• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?


Anak saya yang besar, Divya, beberapa hari ini sedang tergila-gila sekali dengan Boboiboy. Karakter kartun dari Negeri Jiran yang mempunyai kekuatan super yang didapatkan dari sebuah robot yang datang dari luar angkasa, yang dengan kekuatannya itu, Boboiboy dan kawan-kawannya berusaha melindungi bumi dari tokoh antagonis utama yaitu seekor alien berkepala kotak berwarna hijau bernama Adudu. Yang aneh, Adudu mengincar planet bumi dikarenakan ingin mendapatkan kekuatan yang bersumber dari cokelat. Iya. Cokelat. Cokelat yang untuk bahan minuman atau Silver Queen itu. Tidak terbayang bagaimana seandainya Soekarno hidup di planet Adudu. Karena beliau tinggal di bumi, beliau pernah pidato seperti ini, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia.
 Kalau di planet Adudu, pasti kalimatnya akan menjadi seperti ini, “Berikan aku 10 karton cokelat, maka akan aku goncangkan tata surya”. Sangat tidak elegan diucapkan oleh seorang Soekarno. Geeeerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Kesukaan Divya kepada Boboiboy diawali ketika RTV, sebuah stasiun televisi swasta yang memang hampir setiap saat isinya acara anak-anak,  mulai menayangkan Boboiboy setiap hari, pagi dan malam. Karena kesukaanya itu, anak saya mulai terobsesi dengan salah satu karakter di kartun Boboiboy. Gopal. Karakter yang lucu, penakut, cerewet, nyeleneh, absurd, pokoknya Gopal ini karakter bagian lucunya di kartun Boboiboy. Gopal ini mempunyai kekuatan mengubah segala sesuatu menjadi makanan. Dengan kekuatan itu, Gopal dapat dengan mudah mengubah serangan-serangan musuh menjadi hanya sebuah lelucon tak berguna. Hal ini juga karena memang Gopal sangat suka makan. Bahkan ketika pulang dari luar angkasa setelah bertarung dengan musuh, Bapaknya yang ada didepannya tidak dihiarukan dan langsung lari karena ingin segera makan makanan ibunya di rumah. Sepertinya, sifat Gopal yang suka makan tidak jauh beda dengan saya.

Karena obsesi kepada Gopal itu, Divya berusaha membawa karakter Gopal ke dunia nyata. Kami, satu keluarga, sering sekali harus menjadi seperti Gopal. Sebagai gambaran, dalam kesehariannya Gopal selalu memakai semacam bandana untuk merapikan rambutnya. Karena hal itu, saya sering harus memakai ikat rambut yang dilingkarkan ke kepala supaya menjadi seperti Gopal. Begitu pula dengan istriku. Bahkan kakek dan neneknya. Baru saja tadi pagi saya harus memakai ikat rambut padahal mau pergi ke pasar. Mirip Gopal engga, kaya orang stress iya.  

FYI, saya juga sangat sangat sangat menyukai serial Boboiboy. Jauh lebih suka daripada serial Upin dan Ipin, apalagi serial Jeritan Hati Seorang Istri di Indosiar. Saya malah menyukai serial Boboiboy ini sudah sangat lama. Jauh sebelum anak saya mengenal Boboiboy. Kalau tidak salah ingat, waktu itu belum tayang di televisi, atau mungkin pernah tayang tapi bukan di RTV.

Sangkin Sukanya saya dengan serial Boboiboy, saya sampai download semua episode dari Youtube resminya Monsta, Publishernya Boboiboy, dari musim pertama sampai musim Boboiboy Galaxy. Dan itu dulu saya lakukan waktu masih menjadi perangkat desa. Seorang perangkat desa yang ganteng, berwibawa, mempesona, dengan setelan kekinya, yang cukup dipandang oleh warga desanya, ternyata serial favoritnya Boboiboy. Apa itu Money Heist? Apa itu Attack On Titan?

Dengan tayangnya serial Boboiboy di RTV, ini menjadi salah satu nostalgia indah saya. Membayangkan dulu ketika saya pusing sekali mengelola uang negara saat menjadi Bendahara desa, menonton Boboiboy adalah salah satu obat ampuh untuk mengembalikan energi positif.

Sekarang, gara-gara serial ini tayang di TV,  istri saya sering marah-marah karena saya sering ketawa ngakak sendiri melihat kelakuan Gopal, padahal anak saya yang kecil sedang nyungsruk di depan mata.

