Nyidam atau Nyidam Sih?

by - Februari 20, 2019

“Papah, pengin banget makan sate”, ujar sang istri. “Tapi ini kan udah jam 12 malem mah, mana ada tukang sate yang masih jualan?”, jawab sang suami. “Tapi ini dedek kita yang mau”, balas sang istri sambil mengelus-elus perutnya yang hamil itu. Lalu seketika sang suami mengambil HP dan googling untuk menemukan warung sate yang buka 24 jam. Sejurus kemudian suami itu berpamitan untuk membeli sate yang dimaksud. Ternyata jaraknya kurang lebih 45 menit dari rumahnya dengan ditempuh menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam.



-di warung sate – “Bang sate kambingnya satu porsi”, sang suami meminta ke Kang sate yang sedang tiduran sambil garuk-garuk pantatnya yang korengan. “Dibungkus atau dimakan sini om?”, tanya Kang sate. “Ditusuk Bang, masa digoreng?”, tukas sang suami kepada Kang sate sambil garuk-garuk selangkangan. “Siap om”. Kurang dari 15 menit sang suami sudah menggenggam sebungkus sate. “Berapa Bang?”, tanya sang Suami. “Loh katanya seporsi? Ini seporsi om”, jawab Kang sate. “Maksudnya harganya Bang, dasar kutil kambing”, jawab sang suami. “15 ribu aja om”, jawab Kang sate sambil sikap lilin. Setelah terjadi percakapan tidak penting itu, sang suami segera pulang untuk membawakan sate kambing ke istrinya yang sedang ngidam tersebut.


Sesampainya di rumah, segera sang suami masuk ke kamar untuk menemui sang istri yang sedang tiduran di kamarnya. “Asalamu’alaikum, ini mah satenya seporsi”, kata sang suami sambil menyodorkan bungkusan sate tersebut. “Wa’alaikum salam pah. Sate ayam kan pah?”, tanya sang istri. “Pah, papah kenapa?”, tanya sang istri panik ketika melihat sang suami mimisan dan keluar busa dari mulutnya.


Begitulah kira-kira kejadian yang terjadi di iklan Googel ketika sang suami menghadapi kemauan istrinya yang sedang ngidam. Menghadapi kemauan istri yang sedang ngidam itu ibarat menegakkan titit yang basah. Eh maksudnya menegakkan benang basah. Susahnya minta minta minta ampun. Seperti cerita diatas, aku juga punya banyak cerita lucu menghadapi kemauan istri yang sedang ngidam. Alhamdulillah sekarang anakku sudah jalan 7 bulan. Tetapi sebelum anakku selucu sekarang, kira-kira satu tahun yang lalu, “petaka” demi “petaka” menimpaku karena sikap istriku yang sedang ngidam itu.


Suatu hari, cerita pertamaku terjadi mirip cerita diatas hanya beda klimaks saja. Pada suatu malam, aku baru pulang kerja kira-kira jam setengah 12 malam. Setelah berbincang-bincang cukup lama, tiba-tiba istriku nyeletuk. “Mas, pengin sate ayam di tempat biasa”, tanya istriku tanpa rasa dosa. “Tapi ini kan udah lewat tengah malam nduk, paling juga udah habis”, jawabku sambil kayang. “ngga mau tau mas. Pokoknya aku udah pengin banget. Kayaknya sih dedek yang pengin. soalnya ini pengin banget ngga kaya biasanya”, jawab istriku sambil garuk-garuk dinding. “Aku capek banget nduk”, jawabku dengan ganteng. Lalu aku tak bisa berkata sepatah katapun saat aku lihat istriku sudah mengacungkan gagang sapu tepat di depan mukaku. “Oke, mas ngga capek sama sekali nduk, warung juga ngga mungkin habis. Ini kan malam minggu, paling-paling jomblo-jomblo yang sering ngabisin sate lagi pada mainan sabun di kamar mandi”, jawabku sambil tersenyum dengan pahit.


Singkat kata, dengan kecepatan 80 km per jam selama 30 menit, aku sampai di warung sate. Dan Alhamdulillah dugaanku benar. Sate belum habis dan warung masih buka. Setelah berbincang-bincang ngga penting dengan Kang sate, segenggam sate ayam sudah di genggamanque. Dengan secepat kilat aku gas motorku supaya segera sampai rumah.


“Asalamu’alaikum nduk? Kok rumahnya ngga dikunci?”, tanyaku dengan heran karena pintu tidak dikunci dan ngga ada jawaban. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara desahan seperti layaknya sepasang suami istri yang sedang melakukan perbuatan yang asique syekali yang biasa dibayangkan para jomblo. Amarahku hampir saja meledak. “Kurang ajar, ternyata istriku menipuku. Ternyata dia berbuat sesuatu yang asique”, batinku dalam hati. Lalu aku terhenyak sadar ketika melihat tatanan ruang tamu tidak seperti rumahku sendiri. “Astaghfirullah, ternyata aku salah masuk rumah”, batinku sambil mengendap-endap keluar.


Setelah sampai rumah, segera aku kasih sate ayam ke istri tercintaku. Sejurus kemudian istriku mulai makan sate yang dinanti-nantikannya. Tapi, seperti tersambar kilat di siang bolong, setelah makan kurang dari 1 tusuk, istriku bilang gini. “Mas, satenya habisin kamu aja mas. Dedek udah ngga pengin”, jawab istriku seperti bayi baru lahir, tanpa dosa apapun. Sekilas kemudian istriku cuek saja melihat aku gigit-gigit gagang sapu.


Cerita kedua. Waktu itu kami sedang jalan-jalan di hari libur kerjaku. Karena uang di ATMku yang masih cukup banyak, kita mampir ke tempat nongkrong yang sangat asique di kota Samarinda. Kita pengin ngerasain enaknya kopi seharga puluhan ribu secangkir kecil. Waktu itu aku Cuma pesan satu cangkir saja karena aku takut dengan harga kopi di tempat nongkrong itu. “Ah, mending buat beli nasi rames plus telor lebih asique dan mendidique daripada Cuma buat beli kopi kaya gini”, batinku dalam hati. Tapi demi mengikuti keinginan istriku yang lagi hamil, aku turuti keinginan istriku daripada terjadi perang dunia ketiga. “Mas, satu Hot Caffe Late”. Setelah membayar satu cangkir kopi aneh bin mahal itu, aku memilih tempat duduk untuk ngobrol dengan istriku sambil menikmati secangkir kopi mahal untuk berdua. Biar terlihat romantis walaupun sebenarnya karena maksudku biar irit dan ngga mau rugi. Yang namanya kopi latte, pasti ada buih berwarna putih di bagian atas. 

Nah, petaka dimulai ketika aku minum kopi secangkir itu pertama kali sebelum istriku. Celakanya, aku habiskan latte itu. Ternyata, istriku jengkel dan langsung berubah drastis raut mukanya, dari awalnya seperti Rapunzel, jadi seperti Nenek sihir yang menyihir Rapunzel. “Aduh, mampus. Bisa tidur di luar rumah malam ini”, batinku dalam hati. Ternyata istriku tidak mau minum kopi itu kalau tidak ada lattenya. Aku coba bujuk dia supaya membeli lagi kopi itu. Tapi istriku menolak. “Pokoknya aku mau kopi yang tadi”, jawab istriku sambil gigit-gigit meja kafe. “Gila, ini istriku apa anak TK? Kok bisa punya pemikiran kaya gini? Bunuh aku. Bunuh aku”, batinku dalam hati.

Akhirnya kita sepakat pulang. Sesampai di rumah, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. “Tuhan, kenapa istriku tidak asique sekali?”, batinku sambil guling-guling di lantai rumah.


Kira-kira dua kejadian tadi udah bisa menggambarkan betapa asiquenya menghadapi istri yang sedang ngidam. Sungguh menghadapi istri yang sedang ngidam itu sangat mendidique suami untuk belajar bagaimana menjadi seorang yang sangat sabar dan mengalah. Dan apakah aku akan berhenti untuk menghamili, eh maksudku melayani istriku saat dia ngidam? Sepertinya tidak. Karena melayani istri tercinta saat dia ngidam, pasti akan dihadiahi pahala yang luar biasa karena “penderitaan” yang tiada terkira.

You May Also Like

0 komentar