• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?


Anak saya yang besar, Divya, beberapa hari ini sedang tergila-gila sekali dengan Boboiboy. Karakter kartun dari Negeri Jiran yang mempunyai kekuatan super yang didapatkan dari sebuah robot yang datang dari luar angkasa, yang dengan kekuatannya itu, Boboiboy dan kawan-kawannya berusaha melindungi bumi dari tokoh antagonis utama yaitu seekor alien berkepala kotak berwarna hijau bernama Adudu. Yang aneh, Adudu mengincar planet bumi dikarenakan ingin mendapatkan kekuatan yang bersumber dari cokelat. Iya. Cokelat. Cokelat yang untuk bahan minuman atau Silver Queen itu. Tidak terbayang bagaimana seandainya Soekarno hidup di planet Adudu. Karena beliau tinggal di bumi, beliau pernah pidato seperti ini, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia.
 Kalau di planet Adudu, pasti kalimatnya akan menjadi seperti ini, “Berikan aku 10 karton cokelat, maka akan aku goncangkan tata surya”. Sangat tidak elegan diucapkan oleh seorang Soekarno. Geeeerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Kesukaan Divya kepada Boboiboy diawali ketika RTV, sebuah stasiun televisi swasta yang memang hampir setiap saat isinya acara anak-anak,  mulai menayangkan Boboiboy setiap hari, pagi dan malam. Karena kesukaanya itu, anak saya mulai terobsesi dengan salah satu karakter di kartun Boboiboy. Gopal. Karakter yang lucu, penakut, cerewet, nyeleneh, absurd, pokoknya Gopal ini karakter bagian lucunya di kartun Boboiboy. Gopal ini mempunyai kekuatan mengubah segala sesuatu menjadi makanan. Dengan kekuatan itu, Gopal dapat dengan mudah mengubah serangan-serangan musuh menjadi hanya sebuah lelucon tak berguna. Hal ini juga karena memang Gopal sangat suka makan. Bahkan ketika pulang dari luar angkasa setelah bertarung dengan musuh, Bapaknya yang ada didepannya tidak dihiarukan dan langsung lari karena ingin segera makan makanan ibunya di rumah. Sepertinya, sifat Gopal yang suka makan tidak jauh beda dengan saya.

Karena obsesi kepada Gopal itu, Divya berusaha membawa karakter Gopal ke dunia nyata. Kami, satu keluarga, sering sekali harus menjadi seperti Gopal. Sebagai gambaran, dalam kesehariannya Gopal selalu memakai semacam bandana untuk merapikan rambutnya. Karena hal itu, saya sering harus memakai ikat rambut yang dilingkarkan ke kepala supaya menjadi seperti Gopal. Begitu pula dengan istriku. Bahkan kakek dan neneknya. Baru saja tadi pagi saya harus memakai ikat rambut padahal mau pergi ke pasar. Mirip Gopal engga, kaya orang stress iya.  

FYI, saya juga sangat sangat sangat menyukai serial Boboiboy. Jauh lebih suka daripada serial Upin dan Ipin, apalagi serial Jeritan Hati Seorang Istri di Indosiar. Saya malah menyukai serial Boboiboy ini sudah sangat lama. Jauh sebelum anak saya mengenal Boboiboy. Kalau tidak salah ingat, waktu itu belum tayang di televisi, atau mungkin pernah tayang tapi bukan di RTV.

Sangkin Sukanya saya dengan serial Boboiboy, saya sampai download semua episode dari Youtube resminya Monsta, Publishernya Boboiboy, dari musim pertama sampai musim Boboiboy Galaxy. Dan itu dulu saya lakukan waktu masih menjadi perangkat desa. Seorang perangkat desa yang ganteng, berwibawa, mempesona, dengan setelan kekinya, yang cukup dipandang oleh warga desanya, ternyata serial favoritnya Boboiboy. Apa itu Money Heist? Apa itu Attack On Titan?

Dengan tayangnya serial Boboiboy di RTV, ini menjadi salah satu nostalgia indah saya. Membayangkan dulu ketika saya pusing sekali mengelola uang negara saat menjadi Bendahara desa, menonton Boboiboy adalah salah satu obat ampuh untuk mengembalikan energi positif.

Sekarang, gara-gara serial ini tayang di TV,  istri saya sering marah-marah karena saya sering ketawa ngakak sendiri melihat kelakuan Gopal, padahal anak saya yang kecil sedang nyungsruk di depan mata.

