Me and Mountaineering

by - Januari 20, 2021

 

Gara-gara film 5 cm, semua orang pengin naik gunung. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, anak kecil, bapak-bapak yang bawa anak kecil, ibu-ibu yang bawa anak muda, anak muda yang bawa bapak-bapak, semuanya pengin mendaki gunung.  Padahal ini termasuk olahraga yang tergolong ekstrim. Bahkan aku sering lihat pasangan suami istri bawa anak balitanya naik gunung. Aku cukup dibuat heran kalo yang model gini. Soalnya waktu itu aku pernah lihat di puncak Prau, ada balita yang bahkan jalannya itu masih sempoyongan, sedang dituntun kedua orang tuanya. Kayaknya, orang tuanya mau nganter anaknya ke Posyandu, tapi salah jalur. Akhirnya iseng sekalian sampai ke puncak.

Gara-gara film 5 cm pula, banyak anak muda alay (ada yang tua juga sih), yang ngga tahu menahu tentang dunia pendakian, tiba-tiba pengin naik gunung dengan bekal pengetahuan dan logistic seadanya. Yang penting eksis. Instastory estetik. Instagram banyak like, postingan di grup facebook banyak sanjungan. Begitulah kira-kira gambaran para pendaki dadakan di era sekarang. Tentu saja tidak semua pendaki seperti itu. Banyak juga pendaki baru yang benar-benar mempelajari bagaimana menjadi pendaki yang baik dan benar sebelum mendaki gunung.

Sekali lagi, sebenarnya kegiatan mendaki gunung adalah termasuk kegiatan ekstrim dan penuh resiko. Silakan search berapa banyak pendaki yang meninggal di gunung, atau bahkan sampai sekarang tidak diketemukan keberadaannya. Hal ini membuktikan bahwa mendaki gunung bukanlah kegiatan yang bisa dianggap sepele dan sembarangan dalam persiapannya. Ada banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari sebelum benar-benar ingin mendaki gunung.

Ngomong-ngomong soal mendaki gunung, aku mulai kenal dengan dunia pendakian gunung waktu aku kelas satu SMA. Waktu itu di sekolah ada ekskul Pecinta Alam atau yang biasa disebut PA. Alasanku masuk ekskul pecinta alam karena aku cukup menyukai aktivitas outdor. Dan aku banyak dapat cerita dari senior-senior bahwa di ekskul pecinta alam sering banget ngadain kegiatan di luar sekolah, yang ternyata memang benar. Setelah aku masuk ekskul PA, memang banyak banget kegiatan di luar sekolah yang menurutku sangat bermanfaat. Waktu itu kami lagi gencar-gencarnya ikut sosialisasi Global Warming dan penanaman pohon. Kami berkeliling seantero Banjarnegara untuk melakukan sosialisasi dan penanaman pohon. Kadang di SMA-SMA tetangga, kadang malah di desa antah berantah yang jauh dari perkotaan.

Di ekskul PA juga lah akhirnya aku mengenal dunia pendakian. Bukan langsung mendaki gunung dengan tanpa bekal apapun. Tapi kami harus melakukan serangkaian kegiatan di suatu gunung dengan mempraktikkan berbagai macam hal-hal dasar yang wajib diketahui oleh pendaki gunung. Kami diajari navigasi darat, membaca kompas, rock climbing, survival, dan masih banyak ilmu-ilmu yang lain yang semuanya itu sangat berguna jika suatu saat amit-amit terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan Ketika mendaki gunung.  

Selain kegiatan-kegiatan itu, ngga afdol dong kalo anak Pecinta Alam ngga ada kegiatan naik gunung beneran? Tentu saja kami punya program pendakian gunung. Dan ndilalah waktu itu pembina ekskul kami adalah salah satu orang yang ekspert di bidang pendakian gunung. Akhirnya setelah melalui musyawarah yang cukup panjang, diputuskanlah kami akan mendaki gunung Sindoro, yang mana ini akan menjadi pendakian gungung pertamaku. Ada rasa yang sangat menggebu-gebu karena dari dulu aku memang pengin banget mendaki gunung.

Tapi keinginan tinggallah keinginan. Walaupun pahit dan menyayat ulu hati, aku memutuskan ngga bisa ikut pendakian. Kenapa? Karena waktu SMA kan aku miskin kronis. Miskinnya itu benar-benar merasuk sampai tulang belakang. Lah boro-boro buat sangu mendaki gunung, lha wong bisa sekolah aja sudah sujud sukur.

Setelah pendakian Sindoro selesai, aku kalo mendengar teman-teman bercerita tentang pendakian mereka, aduh hati ini rasanya teriris-iris. Kalo temen-temen pada tanya, “Kok kemarin ngga ikut mendaki Sindoro?”, selalu aku jawab “Ngga bisa. Kemarin ada urusan keluarga yang ngga bisa ditinggal”. Ya memang kenyataannya ada urusan yang ngga bisa ditinggal. Urusan kemiskinan. Hehehe.

Setelah kejadian itu, aku bertekad. Suatu saat nanti, kalo aku udah cukup mapan secara finansial, aku mau mendaki banyak gunung. “Aku pengin ngopi dan merokok sambil menikmati luar biasanya lukisan Tuhan diatas gunung”, begitu kataku dalam hati.

Akhirnya keinginanku menjadi kenyataan. Gunung Ungaran, Semarang. Menjadi gunung pertamaku. Waktu itu tahun 2010. Awal-awal aku masuk kuliah. Apakah karena waktu kuliah sudah kaya, sehingga keinginan naik gunung bisa tercapai? Ngga juga. Waktu kuliah juga masih kere. Tapi sudah ngga begitu kronis. Paling ngga, cukuplah untuk sekedar naik gunung. Walaupun, satu minggu setelahnya harus puasa Senin Kamis. Puasa dari hari Senin, sampai hari Kamis. Kadang malah lanjut sampai Jumat puasanya. Sabtu Minggu ngga puasa. Karena kan hari libur. Geerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Nowadays, aku bersyukur banget karena alasanku ngga bisa naik gunung, bukan karena ngga punya uang. Tapi lebih kepada ngga ada waktu, kesempatan, cuaca yang ngga menentu, dan tentu saja digondeli sang istri tercinta.

Begitulah ceritaku tentang asal mula bagaimana aku mengenal pergunungan duniawi. Setelah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri, beberapa gunung di Jawa Tengah yang meanstream, sudah aku daki. Walaupun, setelah sampai puncak ada beberapa gunung terlihat seperti bukan gunung. Tapi lebih mirip ke pasar. Isinya manusia dan kebisingan.

Masih banyak hal lain soal gunung yang mau aku certain lain waktu. Karena ada banyak pengalaman unik waktu naik gunung. Soal bagaimana seramnya, bagaimana capeknya, bagaimana persiapannya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan, “Pendaki gunung pada shalat ngga ya? Pasti ngga shalat”. Lain waktu aku tulis. Kalo ngga ngantuk.

Prau

Merapi

Sindoro 

Slamet

Sumbing

You May Also Like

0 komentar