Membesarkan anak adalah seni kehidupan yang luar biasa. Ada begitu banyak hal-hal baru yang tidak kita temui di kala hidup sendiri. Ada begitu banyak kejadian yang membuat kita harus mengernyitkan dahi, membuat kita tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja ada hal yang membuat kita harus menangis dalam perjalanannya. Mari aku ajak pembaca untuk ikut merasakan beberapa hal yang aku alami Ketika membesarkan anakku.
Anak pertamaku berumur 4 tahun. Aishwarya Divya Lituhayu Namanya.
Luar biasa aktif, jarang sekali diam, dan cukup keras kepala kalo sudah
kepengin sesuatu. Like father like son. Begitulah peribahasa yang sangat
menggambarkan anak pertamaku ini. Karena konon, menurut penuturan ibuku, aku
adalah orang yang kalau sudah kepengin sesuatu, harus segera terlaksanakan.
Tidak boleh tidak. Pernah suatu ketika aku kepengin sekali makan ayam. Ibuku
bilang “Oke. Besok ya. Ibu ke pasar dulu. Nanti sepulang dari pasar, ibu bawa
ayam”. Beberapa saat setelah dijelaskan, aku malah naik ke lemari tempat
menyimpan makanan, mencari-cari barangkali ayam sudah ada di lemari, dan membuat
lemari roboh.
Ada banyak hal lain yang ibuku ceritakan mengenai keras
kepalanya aku sewaktu kecil. Seperti disengat lebah padahal sudah dibilangin
jangan dipegang, menggoda cewek yang ternyata adalah cowok Cuma gara-gara
rambutnya Panjang, dan banyak hal absurd lain yang aku lakukan sewaktu kecil.
Seperti aku bilang tadi, like father like son. Begitu pun
dengan Divya. Suatu ketika dia pengin banget bermain ke taman wisata baru yang
ada di Banjarnegara.
Divya : “Yah, ada tempat wisata baru di Banjarnegara, pengin
main kesana. Ada Teletubies raksasa, ada hewan-hewan raksasa, pokoknya
bagus-bagus yah. Ayo kesana”.
Aku : “Ada janda-janda cantik raksasa ngga Mba?”
Divya : “Coba tanya gitu ke ibu!”
Aku : -Terdiam seribu Bahasa- ………………………. “Ya udah. Kita kesana”.
Divya : “Ya udah ayo siap-siap. Ayah panasin dulu motornya. Kita
berangkat”
Aku : “Jam berapa mba? Ini kan jam 7 malem. Mau kesana
ngapain jam segini? Mau ronda?”
Begitulah seonggok contoh bagaimana Divya kalo sudah
kepengin sesuatu.
Selain sifat “keras”nya itu, dia juga punya imajinasi yang
cukup unik dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Mari aku ceritakan.
Divya adalah anak rumahan sekali. Jarang sekali keluar rumah
dan bermain dengan teman-temannya. Kalau orang dewasa mungkin disebutnya
introvert. Teman pun Cuma punya beberapa biji. Kalau pun bermain dengan
teman-temannya, mereka yang datang ke rumah.
Suatu ketika ada 2 teman Divya datang ke rumah. Namanya
Askana dan Zara. Ceritanya mereka sedang bermain jual beli. Askana berperan
sebagai pembeli dan Zara berperan sebagai penjual. Transaksi mereka terjadi di
sebuah mall. Askana meminta Divya untuk berperan sebagai teman dan menemani
Askana belanja di Mall. Dan tebak apa yang terjadi? Divya tidak mau menjadi
teman dan memilih menjadi Dinosaurus. Dinosaurus yang berjalan-jalan di mall,
menemani Askana belanja. Diperagakannya pula Gerakan Dinosaurus itu layaknya
seekor Tirex. Alhasil, istri dan ibu mertuaku yang waktu itu sedang
mendengarkan, tertawa terbahak-bahak sekaligus mangkel. “Divya, mana ada
Dinosaurus jadi teman manusia, terus jalan-jalan di Mall sambil belanja?”, kata
istriku menasehati.
“ya sudah aku jadi kucing saja. Menunggu Askana di luar mall”,
jawab Divya sambil memperagakan Gerakan kucing
sedang menjilati bulu-bulu kakinya.


1 komentar
Ya
BalasHapus