Coba kalo saya punya kekuatan seperti Gopal. Akan saya ubah omongan orang-orang menjadi makanan enak. Mereka yang ngoceh, kita yang gemuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Membesarkan anak adalah seni kehidupan yang luar biasa. Ada begitu banyak hal-hal baru yang tidak kita temui di kala hidup sendiri. Ada begitu banyak kejadian yang membuat kita harus mengernyitkan dahi, membuat kita tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja ada hal yang membuat kita harus menangis dalam perjalanannya. Mari aku ajak pembaca untuk ikut merasakan  beberapa hal yang aku alami Ketika membesarkan anakku.

Anak pertamaku berumur 4 tahun. Aishwarya Divya Lituhayu Namanya. Luar biasa aktif, jarang sekali diam, dan cukup keras kepala kalo sudah kepengin sesuatu. Like father like son. Begitulah peribahasa yang sangat menggambarkan anak pertamaku ini. Karena konon, menurut penuturan ibuku, aku adalah orang yang kalau sudah kepengin sesuatu, harus segera terlaksanakan. Tidak boleh tidak. Pernah suatu ketika aku kepengin sekali makan ayam. Ibuku bilang “Oke. Besok ya. Ibu ke pasar dulu. Nanti sepulang dari pasar, ibu bawa ayam”. Beberapa saat setelah dijelaskan, aku malah naik ke lemari tempat menyimpan makanan, mencari-cari barangkali ayam sudah ada di lemari, dan membuat lemari roboh.

Ada banyak hal lain yang ibuku ceritakan mengenai keras kepalanya aku sewaktu kecil. Seperti disengat lebah padahal sudah dibilangin jangan dipegang, menggoda cewek yang ternyata adalah cowok Cuma gara-gara rambutnya Panjang, dan banyak hal absurd lain yang aku lakukan sewaktu kecil.

Seperti aku bilang tadi, like father like son. Begitu pun dengan Divya. Suatu ketika dia pengin banget bermain ke taman wisata baru yang ada di Banjarnegara.

Divya : “Yah, ada tempat wisata baru di Banjarnegara, pengin main kesana. Ada Teletubies raksasa, ada hewan-hewan raksasa, pokoknya bagus-bagus yah. Ayo kesana”.

Aku : “Ada janda-janda cantik raksasa ngga Mba?”

Divya : “Coba tanya gitu ke ibu!”

Aku : -Terdiam seribu Bahasa- ……………………….  “Ya udah. Kita kesana”.

Divya : “Ya udah ayo siap-siap. Ayah panasin dulu motornya. Kita berangkat”

Aku : “Jam berapa mba? Ini kan jam 7 malem. Mau kesana ngapain jam segini? Mau ronda?”

Begitulah seonggok contoh bagaimana Divya kalo sudah kepengin sesuatu.

Selain sifat “keras”nya itu, dia juga punya imajinasi yang cukup unik dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Mari aku ceritakan.

Divya adalah anak rumahan sekali. Jarang sekali keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya. Kalau orang dewasa mungkin disebutnya introvert. Teman pun Cuma punya beberapa biji. Kalau pun bermain dengan teman-temannya, mereka yang datang ke rumah.

Suatu ketika ada 2 teman Divya datang ke rumah. Namanya Askana dan Zara. Ceritanya mereka sedang bermain jual beli. Askana berperan sebagai pembeli dan Zara berperan sebagai penjual. Transaksi mereka terjadi di sebuah mall. Askana meminta Divya untuk berperan sebagai teman dan menemani Askana belanja di Mall. Dan tebak apa yang terjadi? Divya tidak mau menjadi teman dan memilih menjadi Dinosaurus. Dinosaurus yang berjalan-jalan di mall, menemani Askana belanja. Diperagakannya pula Gerakan Dinosaurus itu layaknya seekor Tirex. Alhasil, istri dan ibu mertuaku yang waktu itu sedang mendengarkan, tertawa terbahak-bahak sekaligus mangkel. “Divya, mana ada Dinosaurus jadi teman manusia, terus jalan-jalan di Mall sambil belanja?”, kata istriku menasehati.

