Me and Mountaineering
Gara-gara film 5 cm, semua orang pengin naik gunung. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, anak kecil, bapak-bapak yang bawa anak kecil, ibu-ibu yang bawa anak muda, anak muda yang bawa bapak-bapak, semuanya pengin mendaki gunung. Padahal ini termasuk olahraga yang tergolong ekstrim. Bahkan aku sering lihat pasangan suami istri bawa anak balitanya naik gunung. Aku cukup dibuat heran kalo yang model gini. Soalnya waktu itu aku pernah lihat di puncak Prau, ada balita yang bahkan jalannya itu masih sempoyongan, sedang dituntun kedua orang tuanya. Kayaknya, orang tuanya mau nganter anaknya ke Posyandu, tapi salah jalur. Akhirnya iseng sekalian sampai ke puncak.
Gara-gara film 5 cm pula, banyak anak muda alay (ada yang
tua juga sih), yang ngga tahu menahu tentang dunia pendakian, tiba-tiba pengin
naik gunung dengan bekal pengetahuan dan logistic seadanya. Yang penting eksis.
Instastory estetik. Instagram banyak like, postingan di grup facebook banyak
sanjungan. Begitulah kira-kira gambaran para pendaki dadakan di era sekarang. Tentu
saja tidak semua pendaki seperti itu. Banyak juga pendaki baru yang benar-benar
mempelajari bagaimana menjadi pendaki yang baik dan benar sebelum mendaki
gunung.
Sekali lagi, sebenarnya kegiatan mendaki gunung adalah termasuk
kegiatan ekstrim dan penuh resiko. Silakan search berapa banyak pendaki yang
meninggal di gunung, atau bahkan sampai sekarang tidak diketemukan keberadaannya.
Hal ini membuktikan bahwa mendaki gunung bukanlah kegiatan yang bisa dianggap
sepele dan sembarangan dalam persiapannya. Ada banyak hal yang harus diketahui
dan dipelajari sebelum benar-benar ingin mendaki gunung.
Ngomong-ngomong soal mendaki gunung, aku mulai kenal dengan
dunia pendakian gunung waktu aku kelas satu SMA. Waktu itu di sekolah ada
ekskul Pecinta Alam atau yang biasa disebut PA. Alasanku masuk ekskul pecinta
alam karena aku cukup menyukai aktivitas outdor. Dan aku banyak dapat cerita
dari senior-senior bahwa di ekskul pecinta alam sering banget ngadain kegiatan
di luar sekolah, yang ternyata memang benar. Setelah aku masuk ekskul PA, memang
banyak banget kegiatan di luar sekolah yang menurutku sangat bermanfaat. Waktu
itu kami lagi gencar-gencarnya ikut sosialisasi Global Warming dan penanaman
pohon. Kami berkeliling seantero Banjarnegara untuk melakukan sosialisasi dan
penanaman pohon. Kadang di SMA-SMA tetangga, kadang malah di desa antah
berantah yang jauh dari perkotaan.
Di ekskul PA juga lah akhirnya aku mengenal dunia pendakian.
Bukan langsung mendaki gunung dengan tanpa bekal apapun. Tapi kami harus
melakukan serangkaian kegiatan di suatu gunung dengan mempraktikkan berbagai
macam hal-hal dasar yang wajib diketahui oleh pendaki gunung. Kami diajari
navigasi darat, membaca kompas, rock climbing, survival, dan masih banyak ilmu-ilmu
yang lain yang semuanya itu sangat berguna jika suatu saat amit-amit terjadi
sesuatu hal yang tidak diinginkan Ketika mendaki gunung.
Selain kegiatan-kegiatan itu, ngga afdol dong kalo anak
Pecinta Alam ngga ada kegiatan naik gunung beneran? Tentu saja kami punya
program pendakian gunung. Dan ndilalah waktu itu pembina ekskul kami adalah
salah satu orang yang ekspert di bidang pendakian gunung. Akhirnya setelah
melalui musyawarah yang cukup panjang, diputuskanlah kami akan mendaki gunung Sindoro,
yang mana ini akan menjadi pendakian gungung pertamaku. Ada rasa yang sangat
menggebu-gebu karena dari dulu aku memang pengin banget mendaki gunung.
Tapi keinginan tinggallah keinginan. Walaupun pahit dan
menyayat ulu hati, aku memutuskan ngga bisa ikut pendakian. Kenapa? Karena waktu
SMA kan aku miskin kronis. Miskinnya itu benar-benar merasuk sampai tulang
belakang. Lah boro-boro buat sangu mendaki gunung, lha wong bisa sekolah aja
sudah sujud sukur.
Setelah pendakian Sindoro selesai, aku kalo mendengar
teman-teman bercerita tentang pendakian mereka, aduh hati ini rasanya
teriris-iris. Kalo temen-temen pada tanya, “Kok kemarin ngga ikut mendaki Sindoro?”,
selalu aku jawab “Ngga bisa. Kemarin ada urusan keluarga yang ngga bisa
ditinggal”. Ya memang kenyataannya ada urusan yang ngga bisa ditinggal. Urusan kemiskinan.
Hehehe.
Setelah kejadian itu, aku bertekad. Suatu saat nanti, kalo
aku udah cukup mapan secara finansial, aku mau mendaki banyak gunung. “Aku pengin
ngopi dan merokok sambil menikmati luar biasanya lukisan Tuhan diatas gunung”,
begitu kataku dalam hati.
Akhirnya keinginanku menjadi kenyataan. Gunung Ungaran,
Semarang. Menjadi gunung pertamaku. Waktu itu tahun 2010. Awal-awal aku masuk
kuliah. Apakah karena waktu kuliah sudah kaya, sehingga keinginan naik gunung
bisa tercapai? Ngga juga. Waktu kuliah juga masih kere. Tapi sudah ngga begitu
kronis. Paling ngga, cukuplah untuk sekedar naik gunung. Walaupun, satu minggu
setelahnya harus puasa Senin Kamis. Puasa dari hari Senin, sampai hari Kamis.
Kadang malah lanjut sampai Jumat puasanya. Sabtu Minggu ngga puasa. Karena kan
hari libur. Geerrrrrrr. Komedi komedi komedi.
Nowadays, aku bersyukur banget karena alasanku ngga bisa
naik gunung, bukan karena ngga punya uang. Tapi lebih kepada ngga ada waktu,
kesempatan, cuaca yang ngga menentu, dan tentu saja digondeli sang istri tercinta.
Begitulah ceritaku tentang asal mula bagaimana aku mengenal pergunungan
duniawi. Setelah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri, beberapa
gunung di Jawa Tengah yang meanstream, sudah aku daki. Walaupun, setelah sampai
puncak ada beberapa gunung terlihat seperti bukan gunung. Tapi lebih mirip ke
pasar. Isinya manusia dan kebisingan.
Masih banyak hal lain soal gunung yang mau aku certain lain
waktu. Karena ada banyak pengalaman unik waktu naik gunung. Soal bagaimana
seramnya, bagaimana capeknya, bagaimana persiapannya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan,
“Pendaki gunung pada shalat ngga ya? Pasti ngga shalat”. Lain waktu aku tulis. Kalo
ngga ngantuk.







0 komentar