• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?


1975, di sebuah daerah di New Jersey, America Serikat, tinggallah seorang anak, Jon (yang bernama asli John Francis Bongiovi, Jr), yang berusia 13 tahun dan mahir bermain piano. Itu pasti karena sejak kecil dia bermain piano. Kalo dari kecil ‘main hati’ pasti besarnya jadi Andra and The Backbone. Apasih?

 Saat berumur 16 tahun bertemulah Jon dengan seorang anak yang lain yang bernama David Bryan dan mereka sepakat membentuk band pertama mereka yang bernama ‘Raze’. Walaupun mereka masih di bawah umur, mereka sering sekali manggung di klub-klub di New Jersey.

Jon : “Pid, gawe band yo! Bosen ning ngumah bae ora ana gawean. Rebahan terus marakna lemu banget. Delok iki wetenge wis kaya kaya onta. Bergelambir”.

David: “Ayo siap. Aku ya wis suwe ora dolanan music. Jebul dolanan cewek terus ya bosen”.

Begitulah awal percakapan mereka membentuk sebuah band. Setelah melalui perjalanan Panjang, akhirnya mereka mengeluarkan single pertama “Runaway” yang ternyata mendapat sambutan yang luar biasa di pasar music saat itu.

Sementara itu. Di lain tempat nun jauh dari New Jersey Amerika, tahun 2003, di sebuah kampung yang sangat terpencil -sebut saja kampung Sabrang- yang tingkat kemajuannya bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan dengan New Jersey, tinggallah seorang anak berumur kurang lebih 12 tahun. Sebut saja Namanya Mas Kas. Dia tinggal Bersama neneknya karena setelah kedua orang tuanya bercerai,  dia menumpang hidup di rumah neneknya.

Mas Kas mempunyai tetangga seorang perempuan yang menikah dengan seorang pemuda ibukota. Sebut saja perempuan itu bernama Galih dan suaminya Ratna. Atau terbalik? Terserah wong ini Cuma ilustrasi. Sebagai seorang pemuda ibu kota tentu saja Galih mempunyai style dan selera yang berbeda dengan orang-orang di kampung Sabrang. Termasuk selera musiknya. Bila waktu itu tahun 2003 orang-orang di kampung Sabrang masih mendengarkan Gending dan Campursari, maka Galih sudah mendengarkan lagu-lagu barat.

Sebagai gambaran, di kampung Sabrang, orang-orang terbiasa memainkan music dengan suara yang keras sampai terdengar jauh ke beberapa rumah tetangga. Bahkan, bagi Sebagian warga kampung Sabrang, semakin keras dan mantapnya suara music mereka, maka akan semakin menambah gengsi dalam hidup mereka. Kalo orang kota untuk bergengsi mereka tinggal memakai pakaian bermerk, nongkrong lah di café-café dan terlihat gengsinya. Masa orang kampung Sabrang harus bawa sound system waktu nongkrong?

Karena Galih yang terbiasa memainkan music-music barat dengan suara keras, maka mau tak mau  suara music itu harus sampai ke rumah nenek Mas Kas dan tentu saja ke telinga Mas Kas. Begitulah seterusnya setiap hari, berulang-ulang, dengan lagu-lagu yang sama karena waktu itu masih jamannya VCD player. Sebenarnya ada perasaan kurang suka di hati Mas Kas yang terus mendengarkan music yang keras dari rumah orang lain. Tetapi entah kenapa, sebagai seorang anak kampung yang terbiasa dengan culture gending dan campursari, justru Mas Kas menyukai music-music yang diputar Galih. Terlebih lagi, ada satu lagu yang sangat Mas Kas sukai dan selalu terngiang-ngiang di telinga dia. Tapi dia tidak tahu itu lagu apa dan siapa yang menyanyikan. Karena lagunya memang berbahasa Inggris.

Setelah melalui perjalanan Panjang, Mas Kas baru tahu kalau lagu itu berjudul Always yang dinyanyikan sebuah band dari New Jersey Amerika, Bon Jovi.

Begitulah cerita awal mula saya mengenal Bon Jovi. Mulai saat itu, saya mulai mencari info tentang mereka, lagu-lagu mereka, dan juga cerita yang mengiringi perjalanan mereka, dan semakin hari pula saya semakin suka dengan music mereka.

17 tahun sudah Bon Jovi menemani perjalanan hidup saya di dunia fana ini. Ada begitu banyak highlight kehidupan saya yang diiringi musik Bon Jovi. Mengenai hal-hal itu dan mengapa saya menyukai Bon Jovi, akan saya tulis di lain kesempatan. Kalo saya ngga ngantuk.

“We've gotta hold on to what we've got

It doesn't make a difference if we make it or not

We've got each other and that's a lot For love”

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apa aku pernah cerita kalo dulu selepas SD pernah putus sekolah? iya. Aku yang sekarang ini jadi seorang guru nan tampan rupawan ini dulu pernah putus sekolah. dan putus sekolahnya itu ngga main-main. Lulus SD langsung putus sekolah. Sebuah ironi yang sangat menyakitkan pankreas dan kantung empedu, mengingat di SDku dulu, aku termasuk murid yang pintar. Kenapa kok sampai putus sekolah? Panjang ceritanya. Ngga sepanjang angan-angan saya yang pengin punya Honda HRV Prestige sih. Tapi pokoknya panjang lah ceritanya.

Jadi, sehabis kejadian putus sekolah itu, aku dan satu orang temanku yang sama-sama putus sekolah, merantau ke sebuah kota kecil di Jawa Barat bernama Majalengka. Tunggu tunggu. Kok ada temenku yang putus sekolah juga ya? Apa jangan-jangan putus sekolah sebenernya bukan hal istimewa di desaku? Jangan-jangan putus sekolah jadi sebuah passion buat masyarakat kampung kaya kami? Apa jangan-jangan pemerintah ngga hadir di situ? Ah sudahlah. Kita lanjut cerita aja.

Majalengka sebuah kota kecil di Jawa Barat, menjadi tujuan aku dan kawan aku buat merantau. Majalengka itu, diantara Sumedang, Cirebon, Indramayu, Kuningan. Kalo kalian sudah sampai di ujung Cirebon sebelah wetan, tanya aja sama warga yang lagi duduk-duduk di pinggir jalan. "Pak mau tanya, disini yang namanya Asep sama Ujang dimana?". Kalo jawabannya "Wah Asep sama Ujang ada dimana-mana pak", berarti kalian udah sampai di Majalengka.

Singkat cerita, aku tiba di rumah seorang bos, Distributor besar Jamu Nyonya Meneer. Tahu kan jamu legendaris produksi Ungaran Semarang yang di bungkusnya ada foto ibu-ibu yang tulisannya berdiri sejak 1919? Kalian pernah bayangin ngga, ada ibu-ibu berdiri dari tahun 1919? Gila bener. Laki-laki aja berdirinya paling lama 10 menit. Apa? Kalian bisa berdiri sejam? Kok punyaku bentar doang? Apaan sih?

FYI, perusahaanya sekarang udah pailit. Jadi intinya saya punya bos seorang distributor Jamu Nyonya Meneer yang cukup besar. Armadanya banyak, karyawannya banyak, rumahnya besar, dan peliharaanya banyak. Punya burung. Pasti lah. Kan laki-laki. Masa ngga punya burung? Aduh. kesitu lagi. Maksudku, peliharaannya banyak. Ada burung perkutut, burung kicauan, ayam, ikan, anjingnya macem-macem jenis, bahkan punya peliharaan simpanse sama orang utan. Nah, pekerjaanku salah satunya adalah ngasih makan hewan-hewan yang aku sebutkan tadi. Kecuali perkutut ya. Karena perkututnya bosku itu memang udah dikelola profesional dan punya karyawan kusus yang setiap hari merawat burung. Perkutut.

Pekerjaan pokok lainnya yaitu bersih-bersih rumah. Rumahnya itu gedenya luar biasa. Bukan cuma bangunan rumahnya aja yang gede sih. Tapi areanya itu yang nggilani. Jadi seluruh area rumah bosku itu dipagar tembok tinggi. Karena antara rumah bosku, kantor karyawan jamu, dan area hewan-hewan itu menjadi satu di dalam tembok tinggi itu. Jadi kalo udah mulai bersih-bersih, waktunya lama dan sangat melelahkan jiwa raga. Mana gajiku waktu itu aduh kalo diinget sekarang rasanya menyedihkan. Untung aja semua orang disana baiknya luar biasa. Mungkin karena kasihan juga lihat aku yang begitu polos, kecil, lucu menggemaskan sudah harus bekerja terpisah ratusan kilometer dengan keluarga.

BTW, bosku ada keturunan China Jawa, Nasrani. Jadi di dalam rumahnya ya banyak patung-patung Yesus, Bunda Maria gitu. Mulai dari yang kecil-kecil yang dipajang di lemari-lemari, sampai yang gede banget yang ada di dalam kamar tidur bosku.

Suatu hari aku lagi bersih-bersih ruang keluarga. Di dalam ruang keluarga itu ada lemari cukup besar dan ada patung Yesus dan Bunda Maria di lemari itu. Dasar aku yang memang dari kecil suka pethakilan, ndilalah aku ngga sengaja menjatuhkan patung Yesus dan hancur kira-kira jadi 3 bagian. Gila.Waktu itu takutnya bukan main. Sampai sekarang aja aku masih inget takutnya kaya gimana waktu itu. Untungnya bukan yang gede. Untungnya lagi, ngga ada siapapun disitu waktu itu. Tengok kanan kiri, aman. Aku kumpulin serpihan-serpihan patung Yesus itu, terus aku coba satukan kira-kira kalo dikasih lem Alteco masih bisa nyatu apa ngga. dan ternyata aku lihat kayaknya ngga kentara habis jatuh kalo disatuin pake lem Alteco. dengan secepat kilat aku beli lem yang kalo nempel di kulit sangat menyebalkan jiwa itu. Akhirnya patung Yesus menyatu lagi dan hasilnya juga ternyata lumayan.

Itu bener-bener kejadian yang ngga bakal aku lupain seumur hidup aku. karena waktu itu, kejadian itu adalah kejadian cukup mendebarkan sepanjang umur aku. FYI, aku Muslim yang Insyaallah sedikit paham dan memegang teguh Tauhid agamaku. Sekarang. Tapi waktu itu, waktu masih polos itu, tahun 2003 itu, apa kalian tahu yang paling aku pikirkan dan membuat aku takut? aku takut Yesus marah. :D
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

“Pak, kiye priwe carane? Deneng komputere ra bisa urip?”, celetuk salah satu siswa saya ketika pelajaran TIK sedang berlangsung. Di sudut yang lain ada lagi siswa yang lain nyeletuk , “Kiye komputere ruwag ya pak? Deneng ora kena nggo Youtuban?”.
Bukan soal computer yang membuat saya cukup kaget. Karena saya tahu sebenarnya computer itu tidak ada masalah, hanya saja mereka yang belum begitu tahu cara mengoperasikan computer dengan benar.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Rasanya memang hanya rasa syukur kepada Allah yang patut saya ungkapkan ketika saya mengingat nikmat-nikmat yang Allah limpahkan di tahun-tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, setelah anak pertama saya berumur kurang lebih 2,5 tahun, saya dipercaya kembali oleh Allah untuk punya anak lagi. Tidak seperti anak pertama yang direncanakan penuh perhitungan, anak kedua ini sama sekali tidak direncanakan. Tiba-tiba saja istri saya telat satu minggu dan ketika ditest -dengan test pack tentunya- ada 2 garis merah di test pack tersebut.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa,  dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.

Tentu saja aku bingung mau tinggal dimana karena  tidak punya siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga. Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen. Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen, hanya saja beda instansi.

Di kontrakan itulah ide tulisan ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.

Setiap orang yang sudah berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana saja. 

Di setiap ada kesempatan, mereka berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main, yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.

Pun demikian yang terjadi denganku saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku. Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih bias pulang seminggu sekali.

Sebenarnya ini bukan hubungan jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah. 

Walaupun kadang rasa kangen tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku boyong kesini. 

Begitulah sedikit ceritaku mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.  

Kepada semua bapak-bapak hebat pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing. 

 FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

“Pokoknya saya harus lulus tepat waktu. Maksimal 4 tahun saya sudah harus wisuda”, batin saya waktu itu. Dengan semangat berapi-api, saya selesaikan kuliah saya tepat waktu. Alhamdulillah, dengan perjuangan yang panjang, saya dapat lulus kurang dari 4 tahun. Lebih tepatnya 3 tahun 11 bulan 28 hari.

Akhirnya saya menyandang predikat S.Pd, Sarjana Pendidikan. Sesuai dengan kodrat, seharusnya setelah lulus saya harus menjadi seorang guru. FYI, sejak jaman Angling Darma masih memerintah di kerajaan Malwapati, saya memang ingin menjadi seorang guru. Tetapi apa mau dikata, dunia persilatan berkata lain. Sang penggurat goresan kehidupan, menghendaki saya menjadi seorang karyawan minimarket. Sebuah nasib yang sangat kontras dan sangat tidak nyambung. Layaknya seorang jomblo yang mengejar-ngejar gebetannya namun gebetannya jalan dengan lelaki lain.

Yup, 2 tahun lamanya saya menjadi seorang karyawan sebuah minimarket yang cabangnya tersebar secara sporadis di seluruh antero Indonesia. Bagaikan jomblo yang setiap malam minggu menyebar di sudut-sudut gang. Sebuah minimarket dengan awalan Indo, berakhiran Maret. Betul. Matahari. Saya yakin minimarket ini dulunya dibangun di bulan April. FYI, saya dulu masuk di cabang Samarinda. Lalu, kenapa sih orang yang tampan rupawan yang lulusan pendidikan ini bisa menjadi karyawan minimarket? Dan juga kenapa harus di Samarinda? Suatu saat akan saya bahas di tulisan lain.

Singkat cerita, 2 tahun setelahnya, karena waktu itu istri saya hamil besar dan memutuskan pulang ke Jawa, akhirnya saya menyusul kembali ke Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan dan memutuskan untuk melanjutkan kehidupan yang fana ini di Kampung halaman.

Selepas itu, saya mencoba peruntungan mendaftar menjadi seorang perangkat Desa. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, akhirnya saya diterima menjadi Kepala Urusan Keuangan. Sebuah jabatan yang belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah jabatan penuh dengan resiko dan pengorbanan tinggi mengingat semua uang yang diperoleh dari sumber manapun ke desa mengalir melalui Kepala Urusan Keuangan. Kenapa perangkat Desa? Jujur saja, sebelum saya menjadi Kaur Keuangan, saya sudah diterima menjadi tenaga honorer di sebuah sekolah di daerah tempat tinggal saya. Namun baru saja saya mendaftar, list kebutuhan anak saya sudah terpampang jelas di depan mata. Susu SGM Merk Frisian Flag, Pampers merk Merries, dan kebutuhan-kebutuhan lain dengan nominal yang tidak kecil sudah menanti untuk dipenuhi. Sementara kita semua tahu berapa gaji guru honorer. Memang rejeki Allah sudah atur. Tapi manusia juga diberi kesempatan untuk berikhtiar. Nah, ikhtiar saya waktu itu adalah dengan memilih menjadi seorang perangkat desa.

Memang garis hidup sudah ditentukan. 2 tahun setelah saya menjadi Perangkat Desa, dibukalah pendaftaran CPNS tahun 2018. Harapan untuk saya menyalurkan ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah akhirnya terbuka. Semangat menggebu-gebu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk berlatih soal-soal CPNS yang dulu pernah keluar di tahun-tahun sebelumnya. Selain berusaha sekuat tenaga, berdoa juga menjadi andalan saya di setiap waktu. Karena saya yakin bahwa sehebat apapun usaha yang saya lakukan, tidak akan berhasil tanpa ridho dari Sang Maha Kuasa.

Untuk detail tahapan dan perjalanan saya menjadi seorang CPNS, bisa dibaca disini. Dijamin konyol dan agak lucu.

Singkat cerita, Alhamdulillah saya resmi menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang lama terpendam dan belum tersalurkan yang akhirnya di tahun 2019 ini bisa terrealisasi. Kementerian Agama , menjadi kementerian yang menaungi pekerjaan saya ini.

MTs Negeri 4 Kebumen, sebuah MTs di pinggiran kota Kebumen, menjadi tempat pertama saya menjalankan tugas. FYI, basic pendidikan saya adalah Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer. Jadi di MTs 4 saya pasti mengajar TIK dong. Tetapi karena pelajaran TIK di SMP hanya 1 jam per minggu, maka saya diminta untuk mengajar Seni Budaya. Sebuah pengalaman baru lagi mengingat ini adalah kali pertama kali saya mengenal materi seni Budaya.

Lah kenapa saya yang basicnya komputer kok ngajar seni Budaya? Usut punya usut, suatu saat saya bermain keyboard yang ada di sekolah. Nah, ndilalah bagian kurikulum melihat saya sedang bermain keyboard itu. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mengatakan, “Oke tahun pelajaran ini Bapak ngajar seni Budaya”. “Baiklah”, begitu langsung saya jawab. Beliau ngga tahu kalo sebenarnya saya cuma hafal chord C. Itupun C Mayor. Soalnya C Minor ada tuts hitamnya. Hehehe

Singkat cerita, saya sudah 2 bulan ini menjadi guru seni Budaya dan TIK. Banyak banget cerita yang mengiringi perjalanan saya mencoba menjadi seorang guru. Mulai dari tingkah anak-anak yang agak konyol, sampai hal-hal yang membuat jengkel. Banyak hal lucu, banyak pula hal-hal yang menjengkelkan. Insyaallah akan ada banyak cerita yang akan ditulis di blog ini. Itu Kalo saya tidak ngantuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM