• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

 “Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.

Begitulah salah satu rangkaian lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya. Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain. “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok malah ngelantur kemana-mana.

Kembali ke topik. Di tulisan saya sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.

Kembali ke Maret 2019, saya mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya. Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang dan harus diambil oleh yang bersangkutan.

Detik mendebarkan itu pun tiba, perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu. Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan ditempatkan.

Setelah SK CPNS berada di tangan, dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85 kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.

Tidak disangka tidak dinyana, bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng.  Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat keputusan mutasi secara simbolis.

Aduh. Jadi deg-degan lagi . Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.

2 hari berlalu, tibalah saatnya penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS, perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah, puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”.

MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.

Bangunannya memang bukan bangunan baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat bagus untuk perkembangan anak didik kita.

Hal lain yang menguatkan bahwa MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.

Itulah cerita bagaimana perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.

Ada fakta menarik di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 😃😃😃

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

“Jangan makan burung emprit. Nanti tua hidupnya pindah-pindah terus”. Begitu mitos yang sering diucapkan orang-orang tua di kampungku. Tapi dari jaman aku kecil ucapan-ucapan ngga masuk akal semacam itu selalu aku bantah. Soalnya dipikir secara logika aja ngga nyampe. Apalagi kalau dikaitkan dengan agama. Bisa menjerumus ke Tatoyur. Mempercayai sesuatu yang terjadi karena sebab-sebab yang ngga masuk akal. “Jangan berdiri di depan pintu. Nanti menghalangi rejeki”. “Jangan nyisain makanan ntar ayamnya mati”. “Jangan berdiri di tengah jalan tol, nanti ditabrak sedan”. “Jangan kritik pemerintah. Nanti ada kang bakso lewat”. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal yang bikin aku semakin ngga percaya kalimat-kalimat ngga masuk akal tadi adalah, dari jaman orok aku ngga pernah makan burung emprit. Tapi hidupku udah kaya burung emprit. Pindah-pindah terus. Dari desa satu ke desa lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, bahkan dari pulau satu ke pulau lain. Mari kita bedah.

Lulus SD, aku udah harus kerja di Majalengka Jawa Barat selama kurang lebih 2 tahun. Ngga dapet apa-apa tuh disitu. Paling yang aku dapet  jadi lancar banget ngomong Bahasa Sunda waktu itu. Bahkan kalo orang Sunda waktu itu ngomong sama aku, dikira aku orang Sunda. Sangkin luwes dan fasehnya. Lulus SD merantau ke Majalengka Jawa Barat 2 tahun.

Karena keadaan keluargaku yang wadidaw sekali, ikutlah aku sama orang yang biayain aku sekolah. Pindah ke desa lain. 3 tahun.

Kuliah ngga aku anggep merantau lah ya. Karena emang harus kuliah di Semarang. Kan ngga mungkin kuliah di kampungku sendiri.  

Habis kuliah akhirnya pertarungan sesungguhnya. Merantaulah ke luar pulau. Samarinda, Kalimantan Timur. 2 tahun. Lumayan tuh disana dapet macem-macem. Dapet uang mahar, dapet biaya lahiran anak pertama, dapet pengalaman sebagai karyawan Indomaret, dapet pengalaman dibentak-bentak manager, dapet banyak lah pokoknya disana.

Sehabis istri melahirkan, resignlah aku. Balik lagi ke kampung halaman. Jadilah perangkat desa. Kurang lebih 2 tahun. Nah pas jadi perangkat desa ini aku juga tinggal pindah-pindah antar kecamatan. Soalnya aku ikut mertua di Karangkobar, tapi perangkat desanya ikut kecamatan kalibening.

2018, ikutlah aku tes CPNS. Diterimalah aku di Kementerian Agama. Ditempatkanlah di Kebumen. 2 tahun kurang lebih.

Kaya ketiban Durian Montong, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dapet surat cinta dari Semarang. Dimutasilah aku Kembali ke Banjarnegara. Tempat baru lagi, ketemu orang-orang baru lagi, adaptasi lagi, dan tetek bengeknya. Tapi aku Bahagia. Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, kota kecil nan menggemaskan ini, adalah harapanku sedari dulu. Walaupun aku udah kerja kemana-mana, Kembali ke Banjarnegara adalah harapan yang selalu tersimpan dalam hati.

Jadi intinya di tulisan ini aku mau bilang, “Jangan makan burung emprit nanti hidupnya pindah-pindah terus”, adalah sebuah kebohongan yang nyata.

Semoga di Banjarnegara ini bisa sampai pensiun lah ya. Capek banget pindah-pindah terus. Kaya hati seorang jomblo yang gonta ganti pasangan namun tak jua menemukan tambatan hatinya.

Hubungannya sama judul? Sangat erat hubungannya.

Di setiap kepindahanku pasti selalu ada “Shit”nya. Banyak banget. Yang pasti, CAPEK. Tapi mau gimana lagi. Wong kita Cuma wayang. mau gimanapun jalan kehidupan kita, ya terserah sang Dalang. Tetap bersyukur adalah kunci dari semua ini. Well, let me say…. EVERY SHIT HAPPEN, BUT …. LIFE MUST GO ON.

Dari rangkuman perjalanan hidupku ini, kayaknya ada sesuatu di balik 2 tahun. Hampir semua perjalanan karirku (cie karir 😀) selalu berpindah setelah 2 tahun. Majalengka 2 tahun, Samarinda 2 tahun, Kebumen 2 tahun. Apakah di Banjarnegara ini akan berpindah lagi setelah 2 tahun? Aku sendiri penasaran. Patut buat aku tunggu.

Oh iya satu lagi inti dari tulisan ini adalah….. Dulu di Samarinda aku sering dibentak-bentak manager. Namanya Pak Wayan. Dari Bali dong. Masa dari Jawa. Kalo dari Jawa namanya Wahyono. 😀

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

31 tahun yang lalu, Aku terlahir di keluarga yang cukup berada di kampungku. Ibuku pedagang ulung. Bapakku pekerja keras. Dikala anak-anak di kampungku masih bermain mobil-mobilan dari tanah liat, aku sudah bermain dengan mobil-mobilan yang dibeli dari pasar. Punya 2 peliharaan sapi juga menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi keluargaku cukup mapan, dimana kala itu punya peliharaan sapi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi di kampungku. Belum lagi lumbung padi dan jagung milik ibuku yang selalu terisi penuh karena pada saat itu masih banyak warga yang membeli keperluan rumah tangga di warung milik ibuku dengan system barter.

11 atau 12 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD, keadaan berbalik 180 derajat. Orang tuaku bercerai. Aku dan ibuku menumpang hidup di rumah uwa. Bapakku sementara masih memakai rumah lama yang dulu kita tinggali. Karena satu dan lain hal, Bapakku akhirnya meninggalkan rumah itu juga dan aku ngga begitu tahu dimana Bapakku tinggal setelahnya karena memang setelah kejadian perceraian itu, aku menjadi jauh dengan Bapakku.

Karena satu dan lain hal pula, satu tahun setelahnya aku tidak tinggal lagi dengan uwa. Aku menumpang hidup di rumah nenek. Sebenarnya bukan nenek kandung. Beliau hanya seseorang di kampungku yang sejak kecil merawat kakak perempuanku karena dari pernikahannya, Beliau tidak dikaruniai satu orang anak pun. Aku biasa memanggilnya Mbok Hadi. Memang sejak dulu sewaktu Bapak ibuku belum bercerai, Mbok Hadi sudah aku anggap keluarga sendiri.

Karena berbagai alasan, setelah aku lulus SD, aku tak bisa melanjutkan sekolah. 2 tahun aku merantau di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Majalengka. Aku menjadi tukang bersih-bersih rumah dan kantor sekaligus merangkap menjadi tukang rawat hewan-hewan peliharaan majikanku waktu itu.

Sedang asyik bekerja, bunyi telefon kantor berdering yang ternyata ibuku menelfon dari kampung, yang memintaku untuk pulang dan melanjutkan sekolah. Usut punya usut ternyata ada program beasiswa gratis full 3 tahun sampai lulus bahkan masih dibelikan perlengkapan sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Alhamdulillah 3 tahun di SMP berjalan lancar dan cukup menyenangkan. Walaupun setiap hari aku harus berjalan kaki kurang lebih 5 KM, dan sepulang sekolah masih harus mencari makanan kambing milik Mbok Hadi. 3 tahun berlalu, menjadi lulusan terbaik di SMP kala itu menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku, yang juga mengantarkan aku bisa melanjutkan ke sebuah SMA Negeri yang memberikan beasiswa gratis selama satu semester bagi lulusan terbaik.

Karena keadaan ekonomi, 3 tahun aku “menumpang” hidup di rumah salah seorang yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Sebut saja pak Hari. Jadi ceritanya, berpuluh-puluh tahun sudah Bapakku berkerja dengan pak Hari. Melihat potensiku yang cukup besar, pak Hari tak mau aku hanya sampai di SMP. Sehingga Beliau dengan suka rela membiarkan aku hidup di rumah beliau selama aku sekolah di SMA supaya pendidikanku tetap lancar. Karena memang Bapakku sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Pak Hari.

3 tahun berlalu, aku menjadi lulusan terbaik jurusan IPA di SMAku. Itu pula yang mengantarkan aku meraih bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun terseok-seok, akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu sesuai yang ditetapkan pemerintah kepada kami mahasiswa berbeasiswa.

Lulus kuliah, tak lantas membuat aku menemukan pekerjaan seperti yang aku pikirkan. Beberapa bulan aku masih menganggur. Hanya beberapa pekerjaan serabutan saja yang aku kerjakan untuk mengisi hari-hariku.

Akhirnya, di tengah keputusasaanku yang tak kunjung mendapat pekerjaan, aku teringat kakak perempuanku yang ada di Samarinda. Ku telfon dia dan gayung bersambut. Kakakku punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya dengan bekal seadanya, berangkatlah aku ke Samarinda yang menjadi pengalamanku pertama kali keluar pulau Jawa dan pertama kali pula naik pesawat terbang.

Sampai disana, bekerjalah aku di sebuah minimarket yang cabangnya menyebar secara sporadic diseluruh nusantara. Sebut saja Indomaret. Lebih kurang 2 tahun aku bekerja di perusahaan yang ternyata kalo di toko ada barang yang hilang, maka anak tokolah yang harus dipotong gajinya senilai barang yang hilang tersebut. Sialnya, pertama kali aku menjadi kepala toko, ternyata kasirnya lihai sekali mencuri barang. Nasib badan.

Satu tahun berlalu, tiba saatnya aku menikahi gadis yang sangat aku sayang. Ambil cuti kurang lebih 10 hari, lalu berlangsunglah pernikahan itu dengan lancar. H+4 setelah pernikahan, aku Kembali berangkat ke Samarinda dengan sudah ditemani istri tercinta.

8 bulan setelahnya istriku hamil dan keluarga di Jawa menghendaki agar istriku melahirkan di Jawa. Akhirnya di usia kehamilan ke 7 bulan, istriku pulang ke Jawa, sementara aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dulu di Samarinda.

Selang 1 bulan setelah anakku lahir, aku memutuskan resign dan pulang Kembali ke Jawa. Kira-kira 2 atau 3 bulan setelah resign, kembalilah aku menjadi pengangguran. Sedangkan susu dan popok bayi terus saja habis. Nasib badan.

Akhirnya aku mencoba peruntungan mendaftar menjadi perangkat desa dan diterimalah aku menjadi Kepala Urusan Keuangan. Yang dengan itu perekonomian keluargaku mulai membaik. Meskipun belum bisa dikatakan memadai.

2 tahun berlalu, pemerintah membuka lowongan CPNS, dan diterimalah aku di Kementerian Agama, menjadi seorang Guru di sebuah MTs Negeri. Setelah SK CPNS diterima di tangan, ternyata aku di tempatkan di sebuah MTs Negeri di Kebumen, perbatasan Cilacap dan Banyumas. MTs Negeri Rowokele atau MTs Negeri 4 Kebumen.

“Jalan hidup kita yang merencanakan. Tuhan yang tentukan.”

“Dream it. Make it”

 (hehehe bisa juga aku nulis ngga ada guyonnya).

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

2009. Di sebuah SMA Negeri di suatu kota, tersebutlah seorang wakil ketua OSIS yang tampan rupawan, cerdas, dan mempesona. Sebut saja Mr. X. Waktu itu SMA tersebut sedang menerima tugas dari pemerintah kecamatan untuk menjadi pasukan pengibar bendera karena sebentar lagi akan diadakan upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Mr. X ditunjuk menjadi komandan paskibra karena dia yang mempunyai suara paling lantang diantara pengurus OSIS yang lain. Usut punya usut, ternyata suaranya lantang karena rumah Mr. X berada di pinggir sungai besar yang kalau bicaranya tidak lantang maka akan kalah dengan suara sungai itu. Jadi suara lantangnya memang dilatih langsung oleh alam.

Suatu pagi, setelah melakukan Latihan di lapangan yang akan digunakan untuk upacara, anak-anak Paskibra sedang istirahat. Di keempat sisi lapangan tersebut, ada jalan yang cukup lebar yang digunakan warga sekitar sebagai jalan menuju rumah-rumah warga. Disamping jalan itu, rumah-rumah warga berjejer lebih tinggi kurang lebih satu meter dari jalan itu.

Ketika Mr. X sedang beristirahat di emperan rumah warga, datanglah salah seorang cewek anggota Paskibra yang ingin ikut beristirahat di emperan rumah warga itu. Karena posisinya di jalan yang lebih rendah dari emperan rumah warga itu, maka gadis itu meminta tolong kepada Mr. X untuk meraih tangan gadis itu untuk dapat sama-sama beristirahat di emperan rumah warga tersebut. Kejadian itu adalah kali pertama Mr. X berkenalan dan memegang tangan gadis itu. Cerita selesai sampai disitu dan tidak ada sesuatu apapun yang terjadi disana. Hanya bincang-bincang ringan membahas keadaan birokrasi yang semrawut, poros ekonomi China dan Amerika, Organisasi elite global, Konspirasi Iluminati, proyeksi mereka tentang masa depan Indonesia di era 4.0, serta bahasan-bahasan ringan yang lain. Selesai sampai di situ. Dalam hati Mr.X pun tidak ada perasaan apapun. Hanya gumaman dalam hati. “Siapa sih cewek ini? Udah gendut, sedikit item, Tapi kok enak diajak ngobrol. Kayak ada inner beauty gitu”. Begitu gumam Mr. X dalam hati.

Siapa sangka pertemuan yang tidak direncanakan serta sekonyong-konyong itu akan menjadi cerita yang menyayat hati melebihi kisah Romeo dan Juliet? Siapa sangka hubungan mereka akan melebihi heroiknya perjuangan Jack untuk mendapatkan Rose? Siapa sangka hubungan mereka akan melebihi alaynya kisah Dilan dan Milea? Mari kita lanjutkan.

Singkat cerita, upacara pengibaran Bendera Merah Putih sukses dilaksanakan. Tiba saatnya untuk upacara penurunan bendera. Seperti digariskan Tuhan, Mr. X dan si gadis itu menjadi peserta upacara dan berdiri berdampingan. Saat itulah mulai timbul percakapan-percakapan alay tidak penting khas anak SMA. Yang kemudian berlanjut dengan bertukar nomer HP, nomer sepatu, nomer rumah, nomer celana, dan nomer-nomer yang lain. Kalau kalian sering lihat FTV, kurang lebih adegannya sama. Hanya pemerannya saja yang lebih tampan. Hehehe.

Dari situlah kisah cinta paling heroik, menyayat hati, alay, memalukan, mendebarkan, membahagian dimulai.  Kisah cinta yang kini telah membuahkan hasil dua makhluk yang sangat lucu. Kisah cinta yang telah mengiringi satu pemuda biasa menjadi seorang ayah yang lebih dari biasa. Kisah cinta yang mengiringi ganasnya kehidupan di negeri orang. Kisah cinta yang melewati ganasnya badai yang disebut badai “ekonomi”, kisah cinta yang telah melewati orang ketiga, keempat, dan orang-orang lainnya. Kisah cinta yang telah melahirkan jutaan tangis dan tawa. Kisah cinta dari manusia biasa. Kisah cinta aku dan istriku.

BERSAMBUNG ……………………………..

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM