. Dan kritik-kritik pedas lain yang membuat jiwaku semakin jatuh ke lembah kesedihan.

Dari dulu sebenernya aku sadar. Menulis itu bukan hanya sekedar menulis. Butuh ketekunan dan konsistensi. Karena semakin kita konsisten menulis, tulisan kita dengan sendirinya akan semakin membaik. Dan itu juga yang sering aku dengar dari penulis-penulis terkenal itu. Makanya di tahun 2021 ini ada resolusi sederhana di blog yang sederhana ini. Satu hari satu tulisan. Ini juga pernah jadi resolusi temanku yang aku singgung di awal tadi. Dia ngga tahu kalo sudah punya anak dan istri, boro-boro satu hari satu tulisan. Kadang naikin celana melorot aja ngga sempat gara-gara digandulin anak-anak. Apalagi kalo sudah kepikiran popok habis, susu habis, padahal baru separuh bulan. Aduh boro-boro jadi tulisan. Jadi kasbon iya.

Emang bisa satu hari satu tulisan? Ya ngga tahu. Namanya saja resolusi. Semoga rasa malas-malas yang membuat resolusi tidak terlaksana bisa hilang, berganti dengan konsistensi untuk terus menulis.

“Emang motivasinya apa?”. Ngga ada. Seneng aja rasanya ada sesuatu yang bisa diungkapkan. Karena balik lagi ke awal, aku orangnya suka curhat. Suka cerita ke orang. Makanya isi blog ini ya Cuma cerita-cerita ngga penting tentang hidup aku. Kalo ada yang baca ya syukur. Lebih syukur lagi, kalo yang baca semakin banyak, dan banyak-banyak klik iklan. Adsense. Adsense. Adsense. Uang. Uang. Uang.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa,  dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Di era serba modern ini, aku begitu bersyukur karena bisa merasakan kemudahan-kemudahan yang diakibatkan karena kemajuan teknologi yang ada di masa sekarang. Jaman sekarang pacaran aja bisa online. Suatu saat nanti mungkin bakalan ada hamil online. Tapi jauh sebelum hari ini, mari aku ajak mundur kurang lebih 20 tahun yang lalu.

Sebelum setampan dan semodern sekarang, aku adalah seorang anak kecil garis lucu yang lahir di sebuah dusun kecil di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nama Desaku Kalibombong, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Kalo kalian berusaha cari Desa aku di Google Map, maka kalian seperti berusaha menemukan jarum di tumpukan jerami. Susah. Sangkin susah dan terpencilnya, jalanan ke desaku pada waktu itu benar-benar bikin miris. Pokoknya jangan dibayangkan jalan seperti sekarang. Alih-alih jalan aspal atau minimal jalan berbatu, itu lebih cocok disebut galur kebo. Mobil masuk ke desaku waktu itu seperti mimpi. Satu-satunya mobil yang mau masuk ke desaku adalah mobil yang mau aku ceritakan di paragraph selanjutnya.

Waktu aku kecil sekitar pertengahan 90an, desaku benar-benar masih sangat jauh dari peradaban maju. Mari aku kasih satu contoh. Waktu aku kecil, itu lagi ada Perhutani menebang hutan pinus untuk kemudian ditanami lagi dengan tanaman yang baru. Mobil yang buat angkut kayu pinus itu gede-gede dan suaranya menggelegar bisa terdengar jauh sampai ke pojok dusun. Sangkin gumunnya anak-anak di desaku, begitu mereka mendengar suara mobil-mobil itu, maka anak satu kampung bakalan keluar rumah dan mengejar mobil itu. Kita pikir, “Iki apa gede temen? Bisa ngangkut kayu akeh banget pisan” Dan ngga Cuma sampai situ saja. Kita bakalan berusaha naik ke mobil yang sarat muatan itu. Entah bagaimana caranya. Pokoknya brutal. Sebrutal jomblo melihat gadis seksi di Bigo live. Ada yang sampai benjut luka-luka karena jatuh dari mobil itu. Tapi kita ngga peduli. Yang penting kita bisa naik ke mobil itu. Mungkin pada saat itu sopirnya berfikir, “Ini anak-anak hidup di jaman Megalitikum atau gimana? Kok mereka kampungan sekali?”.

Setelah naik mobil tadi, kapan kita turun dan dimana kita turun? Nah ini lucu lagi. Biasanya kita bakal naik sampai Karangkobar dan turun disana. Jarak Karangkobar sampai ke desa aku itu kurang lebih 8 Km. Lah terus gimana cara kita balik ke desa? JALAN KAKI. Tapi apakah kita kapok dan bersedih? Tidak. Kita akan sangat gembira dan terus melakukan “Kegiatan yang sangat kampungan” itu. Pokoknya pada saat itu ngga ada kegiatan yang lebih membahagiakan kita melebihi itu.

Buset dah itu beneran ada anak-anak yang kaya gitu di tahun 90an? kok udik banget ya? Lah memang udik kok. Dan ini kisah nyata. Lha wong aku salah satu pelakunya kok.

Ngomong-ngomong soal mobil perhutani tadi, kadang ada kejadian yang paling menjengkelkan. Tetanggaku kan dinding rumahnya dari kayu. Dan kalo dindingnya dipukul pake tangan, suaranya itu persis kaya suara mobil Perhutani tadi. Mobil Perhutani tadi, kalo lagi ngga begitu ngegas, suaranya sama persis kaya dinding kayu tadi. Walaupun suaranya ngga begitu keras, paling ngga anak-anak di sekitaran rumah tetanggaku tadi pada denger.

Suatu hari ada anak yang iseng. Dia pukul dinding kayu itu keras-keras. Anak-anak di sekitaran rumahku berhamburan keluar, bersiap-siap ambil langkah seribu untuk mengejar mobil Perhutani. Begitu mereka keluar rumah, muka mereka suram. Kecewa tiada tara. Sekecewa jomblo yang ditinggal pas lagi saying-sayangnya. Satu persatu mereka kembali ke rumah masing-masing sambil menggerutu, “Oalah Asu. Kenang tipu maning”.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Suatu hari di dunia khayalan, seorang suami pulang kerumah setelah seharian bekerja. Dengan senyum merekah dia mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, istri dan anaknya sudah menunggu dengan wajah yang cerah ceria. Dengan tergopoh-gopoh sang istri bersalaman dan mencium tangan suaminya dengan lembut. Sejurus kemudian dia melepaskan jaket sang suami seraya menawarkan kopi hangat untuk suaminya. Sambil menunggu kopi yang dibuatkan istrinya siap, sang suami membopong anaknya  yang sedari tadi memperhatikan kemesraan ayah dan ibunya seakan-akan dia menunggu kemesraan seperti yang ditunjukkan ayah dan ibunya. What a happy family.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Selain karena sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang sudah tamat, nampaknya aku harus bersyukur karena sejak tanggal 18 Januari kemarin, aku resmi menjadi seorang ayah. Tapi tahukah kalian bahwa dengan berakhirnya sinetron yang aku sebutkan tadi, berakhir juga prahara-prahara rumah tangga yang terjadi karena perebutan remot tivi antara anak dan orang tua? Ini sinetron emang gila. Kalo diibaratkan sempak, ini adalah sempak yang bener-bener sudah bolong-bolong yang wajib untuk dibuang. Bikin muak, asem, kecut, kendor, dan tentu saja bolong. Bayangin aja, Cinta Fitri yang episodenya 1000 lebih, menghabiskan 7 season. Tukang bubur naik haji, 2000 episode lebih ngga pake season2an. Halah malah ngelantur ngomongin Tukang Bubur.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
“Papah, pengin banget makan sate”, ujar sang istri. “Tapi ini kan udah jam 12 malem mah, mana ada tukang sate yang masih jualan?”, jawab sang suami. “Tapi ini dedek kita yang mau”, balas sang istri sambil mengelus-elus perutnya yang hamil itu. Lalu seketika sang suami mengambil HP dan googling untuk menemukan warung sate yang buka 24 jam. Sejurus kemudian suami itu berpamitan untuk membeli sate yang dimaksud. Ternyata jaraknya kurang lebih 45 menit dari rumahnya dengan ditempuh menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM