-di warung sate – “Bang sate kambingnya
satu porsi”, sang suami meminta ke Kang sate yang sedang tiduran sambil
garuk-garuk pantatnya yang korengan. “Dibungkus atau dimakan sini om?”,
tanya Kang sate. “Ditusuk Bang, masa digoreng?”, tukas sang suami
kepada Kang sate sambil garuk-garuk selangkangan. “Siap om”. Kurang dari
15 menit sang suami sudah menggenggam sebungkus sate. “Berapa Bang?”,
tanya sang Suami. “Loh katanya seporsi? Ini seporsi om”, jawab Kang
sate. “Maksudnya harganya Bang, dasar kutil kambing”, jawab sang suami.
“15 ribu aja om”, jawab Kang sate sambil sikap lilin. Setelah terjadi
percakapan tidak penting itu, sang suami segera pulang untuk membawakan
sate kambing ke istrinya yang sedang ngidam tersebut.
Sesampainya di rumah, segera sang suami
masuk ke kamar untuk menemui sang istri yang sedang tiduran di kamarnya.
“Asalamu’alaikum, ini mah satenya seporsi”, kata sang suami sambil
menyodorkan bungkusan sate tersebut. “Wa’alaikum salam pah. Sate ayam
kan pah?”, tanya sang istri. “Pah, papah kenapa?”, tanya sang istri
panik ketika melihat sang suami mimisan dan keluar busa dari mulutnya.
Begitulah kira-kira kejadian yang terjadi
di iklan Googel ketika sang suami menghadapi kemauan istrinya yang
sedang ngidam. Menghadapi kemauan istri yang sedang ngidam itu ibarat
menegakkan titit yang basah. Eh maksudnya menegakkan benang basah.
Susahnya minta minta minta ampun. Seperti cerita diatas, aku juga punya
banyak cerita lucu menghadapi kemauan istri yang sedang ngidam.
Alhamdulillah sekarang anakku sudah jalan 7 bulan. Tetapi sebelum anakku
selucu sekarang, kira-kira satu tahun yang lalu, “petaka” demi “petaka”
menimpaku karena sikap istriku yang sedang ngidam itu.
Suatu hari, cerita pertamaku terjadi mirip
cerita diatas hanya beda klimaks saja. Pada suatu malam, aku baru
pulang kerja kira-kira jam setengah 12 malam. Setelah berbincang-bincang
cukup lama, tiba-tiba istriku nyeletuk. “Mas, pengin sate ayam di
tempat biasa”, tanya istriku tanpa rasa dosa. “Tapi ini kan udah lewat
tengah malam nduk, paling juga udah habis”, jawabku sambil kayang. “ngga
mau tau mas. Pokoknya aku udah pengin banget. Kayaknya sih dedek yang
pengin. soalnya ini pengin banget ngga kaya biasanya”, jawab istriku
sambil garuk-garuk dinding. “Aku capek banget nduk”, jawabku dengan
ganteng. Lalu aku tak bisa berkata sepatah katapun saat aku lihat
istriku sudah mengacungkan gagang sapu tepat di depan mukaku. “Oke, mas
ngga capek sama sekali nduk, warung juga ngga mungkin habis. Ini kan
malam minggu, paling-paling jomblo-jomblo yang sering ngabisin sate lagi
pada mainan sabun di kamar mandi”, jawabku sambil tersenyum dengan
pahit.
Singkat kata, dengan kecepatan 80 km per
jam selama 30 menit, aku sampai di warung sate. Dan Alhamdulillah
dugaanku benar. Sate belum habis dan warung masih buka. Setelah
berbincang-bincang ngga penting dengan Kang sate, segenggam sate ayam
sudah di genggamanque. Dengan secepat kilat aku gas motorku supaya
segera sampai rumah.
“Asalamu’alaikum nduk? Kok rumahnya ngga
dikunci?”, tanyaku dengan heran karena pintu tidak dikunci dan ngga ada
jawaban. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara desahan seperti layaknya
sepasang suami istri yang sedang melakukan perbuatan yang asique syekali
yang biasa dibayangkan para jomblo. Amarahku hampir saja meledak.
“Kurang ajar, ternyata istriku menipuku. Ternyata dia berbuat sesuatu
yang asique”, batinku dalam hati. Lalu aku terhenyak sadar ketika
melihat tatanan ruang tamu tidak seperti rumahku sendiri.
“Astaghfirullah, ternyata aku salah masuk rumah”, batinku sambil
mengendap-endap keluar.
Setelah sampai rumah, segera aku kasih
sate ayam ke istri tercintaku. Sejurus kemudian istriku mulai makan sate
yang dinanti-nantikannya. Tapi, seperti tersambar kilat di siang
bolong, setelah makan kurang dari 1 tusuk, istriku bilang gini. “Mas,
satenya habisin kamu aja mas. Dedek udah ngga pengin”, jawab istriku
seperti bayi baru lahir, tanpa dosa apapun. Sekilas kemudian istriku
cuek saja melihat aku gigit-gigit gagang sapu.
Cerita kedua. Waktu itu kami sedang
jalan-jalan di hari libur kerjaku. Karena uang di ATMku yang masih cukup
banyak, kita mampir ke tempat nongkrong yang sangat asique di kota
Samarinda. Kita pengin ngerasain enaknya kopi seharga puluhan ribu
secangkir kecil. Waktu itu aku Cuma pesan satu cangkir saja karena aku
takut dengan harga kopi di tempat nongkrong itu. “Ah, mending buat beli
nasi rames plus telor lebih asique dan mendidique daripada Cuma buat
beli kopi kaya gini”, batinku dalam hati. Tapi demi mengikuti keinginan
istriku yang lagi hamil, aku turuti keinginan istriku daripada terjadi
perang dunia ketiga. “Mas, satu Hot Caffe Late”. Setelah membayar satu
cangkir kopi aneh bin mahal itu, aku memilih tempat duduk untuk ngobrol
dengan istriku sambil menikmati secangkir kopi mahal untuk berdua. Biar
terlihat romantis walaupun sebenarnya karena maksudku biar irit dan ngga
mau rugi. Yang namanya kopi latte, pasti ada buih berwarna putih di
bagian atas.
Nah, petaka dimulai ketika aku minum kopi secangkir itu
pertama kali sebelum istriku. Celakanya, aku habiskan latte itu.
Ternyata, istriku jengkel dan langsung berubah drastis raut mukanya,
dari awalnya seperti Rapunzel, jadi seperti Nenek sihir yang menyihir
Rapunzel. “Aduh, mampus. Bisa tidur di luar rumah malam ini”, batinku
dalam hati. Ternyata istriku tidak mau minum kopi itu kalau tidak ada
lattenya. Aku coba bujuk dia supaya membeli lagi kopi itu. Tapi istriku
menolak. “Pokoknya aku mau kopi yang tadi”, jawab istriku sambil
gigit-gigit meja kafe. “Gila, ini istriku apa anak TK? Kok bisa punya
pemikiran kaya gini? Bunuh aku. Bunuh aku”, batinku dalam hati.
Akhirnya kita sepakat pulang. Sesampai di
rumah, tak sepatah katapun keluar dari mulut kami. “Tuhan, kenapa
istriku tidak asique sekali?”, batinku sambil guling-guling di lantai
rumah.
Kira-kira dua kejadian tadi udah bisa
menggambarkan betapa asiquenya menghadapi istri yang sedang ngidam.
Sungguh menghadapi istri yang sedang ngidam itu sangat mendidique suami
untuk belajar bagaimana menjadi seorang yang sangat sabar dan mengalah.
Dan apakah aku akan berhenti untuk menghamili, eh maksudku melayani
istriku saat dia ngidam? Sepertinya tidak. Karena melayani istri
tercinta saat dia ngidam, pasti akan dihadiahi pahala yang luar biasa
karena “penderitaan” yang tiada terkira.


0 komentar