“ya sudah aku jadi kucing saja. Menunggu Askana di luar mall”, jawab  Divya sambil memperagakan Gerakan kucing sedang menjilati bulu-bulu kakinya.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Pict : https://www.museumsoeharto.com/2019/02/tk-it-alhamdulillah/

Setelah melalui perdebatan panjang dan alot, akhirnya aku sama istri memutuskan menyekolahkan anakku ke TK IT yang ada di Karangkobar. Kenapa kok ke TK IT? Soalnya tadinya mau langsung di SMA. Tapi kan ngga boleh karena umur anakku belum mencukupi. Kan ngga lucu, masa anak umur 4 tahun udah SMA? Geeeeeerrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 

FYI, bertahun-tahun aku tuh ngga tahu kalo TK IT itu singkatan dari TK Islam Terpadu. Yang aku tahu, TK IT itu, TK yang sekolahnya itu menjurus ke pelajaran Komputer. Jadi bacanya itu "TK AITI" dari bahasa Inggris Information Technology. Kaya anak SMK gitu. Jadi selama ini selalu ada pertanyaan di benakku, "Anak-anak sekecil itu emang udah bisa diajarin komputer?"

Anyway, aku sama istri memang penginnya anak kita lebih intens untuk dapet ilmu Agama Islam. Makanya kita sepakat menyekolahkan anakku ke TK IT. Tentu saja semua orang tua pengin anaknya lebih baik dari pada orang tuanya. Begitu pun aku dan istriku. Karena kita sadar, ilmu agama kita cuma seuprit. Makanya kita pengin anak kita dari kecil sudah dibekali ilmu agama yang baik. Oleh sebab itu, sepertinya menyekolahkan anak ke TK IT adalah pilihan yang cukup logis, walaupun tentu saja masih banyak opsi yang lain yang bisa membuat anak-anak lebih mendalami agama Islam. 

 Masalahnya adalah, ini kan masih masa pandemi. Anak-anak sekolah masih belum boleh masuk. Kalo anakku sudah mendaftar sekolah dan ngga bisa masuk sekolah, NGAPAIN? kan uang bulanan tetep harus bayar walaupun mungkin ngga full. 

Bukan masalah uangnya sih. Karena insyaallah selalu ada jalan. Apalagi ini untuk menyekolahkan anak. Masa Allah ngga ngasih jalan? Kan ngga mungkin. Masalahnya kembali ke tujuan awal aku menyekolahkan anak ke TK IT. Kepengin anakku dapet ilmu Agama Islam lebih intens daripada waktu di rumah. Lah kalo ternyata ngga bisa masuk sekolah, gimana?

Sebenernya ada opsi lain. Ditunda saja dulu sekolahnya satu tahun. Sambil nunggu perkembangan pandemi di Indonesia. Tapi di usia anakku, memang udah waktunya dimasukkan ke sekolah. Kan kasian juga kalo nanti di SD gede sendiri. Pasti ada minder-mindernya. Dulu aja, waktu aku SMP ada malu-malunya gara-gara yang lain masih imut-imut, aku udah jenggotan sendiri. 

Kalo saja ada opsi ketiga. Langsung masuk SMA. Kan jadi lebih irit waktu dan biaya. 

Ada saran?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Picture : quotesgram.com

Saya mempunyai teman yang sering sekali berselisih paham dengan teman sendiri dan berujung perkelahian. Sebut saja namanya Terran. Terran adalah tipe orang yang bicaranya blak-blakan dan cenderung sering tidak terkontrol, tidak tepat waktu, dan tidak pada tempatnya. Karena hal itu, Terran sering “diadili” oleh teman-temannya sendiri gara-gara omongannya itu.

Bentuk “pengadilan”nya pun macam-macam. Waktu SMA, Terran pernah dikelilingi “preman-preman” sekolahnya dan satu per satu memukul Terran gara-gara mereka berselisih paham. Sayangnya Terran termasuk orang yang sama sekali tidak jago berkelahi. Jadi Ketika dipukul, Terran banyak sekali menangkis. Dengan pipi tentunya.

Waktu Terran SMP, dia pernah cerita kalo dia pernah dibentak-bentak oleh temannya sendiri karena omongannya yang cukup menyakitkan temannya. Waktu SMA pula, dia juga pernah hampir baku hantam dengan adik kelasnya.

Tapi, ada satu peristiwa yang menurut Terran tidak akan terlupakan. Dia pernah dipukul teman sendiri karena kesalah pahaman. Lagi-lagi itu terjadi karena mulut Terran yang kurang terkontrol. Waktu itu mulut Terrran sampai berdarah karena dipukul, dan bibirnya sampai bengkak. Kayaknya Angelina Jolie bibirnya seksi gitu karena dipukul temannya juga deh.

Kenapa menurut Terran peristiwa itu tidak bisa terlupakan? Karena menurut Terran yang memukul itu termasuk teman yang cukup dekat dan sering sekali berinteraksi untuk melakukan kegiatan Bersama di sekolah. Dan menurut Terran juga, peristiwa pemukulan itu seharusnya ngga perlu terjadi karena itu hanya kesalah pahaman kecil yang bisa dibicarakan. dan yang jelas Terran harus sampai terluka dan berdarah. Menurutnya baru peristiwa pemukulan itu yang benar-benar menimbulkan luka. Tidak hanya luka fisik, namun luka batin yang lebih parah.

Tapi, yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan soal pukul memukul itu. Ini tentang Terran dan hatinya yang begitu ikhlas hingga akan banyak cerita unik yang menyeret orang-orang yang pernah berselisih paham dengan Terran. Dan hal itu terjadi bertahun-tahun setelahnya.

Sebagai teman yang cukup dekat dengan Terran, saya tahu betul bahwa sebenarnya Terran adalah orang yang ngga pernah macam-macam. Boro-boro berkelahi. Wong dia pernah cerita, membayangkan berkelahi aja dia sudah merasa sakit.

Peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan tadi sebenarnya adalah karena kesalah pahaman saja antara Terran dan teman-temannya. Saya tahu betul, Terran adalah orang yang spontan. Kata-kata yang diucapkannya jujur dari dalam hatinya. Sayangnya, memang kata-kata itu kadang keluar di saat yang tidak tepat sehingga sering menimbulkan perselisihan. Tapi saya tahu Terran tidak bermaksud untuk melukai hati teman-temannya. Apalagi untuk alasan berkelahi. Tidak mungkin. Nonton sinetron aja dia nangis.

Tapi yang paling membuat aku kagum adalah sikap Terran dalam menghadapi itu semua. Dia benar-benar ikhlas, tidak dendam, dan tidak ingin melakukan apapun setelahnya. Dia juga jarang sekali berfikir “Biar Tuhan yang membalas”. Let it flow saja terus seperti itu. Hingga bertahun-tahun setelahnya, ada beberapa peristiwa unik yang mengaitkan Terran dengan orang-orang yang pernah “berkelahi” dengan dia.

10 Tahun berlalu, Terran masih berkomunikasi intens dengan saya. Terran sekarang mempunyai istri yang berdagang online. Tahu ngga? Langganan utamanya adalah istri dari salah satu orang yang berkeliling memukul Terran yang sebelumnya saya ceritakan. Padahal rumahnya jauh dan sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, tidak ada komunikasi dan memang bukan siapa-siapa.

Yang lebih epic lagi, Tadi saya becerita bahwa ada satu peristiwa yang benar-benar tidak bisa Terran lupakan. BTW si pemukul Terran sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Terran baru tahu karena istri Terran baru cerita belum lama ini.

Suatu hari istri dari si pemukul Terran pernah menghubungi istri Terran bermaksud meminjam uang untuk beli susu anaknya karena susu anaknya habis dan si pemukul Terran belum gajian. Sekali lagi, padahal dia bukan siapa-siapa, tempat tinggalnya sangat jauh, kenal pun  hanya sebatas kenal. Oh My God. Allahu Akbar. Sempit sekali dunia ini.

Apa makna dari semua itu? Sepertinya kita harus belajar banyak dari Terran bagaimana untuk bersikap ikhlas dalam menjalani kehidupan. Karena ternyata ada banyak sentilan-sentilan mesra dari Allah kalau kita bersikap ikhlas. Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Bahkan kata-kata “Biar Allah yang membalas” saja, itu sudah menggambarkan ketidak ikhlaskan.

Ternyata dengan bersikap ikhlas, akan ada banyak hikmah dan makna yang bisa kita jadikan alasan untuk selalu tersenyum menghadapi kehidupan. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang benar-benar ikhlas sehingga bila kita merasa disakiti orang lain, bukan kita lagi yang akan membalasnya, tapi Tuhan. Dan balasan Tuhan jelas jauh lebih indah dari apapun.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Rasanya memang hanya rasa syukur kepada Allah yang patut saya ungkapkan ketika saya mengingat nikmat-nikmat yang Allah limpahkan di tahun-tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, setelah anak pertama saya berumur kurang lebih 2,5 tahun, saya dipercaya kembali oleh Allah untuk punya anak lagi. Tidak seperti anak pertama yang direncanakan penuh perhitungan, anak kedua ini sama sekali tidak direncanakan. Tiba-tiba saja istri saya telat satu minggu dan ketika ditest -dengan test pack tentunya- ada 2 garis merah di test pack tersebut.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa,  dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku sudah menikah lebih kurang 4 tahun. Alhamdulillah dari pernikahan itu, aku dan istriku dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat lucu (menurut saya :D ). Aku kasih nama Divya. Sebuah kebahagiaan yang tiada terkira mengingat aku dan istriku cukup lama menanti seorang buah hati.
Finally setelah 8 bulan mencoba berbagai gaya :D , akhirnya istriku hamil juga. Itupun melalui perjalanan yang amat panjang. Kita sampai keliling berbagai klinik di Samarinda. Mulai dari klinik Tong Fang, Klinik Bersalin, Sampai klinik tutup pun kita datangi.
Alhamdulillah di Samarinda ada satu klinik yang sangat bagus yang mendiagnosa kalo istriku memang ada masalah. Akhirnya setelah dua kali berobat, seminggu kemudian istriku hamil. Padahal dulu aku sempet berfikir, jangan-jangan punyaku, -sebut saja titit- bermasalah. Eh ternyata sebenernya aku sangat perkasa :D
Alhamdulillah, Divya sekarang sudah 2 tahun lebih. Dan lebih bersyukur lagi, aku dan isriku langsung dikasih kepercayaan sama Allah. Istriku hamil anak kedua. Nah kalo anak yang kedua ini, ngga pake gaya-gayaan. entah gimana ceritanya, tahu-tahu istri telat aja. Begitu ditest pack, eh beneran positif. Masa istriku hamil sama angin sih? Angin kan ngga punya titit :D . Saat tulisan ini dibuat, kandungan istriku sudah berumur 7 bulan. Gimana? Mantap kan hasil kerja "keras"ku? Mantap dong?
Divya ini anak yang luar biasa aktif. Kayaknya tiap detiknya ngga pernah dia lewati dengan diam. Pokoknya diamnya dia ya hanya kalo tidur. yang bikin aku agak was-was itu karena motorik kasarnya Divya ini agak lambat perkembangannya. Karena hal ini, cukup membuat aku dan istriku kerepotan. Jadi tiap detik aku dan istriku harus gantian melihat dia bermain-main. Karena kalo kita lalai sedikit saja, bisa-bisa kita lihat dia sudah jatuh.
Tapi dibalik -kekurang bagusan- perkembangan motorik kasarnya, menurut penilaianku Divya adalah bayi yang sangat cerdas. Bicaranya sudah jelas dibandingkan dengan anak-anak seumurannya. Divya juga sudah hapal hampir semua lagu anak-anak. Mulai dari lagu Selamat Ulang tahun yang dinyanyikan Trio Kwek Kwek, Bolo-Bolonya Tina Toon, Cita-Citaku punya Susan, Kesempurnaan Cinta punya Rizki Febian, Umbrella punya Rihanna dan lain-lain :D
Selain bicaranya yang sudah jelas dan hafal lagu-lagu anak-anak, Divya juga sudah mulai hafal dengan doa-doa dan hafalan-hafalan surat pendek. Diantaranya doa makan, doa tidur, doa makan sambil tidur, doa membangun rumah, membangun candi, membangun piramida dll. Yang lebih membanggakan, dengan umur segitu, dia juga sudah hafal Surat Al-Baqoroh. Ayat 1 :D
Membesarkan anak adalah hal seni yang luar biasa. Bahagia, marah, takut, kecewa, gembira, semua bercampur jadi satu. Bahagia karena memang membesarkan anak itu sangat membahagiakan. Marah karena kadang anak kita begitu "menjengkelkan", takut karena kita berfikir akan jadi apa anak kita kelak. Kecewa karena anak kita bertingkah tidak sesuai keinginan kita. Gembira karena tingkah lucu anak-kita yang kadang diluar dugaan kita.
Kita juga ditutuntut membentuk karakter anak menjadi anak yang baik. Selain itu kehabisan Pampers dan susu disaat ngga punya duit juga menjadi seni tersendiri. Pokoknya membesarkan anak itu campur aduk rasanya.
Namun Bahagia dan penuh cinta adalah hal terbesar yang kami rasakan. Disaat pulang, selepas penat bekerja, maka bermain dengan anak adalah obat yang sangat mujarab. Disaat ada masalah dalam hidup, melihat lucunya wajah anak kita, maka seketika masalah sementara terlupakan. Disaat kita gelisah memikirkan mantan, dan anak kita wajahnya mirip mantan, maka hati kita semakin gelisah :D
Untuk yang sudah menikah dan belum dikaruniai anak, saya doakan semoga secepatnya punya makhluk lucu dambaan kalian.
Buat yang jomblo dan membayangkan lucunya punya anak. Sadar woy. Nikah dulu baru punya anak. Halu aja bisanya. :D  
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM