Saya Bukan Sarjana Wagu. Saya Sarjana Bertahan Hidup

by - Mei 14, 2019


Dilansir dari edukasi.kompas.com, Pendidikan formal terbaik saat ini dipegang negara Finlandia. Sudah beberapa tahun negara ini unggul atas Amerika dari segi literasi membaca, sains, dan matematika.

Dilansir dari laporan Big Think yang dipublikasikan World Economic Forum (WEF), sistem pendidikan Finlandia dapat berfungsi dengan baik karena strukturnya ditopang oleh beberapa prinsip utama: Pertama dan terpenting akses yang sama terhadap pendidikan dan siswa diberi kebebasan memilih jalur edukatif mereka berdasarkan minat dan bakat.
Lalu bagaimana dengan Pendidikan di Indonesia?

Jika dibangingkan dengan system Pendidikan di Finlandia, mungkin Indonesia belum bisa berkata banyak. Karena saya sendiri adalah orang yang sudah mengenyam Pendidikan formal di Indonesia dari Sekolah Dasar hingga perguruan Tinggi. Berbanding terbalik dengan di Finlandia yang memberi kebebasan memilih jalur edukatif siswanya berdasarkan minat dan bakat, maka di Indonesia semua harus sama. Itulah mengapa ada ujian Nasional. Semua siswa mulai SD sudah harus belaja matematika, fisika, kimia, sejarah, biologi dan pelajaran lainnya. Padahal Einstein pernah berkata “Jika kepintaran hewan diukur dari caranya dia memanjat pohon, maka ikan adalah hewan terbodoh”.

Tapi, sudahlah. Saya toh bukan siapa-siapa, dan tak punya kapasitas untuk lebih jauh mengkritisi semua itu. Toh saya sendiri adalah salah satu penikmat system Pendidikan di Indonesia sehingga saya bisa mengenyam Pendidikan di Indonesia. Lagian pengantar tentang kondisi Pendidikan di Finlandia dan di Indonesia tadi, hanya untuk menanggapi tulisan teman saya. Tulisannya bisa dibaca disini.

Baiklah, mari kita mulai.

Teman saya bernama Fitran Zain Nur Abduh. Dia adalah teman seperjuangan semasa SMA dan terus berlangsung sampai sekarang. Memang sih saya harus mengakui bahwa pertemanan ini dapat berlangsung sampai sekarang, karena saya merasa ada symbiosis antara kami berdua. Sayangnya, sepertinya ini adalah jenis symbiosis parasitisme. Begitulah Fitran menilai hubungan pertemanan kita. Karena Fitran merasa selama ini dia menjadi inang, sementara saya hanya menjadi benalu bagi dia. Ada banyak contoh yang tak perlu saya jelaskan karena ini merupakan aib bagi saya, dan tentu akan semakin membuat Fitran jumawa.

Fitran adalah seorang yang luar biasa. Dia adalah seorang bujang garis lurus dengan produktivitas yang sangat tinggi. Selepas lulus SMA, dia langsung menjadi ujung tombak Pengurus Daerah Muhammadiyah. Artinya dia menjadi kunci berjalannya organisasi Muhammadiyah di tingkat Kabupaten. Kurang prestisius apa coba? Sebuah jabatan keren untuk seorang jomblo yang tak berkesudahan. Yang lebih luar biasa, setelah beberapa tahun bekerja, dia mampu melanjutkan pendidikannya hingga Perguruan Tinggi dengan biaya sendiri. Walaupun Kampusnya itu tidak keren-keren amat.

Sebelumnya, saya berterima kasih kepada Fitran yang sudi menulis di blog pribadinya sekedar untuk “mengusik” kehidupan saya. Merasa tersanjung. Begitulah perasaan saya. Karena seberapapun Anda membully saya, ternyata saya ada tempat tersendiri di kehidupan Anda. Itulah mengapa Anda menulis tentang secuil kehidupan saya. Walaupun tentu saja, disini saya akan memberikan sanggahan atas tulisan Anda itu. Karena setelah saya baca dengan seksama, banyak disinformasi yang akan menyesatkan pembaca blog Anda.

Yang pertama, terima kasih karena Anda sudah mengatakan saya adalah orang yang pintar. Tapi saya lebih pintar dari itu. Saya adalah orang yang jenius tapi low profile. Anda sendiri yang bilang bahwa saya acak-acakan, tidak pernah berkutat dengan buku, dan selalu bergaul dengan siswa-siswa tak jelas seperti Anda. Bayangkan bagaimana jika saya melakukan kebalikan dari itu semua? Anda tidak akan mengenal saya. Karena pasti sudah bekerja di kantor Google.
Secara umum Anda mengatakan bahwa saya menjadi sarjana yang wagu karena saya kuliah berbeasiswa di kampus yang cukup bergengsi dengan jurusan IT, sementara saya tidak bekerja di bidang IT.  Baiklah, mari kita sanggah itu semua.

Saya pernah bekerja di sebuah minimart. Memang benar. Tapi hey, pernahkah Anda merasakan bagaimana harus segera menikah sementara saya belum punya pekerjaan? Baiklah. Percuma saja menanyakan ini kepada Anda. Anda adalah jomblo akut menahun. Lagian Anda sebagai seorang jomblo, Anda sungguh tak tahu diri. Sudah tahu Anda jomblo, tak punya kapasitas, kok menilai wagu hanya karena saya juga pernah bekerja sebagai perangkat Desa bagian keuangan? Hey, Anda belum pernah merasakan bagaimana istri meminta make up sementara anak Anda kehabisan susu dan popok kan? Lagi-lagi ini pertanyaan mubadzir ditanyakan bagi seorang jomblo tak tahu diri seperti Anda. Saya sedang bertahan hidup wahai jomblo.

Lagian Anda seharusnya tahu konsep yang bernama "batu loncatan". Anda memang jomblo. Tapi seharusnya Anda tidak bego. Dan Anda lihat sendiri sekarang saya sudah CPNS. Dalam hal ini, Anda kalah telak saudaraku.

Selanjutnya Anda mengatakan bahwa saya menjadi sarjana yang wagu hanya karena website saya yang masih dot online dan Anda mengatakan kalah dengan Anda yang sarjana Akuntansi. Sungguh ini adalah sebuah pernyataan yang tidak ada relevansinya. Mari kita ambil contoh percakapan berikut ini:

Calon Mertua : “Apa kelebihan kamu sehingga mau melamar anak saya?”.
Calon mantu :”Saya punya domain  dot com pak. Padahal saya Sarjana Akuntansi. Teman saya yang sarjana IT saja hanya punya dot online”.

Apakah dengan jawaban itu, Anda bisa diterima menjadi mantu? Apakah dot com sangat membanggakan? Sungguh pikiran yang sangat picik. Lagian kan saya sudah tidak bekerja selama 3 bulan. Dan dot com itu ada harganya. Yaiyalah saya beli yang dot online . Murah cuy. Heuheu.

Ngomong-ngomong soal susu, saya memang sudah 3 bulanan belum bekerja karena SK CPNS saya tidak kunjung turun. Dan susu anak saya memang sudah mau habis. Sepertinya sebagai sahabat karib, Anda sudah tahu harus berbuat apa tanpa saya meminta dulu :D

You May Also Like

0 komentar