Horornya Istriku
4 tahun yang lalu.
Aku dan istriku belum menikah. Kami terpisah jarak. Aku
merantau ke Samarinda mencari bekal untuk pernikahan kita. Sementara istriku
bekerja di salah satu perusahaan jasa pinjam meminjam uang di Banjarnegara. Istriku
adalah salah satu orang yang sejak kecil diberi kelebihan bisa melihat makhluk
yang tak bisa dilihat orang lain. Intinya, dia bisa melihat hantu. Puncaknya
adalah kurang lebih setahun sebelum kami menikah.
Suatu hari, kepala Cabang kantornya mendatangi istriku saat
dia sedang bekerja. “Mulai besok kamu pindah ke Kantor baru”, kata kepala
cabang. “Aduh. Kok mendadak gini pak? Padahal saya sudah merasa betah di
Banjarnegara”, jawab istriku. “Kamu nurut saja. Ini soalnya agak mendesak dan
genting”, kata Kepala Cabangnya lagi. “Emang ada apa pak?”, tanya istriku lagi.
“Akhir-akhir ini ada yang aneh di kantor baru. Hampir setiap hari karyawati
disana kesurupan. Dan ngga sendiri. Biasanya sampai dua tiga orang yang
kesurupan”, jawab kepala cabang. “Waduh, saya jadi makin takut dong pak?”,
jawab istriku. “Ngga apa-apa. Insyaallah kamu disana aman”, kata kepala cabang.
“Ada apa ini? Kok kepala cabang bilang Insyaallah aku aman disana?”, gumam
istriku dalam hati.
Walau dengan terpaksa, karena istriku hanya karyawan biasa
yang tak mungkin menolak kebijakan atasan, akhirnya pada hari yang telah
ditentukan, istriku pindah ke kantor baru.
Kantor baru istriku terletak di pinggiran kota yang cukup
ramai. Untuk sampai kesana, hanya butuh beberapa menit dari pusat kota. Hanya
saja, dari awal masuk ke gang yang menuju ke kantor baru istriku, aura mistis
memang cukup terasa. Letak kantor itu saja sudah cukup seram. Di sebelah kanan,
ada sungai kecil dengan pohon bamboo yang cukup rimbun. Di sebelah belakang dan
kiri ada kebun warga sekitar dengan beberapa pohon besar yang semakin menambah
keseraman. Di depan kantor adalah gang kecil menuju rumah-rumah warga sekitar.
Di sekitar kantor baru istriku hanya ada beberapa rumah warga yang sebenarnya
cukup ramai.
Setelah sampai di kantor barunya, istriku langsung
berbincang dengan sesama karyawan disana yang sudah lebih dulu bekerja di
kantor baru itu. Setelah berbasa-basi, pembicaraan akhirnya mengarah ke
kejadian mistis yang akhir-akhir ini terjadi di kantor baru itu. Selain
kesurupan masal itu, ternyata masih banyak kejadian lain yang lebih seram.
Salah satu teman istriku, perempuan. bercerita. Suatu hari,
tak ada firasat apapun. Hanya aura-aura seram kantornya saja yang memang sudah
biasa dia rasakan setiap hari. Jadi dia mulai terbiasa. Waktu itu dia mandi di
kamar mandi Bersama di kantor itu. Ketika dia sedang asyik mandi, tiba-tiba
rambutnya dijambak dengan sangat kencang. Dan tak sampai disitu saja. Setelah
rambutnya dijambak, tangannya ditarik sesuatu dengan sangat kencang ke dalam
kloset. Sangkin kencangnya, tangannya sampai lebam menghitam. Luka lebam itu
pun ditunjukkan ke istriku dan bekasnya masih sangat jelas.
Sampai disitu istriku paham bahwa memang bukan hanya
karyawan saja yang menghuni kantor baru itu. Dan istriku tentu saja harus
bersiap-siap untuk mengalami kejadian-kejadian aneh. Karena memang istriku
biasa mengalami sebelumnya. Apalagi ini yang memang di”sarang”nya.
Dan benar saja. Baru selang beberapa hari setelah kepindahan
istriku ke kantor baru itu, istriku langsung mendapat gambaran-gambaran
kehidupan yang lain di kantor itu.
Suatu hari, istriku sedang menyapu di dapur. Hari itu masih
siang. Teman-temannya sedang beristirahat di ruang tamu. Tiba-tiba dia merasa
ada seorang ibu menuntun anak perempuannya berjalan mondar-mandir di dekat
dapur. Namun ketika pandangan istriku mengarah ke ibu dan anak itu, mereka
sudah tidak ada. Dan tentu saja di kantor itu tidak ada ibu-ibu dengan seorang
anak. Kejadian itu berulang kali dialami istriku hingga istriku merasa
terbiasa. “Ya udah lah. Yang penting rupanya ngga serem dan ngga ganggu aku”,
kata istriku dalam hati.
Kejadian kedua. Suatu sore menjelang Maghrib, istriku keluar
kantor untuk membeli bakso langganan yang tidak jauh dari kantornya. Samar-samar
dia melihat selendang hijau cukup panjang, dengan Pernik-pernik emas yang
tersangkut diantara rimbunan pohon bamboo yang aku ceritakan di awal. “Ah
paling salah lihat”, kata istriku.
Setelah melihat itu, istriku bermimpi. Di dalam mimpinya,
ada seorang nenek menemuinya. “Kamu mau selendang hijau yang kamu lihat tadi
sore? Kalau kamu punya selendang itu, semua keinginan kamu bisa terpenuhi. Tapi
sebelum itu kamu harus memberi nenek cucu dulu”, kata nenek itu.
“Astaghfirullah”, ucap istriku. Akhirnya dia tersadar. Belakangan dia
diberitahu oleh temannya bahwa yang di pohon itu adalah Wewe Gombel.
Kejadian ketiga adalah kejadian yang menurutku paling epic
karena seramnya. Suatu malam sekitar jam 2 dini hari istriku terbangun karena
ingin buang air kecil. Dengan segera dia menuju kamar mandi. Setelah selesai,
dia membuka pintu kamar mandi dan bersiap keluar. Namun tebak apa yang dia
lihat? Seonggok makhluk dengan kain lusuh dengan muka rusak, menghitam, mata
terbelalak, bergigi Panjang tak beraturan, dengan pakaian lusuh, berbau
menyengat, berdiri tepat di depan dia. Pocong. Istriku melihat rupa pocong
dengan begitu jelasnya. “Mas, pokoke aja
percaya pocong-pocong kaya ning tivi sing morine isih bersih, raine ya isih
apik. Pokoke pocong asline jauh lebih mengerikan”, begitu kata istriku.


0 komentar