Horornya Istriku

by - Mei 13, 2019


Based on true event. 

4 tahun yang lalu.

Aku dan istriku belum menikah. Kami terpisah jarak. Aku merantau ke Samarinda mencari bekal untuk pernikahan kita. Sementara istriku bekerja di salah satu perusahaan jasa pinjam meminjam uang di Banjarnegara. Istriku adalah salah satu orang yang sejak kecil diberi kelebihan bisa melihat makhluk yang tak bisa dilihat orang lain. Intinya, dia bisa melihat hantu. Puncaknya adalah kurang lebih setahun sebelum kami menikah. 

Suatu hari, kepala Cabang kantornya mendatangi istriku saat dia sedang bekerja. “Mulai besok kamu pindah ke Kantor baru”, kata kepala cabang. “Aduh. Kok mendadak gini pak? Padahal saya sudah merasa betah di Banjarnegara”, jawab istriku. “Kamu nurut saja. Ini soalnya agak mendesak dan genting”, kata Kepala Cabangnya lagi. “Emang ada apa pak?”, tanya istriku lagi. “Akhir-akhir ini ada yang aneh di kantor baru. Hampir setiap hari karyawati disana kesurupan. Dan ngga sendiri. Biasanya sampai dua tiga orang yang kesurupan”, jawab kepala cabang. “Waduh, saya jadi makin takut dong pak?”, jawab istriku. “Ngga apa-apa. Insyaallah kamu disana aman”, kata kepala cabang. “Ada apa ini? Kok kepala cabang bilang Insyaallah aku aman disana?”, gumam istriku dalam hati. 

Walau dengan terpaksa, karena istriku hanya karyawan biasa yang tak mungkin menolak kebijakan atasan, akhirnya pada hari yang telah ditentukan, istriku pindah ke kantor baru. 

Kantor baru istriku terletak di pinggiran kota yang cukup ramai. Untuk sampai kesana, hanya butuh beberapa menit dari pusat kota. Hanya saja, dari awal masuk ke gang yang menuju ke kantor baru istriku, aura mistis memang cukup terasa. Letak kantor itu saja sudah cukup seram. Di sebelah kanan, ada sungai kecil dengan pohon bamboo yang cukup rimbun. Di sebelah belakang dan kiri ada kebun warga sekitar dengan beberapa pohon besar yang semakin menambah keseraman. Di depan kantor adalah gang kecil menuju rumah-rumah warga sekitar. Di sekitar kantor baru istriku hanya ada beberapa rumah warga yang sebenarnya cukup ramai. 

Setelah sampai di kantor barunya, istriku langsung berbincang dengan sesama karyawan disana yang sudah lebih dulu bekerja di kantor baru itu. Setelah berbasa-basi, pembicaraan akhirnya mengarah ke kejadian mistis yang akhir-akhir ini terjadi di kantor baru itu. Selain kesurupan masal itu, ternyata masih banyak kejadian lain yang lebih seram. 

Salah satu teman istriku, perempuan. bercerita. Suatu hari, tak ada firasat apapun. Hanya aura-aura seram kantornya saja yang memang sudah biasa dia rasakan setiap hari. Jadi dia mulai terbiasa. Waktu itu dia mandi di kamar mandi Bersama di kantor itu. Ketika dia sedang asyik mandi, tiba-tiba rambutnya dijambak dengan sangat kencang. Dan tak sampai disitu saja. Setelah rambutnya dijambak, tangannya ditarik sesuatu dengan sangat kencang ke dalam kloset. Sangkin kencangnya, tangannya sampai lebam menghitam. Luka lebam itu pun ditunjukkan ke istriku dan bekasnya masih sangat jelas. 

Sampai disitu istriku paham bahwa memang bukan hanya karyawan saja yang menghuni kantor baru itu. Dan istriku tentu saja harus bersiap-siap untuk mengalami kejadian-kejadian aneh. Karena memang istriku biasa mengalami sebelumnya. Apalagi ini yang memang di”sarang”nya.
Dan benar saja. Baru selang beberapa hari setelah kepindahan istriku ke kantor baru itu, istriku langsung mendapat gambaran-gambaran kehidupan yang lain di kantor itu. 

Suatu hari, istriku sedang menyapu di dapur. Hari itu masih siang. Teman-temannya sedang beristirahat di ruang tamu. Tiba-tiba dia merasa ada seorang ibu menuntun anak perempuannya berjalan mondar-mandir di dekat dapur. Namun ketika pandangan istriku mengarah ke ibu dan anak itu, mereka sudah tidak ada. Dan tentu saja di kantor itu tidak ada ibu-ibu dengan seorang anak. Kejadian itu berulang kali dialami istriku hingga istriku merasa terbiasa. “Ya udah lah. Yang penting rupanya ngga serem dan ngga ganggu aku”, kata istriku dalam hati. 

Kejadian kedua. Suatu sore menjelang Maghrib, istriku keluar kantor untuk membeli bakso langganan yang tidak jauh dari kantornya. Samar-samar dia melihat selendang hijau cukup panjang, dengan Pernik-pernik emas yang tersangkut diantara rimbunan pohon bamboo yang aku ceritakan di awal. “Ah paling salah lihat”, kata istriku. 

Setelah melihat itu, istriku bermimpi. Di dalam mimpinya, ada seorang nenek menemuinya. “Kamu mau selendang hijau yang kamu lihat tadi sore? Kalau kamu punya selendang itu, semua keinginan kamu bisa terpenuhi. Tapi sebelum itu kamu harus memberi nenek cucu dulu”, kata nenek itu. “Astaghfirullah”, ucap istriku. Akhirnya dia tersadar. Belakangan dia diberitahu oleh temannya bahwa yang di pohon itu adalah Wewe Gombel. 

Kejadian ketiga adalah kejadian yang menurutku paling epic karena seramnya. Suatu malam sekitar jam 2 dini hari istriku terbangun karena ingin buang air kecil. Dengan segera dia menuju kamar mandi. Setelah selesai, dia membuka pintu kamar mandi dan bersiap keluar. Namun tebak apa yang dia lihat? Seonggok makhluk dengan kain lusuh dengan muka rusak, menghitam, mata terbelalak, bergigi Panjang tak beraturan, dengan pakaian lusuh, berbau menyengat, berdiri tepat di depan dia. Pocong. Istriku melihat rupa pocong dengan begitu jelasnya. “Mas, pokoke aja percaya pocong-pocong kaya ning tivi sing morine isih bersih, raine ya isih apik. Pokoke pocong asline jauh lebih mengerikan”, begitu kata istriku.

You May Also Like

0 komentar