Coba kalo saya punya kekuatan seperti Gopal. Akan saya ubah omongan orang-orang menjadi makanan enak. Mereka yang ngoceh, kita yang gemuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Membesarkan anak adalah seni kehidupan yang luar biasa. Ada begitu banyak hal-hal baru yang tidak kita temui di kala hidup sendiri. Ada begitu banyak kejadian yang membuat kita harus mengernyitkan dahi, membuat kita tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja ada hal yang membuat kita harus menangis dalam perjalanannya. Mari aku ajak pembaca untuk ikut merasakan  beberapa hal yang aku alami Ketika membesarkan anakku.

Anak pertamaku berumur 4 tahun. Aishwarya Divya Lituhayu Namanya. Luar biasa aktif, jarang sekali diam, dan cukup keras kepala kalo sudah kepengin sesuatu. Like father like son. Begitulah peribahasa yang sangat menggambarkan anak pertamaku ini. Karena konon, menurut penuturan ibuku, aku adalah orang yang kalau sudah kepengin sesuatu, harus segera terlaksanakan. Tidak boleh tidak. Pernah suatu ketika aku kepengin sekali makan ayam. Ibuku bilang “Oke. Besok ya. Ibu ke pasar dulu. Nanti sepulang dari pasar, ibu bawa ayam”. Beberapa saat setelah dijelaskan, aku malah naik ke lemari tempat menyimpan makanan, mencari-cari barangkali ayam sudah ada di lemari, dan membuat lemari roboh.

Ada banyak hal lain yang ibuku ceritakan mengenai keras kepalanya aku sewaktu kecil. Seperti disengat lebah padahal sudah dibilangin jangan dipegang, menggoda cewek yang ternyata adalah cowok Cuma gara-gara rambutnya Panjang, dan banyak hal absurd lain yang aku lakukan sewaktu kecil.

Seperti aku bilang tadi, like father like son. Begitu pun dengan Divya. Suatu ketika dia pengin banget bermain ke taman wisata baru yang ada di Banjarnegara.

Divya : “Yah, ada tempat wisata baru di Banjarnegara, pengin main kesana. Ada Teletubies raksasa, ada hewan-hewan raksasa, pokoknya bagus-bagus yah. Ayo kesana”.

Aku : “Ada janda-janda cantik raksasa ngga Mba?”

Divya : “Coba tanya gitu ke ibu!”

Aku : -Terdiam seribu Bahasa- ……………………….  “Ya udah. Kita kesana”.

Divya : “Ya udah ayo siap-siap. Ayah panasin dulu motornya. Kita berangkat”

Aku : “Jam berapa mba? Ini kan jam 7 malem. Mau kesana ngapain jam segini? Mau ronda?”

Begitulah seonggok contoh bagaimana Divya kalo sudah kepengin sesuatu.

Selain sifat “keras”nya itu, dia juga punya imajinasi yang cukup unik dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Mari aku ceritakan.

Divya adalah anak rumahan sekali. Jarang sekali keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya. Kalau orang dewasa mungkin disebutnya introvert. Teman pun Cuma punya beberapa biji. Kalau pun bermain dengan teman-temannya, mereka yang datang ke rumah.

Suatu ketika ada 2 teman Divya datang ke rumah. Namanya Askana dan Zara. Ceritanya mereka sedang bermain jual beli. Askana berperan sebagai pembeli dan Zara berperan sebagai penjual. Transaksi mereka terjadi di sebuah mall. Askana meminta Divya untuk berperan sebagai teman dan menemani Askana belanja di Mall. Dan tebak apa yang terjadi? Divya tidak mau menjadi teman dan memilih menjadi Dinosaurus. Dinosaurus yang berjalan-jalan di mall, menemani Askana belanja. Diperagakannya pula Gerakan Dinosaurus itu layaknya seekor Tirex. Alhasil, istri dan ibu mertuaku yang waktu itu sedang mendengarkan, tertawa terbahak-bahak sekaligus mangkel. “Divya, mana ada Dinosaurus jadi teman manusia, terus jalan-jalan di Mall sambil belanja?”, kata istriku menasehati.

“ya sudah aku jadi kucing saja. Menunggu Askana di luar mall”, jawab  Divya sambil memperagakan Gerakan kucing sedang menjilati bulu-bulu kakinya.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

 

Gara-gara film 5 cm, semua orang pengin naik gunung. Bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, anak kecil, bapak-bapak yang bawa anak kecil, ibu-ibu yang bawa anak muda, anak muda yang bawa bapak-bapak, semuanya pengin mendaki gunung.  Padahal ini termasuk olahraga yang tergolong ekstrim. Bahkan aku sering lihat pasangan suami istri bawa anak balitanya naik gunung. Aku cukup dibuat heran kalo yang model gini. Soalnya waktu itu aku pernah lihat di puncak Prau, ada balita yang bahkan jalannya itu masih sempoyongan, sedang dituntun kedua orang tuanya. Kayaknya, orang tuanya mau nganter anaknya ke Posyandu, tapi salah jalur. Akhirnya iseng sekalian sampai ke puncak.

Gara-gara film 5 cm pula, banyak anak muda alay (ada yang tua juga sih), yang ngga tahu menahu tentang dunia pendakian, tiba-tiba pengin naik gunung dengan bekal pengetahuan dan logistic seadanya. Yang penting eksis. Instastory estetik. Instagram banyak like, postingan di grup facebook banyak sanjungan. Begitulah kira-kira gambaran para pendaki dadakan di era sekarang. Tentu saja tidak semua pendaki seperti itu. Banyak juga pendaki baru yang benar-benar mempelajari bagaimana menjadi pendaki yang baik dan benar sebelum mendaki gunung.

Sekali lagi, sebenarnya kegiatan mendaki gunung adalah termasuk kegiatan ekstrim dan penuh resiko. Silakan search berapa banyak pendaki yang meninggal di gunung, atau bahkan sampai sekarang tidak diketemukan keberadaannya. Hal ini membuktikan bahwa mendaki gunung bukanlah kegiatan yang bisa dianggap sepele dan sembarangan dalam persiapannya. Ada banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari sebelum benar-benar ingin mendaki gunung.

Ngomong-ngomong soal mendaki gunung, aku mulai kenal dengan dunia pendakian gunung waktu aku kelas satu SMA. Waktu itu di sekolah ada ekskul Pecinta Alam atau yang biasa disebut PA. Alasanku masuk ekskul pecinta alam karena aku cukup menyukai aktivitas outdor. Dan aku banyak dapat cerita dari senior-senior bahwa di ekskul pecinta alam sering banget ngadain kegiatan di luar sekolah, yang ternyata memang benar. Setelah aku masuk ekskul PA, memang banyak banget kegiatan di luar sekolah yang menurutku sangat bermanfaat. Waktu itu kami lagi gencar-gencarnya ikut sosialisasi Global Warming dan penanaman pohon. Kami berkeliling seantero Banjarnegara untuk melakukan sosialisasi dan penanaman pohon. Kadang di SMA-SMA tetangga, kadang malah di desa antah berantah yang jauh dari perkotaan.

Di ekskul PA juga lah akhirnya aku mengenal dunia pendakian. Bukan langsung mendaki gunung dengan tanpa bekal apapun. Tapi kami harus melakukan serangkaian kegiatan di suatu gunung dengan mempraktikkan berbagai macam hal-hal dasar yang wajib diketahui oleh pendaki gunung. Kami diajari navigasi darat, membaca kompas, rock climbing, survival, dan masih banyak ilmu-ilmu yang lain yang semuanya itu sangat berguna jika suatu saat amit-amit terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan Ketika mendaki gunung.  

Selain kegiatan-kegiatan itu, ngga afdol dong kalo anak Pecinta Alam ngga ada kegiatan naik gunung beneran? Tentu saja kami punya program pendakian gunung. Dan ndilalah waktu itu pembina ekskul kami adalah salah satu orang yang ekspert di bidang pendakian gunung. Akhirnya setelah melalui musyawarah yang cukup panjang, diputuskanlah kami akan mendaki gunung Sindoro, yang mana ini akan menjadi pendakian gungung pertamaku. Ada rasa yang sangat menggebu-gebu karena dari dulu aku memang pengin banget mendaki gunung.

Tapi keinginan tinggallah keinginan. Walaupun pahit dan menyayat ulu hati, aku memutuskan ngga bisa ikut pendakian. Kenapa? Karena waktu SMA kan aku miskin kronis. Miskinnya itu benar-benar merasuk sampai tulang belakang. Lah boro-boro buat sangu mendaki gunung, lha wong bisa sekolah aja sudah sujud sukur.

Setelah pendakian Sindoro selesai, aku kalo mendengar teman-teman bercerita tentang pendakian mereka, aduh hati ini rasanya teriris-iris. Kalo temen-temen pada tanya, “Kok kemarin ngga ikut mendaki Sindoro?”, selalu aku jawab “Ngga bisa. Kemarin ada urusan keluarga yang ngga bisa ditinggal”. Ya memang kenyataannya ada urusan yang ngga bisa ditinggal. Urusan kemiskinan. Hehehe.

Setelah kejadian itu, aku bertekad. Suatu saat nanti, kalo aku udah cukup mapan secara finansial, aku mau mendaki banyak gunung. “Aku pengin ngopi dan merokok sambil menikmati luar biasanya lukisan Tuhan diatas gunung”, begitu kataku dalam hati.

Akhirnya keinginanku menjadi kenyataan. Gunung Ungaran, Semarang. Menjadi gunung pertamaku. Waktu itu tahun 2010. Awal-awal aku masuk kuliah. Apakah karena waktu kuliah sudah kaya, sehingga keinginan naik gunung bisa tercapai? Ngga juga. Waktu kuliah juga masih kere. Tapi sudah ngga begitu kronis. Paling ngga, cukuplah untuk sekedar naik gunung. Walaupun, satu minggu setelahnya harus puasa Senin Kamis. Puasa dari hari Senin, sampai hari Kamis. Kadang malah lanjut sampai Jumat puasanya. Sabtu Minggu ngga puasa. Karena kan hari libur. Geerrrrrrr. Komedi komedi komedi.

Nowadays, aku bersyukur banget karena alasanku ngga bisa naik gunung, bukan karena ngga punya uang. Tapi lebih kepada ngga ada waktu, kesempatan, cuaca yang ngga menentu, dan tentu saja digondeli sang istri tercinta.

Begitulah ceritaku tentang asal mula bagaimana aku mengenal pergunungan duniawi. Setelah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri, beberapa gunung di Jawa Tengah yang meanstream, sudah aku daki. Walaupun, setelah sampai puncak ada beberapa gunung terlihat seperti bukan gunung. Tapi lebih mirip ke pasar. Isinya manusia dan kebisingan.

Masih banyak hal lain soal gunung yang mau aku certain lain waktu. Karena ada banyak pengalaman unik waktu naik gunung. Soal bagaimana seramnya, bagaimana capeknya, bagaimana persiapannya, sampai ke pertanyaan-pertanyaan, “Pendaki gunung pada shalat ngga ya? Pasti ngga shalat”. Lain waktu aku tulis. Kalo ngga ngantuk.

Prau

Merapi

Sindoro 

Slamet

Sumbing
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Mumpung lagi semangat nulis, iseng-iseng aku jelajahi blogku yang sederhana ini. Aku baca-baca lagi tulisan-tulisan lamaku. Kadang senyum, kadang sedih juga. Karena memang blog ini aku buat untuk curhat kehidupan sehari-hari yang pernah aku alami, terutama hal-hal yang aku highlight. Karena aku ini tipe orang yang suka curhat. Suka bercerita. Nah, blog ini salah satu medianya. Sebenernya udah banyak banget tulisan yang pernah aku buat. Tapi ngga semuanya ngumpul di blog ini. Karena dulu aku masih kere, jadi tulisanku masih di platform-platform gratisan. Kemana-mana. Tercecer. Makanya, sangkin kerenya aku ngga mampu beli domain dot com. Dan karena hal itu, aku pernah jadi bahan ejekan temanku yang juga hobi nulis-nulis ngga jelas. Tulisannya bisa dibaca DISINI.

Lagi asyik-asyik scroll tiba-tiba aku cukup kaget lihat arsip tulisan di 2020. Bukan soal tahun 2020nya. Tapi jumlah tulisannya. Aku Cuma bikin 8 tulisan selama 2020. Itu cukup membuat aku terhenyak, kaget, merinding, melamun, sedih, kecewa, dan gundah gulana. Aku sampai harus menenangkan diri di kamar selama seminggu karena kejadian ini.

Yang bikin aku semakin sedih dan kecewa sampai mencakar-cakar muka sendiri, ternyata semakin kesini tulisanku terasa kurang luwes, kaku, dan cenderung ngga tertata. Baik diksi maupun gaya bahasanya. Karena setelah aku baca-baca lagi tulisanku yang ada di platform lain, tulisanku dulu cenderung lebih luwes dan enak dibaca. Dan yang paling penting, lebih lucu.

Bahkan istriku yang cuek, dan cenderung tidak mau membaca tulisan-tulisanku, tiba-tiba menjadi kritikus handal. “Kebanyakan mengulang kata itu”. “Ngga konsisten. Tadi bilang aku, kok jadi saya?”. “Kok ngga ada lucu-lucunya?”, “Kok mukamu ngga kaya Joong Kook?”. Dan kritik-kritik pedas lain yang membuat jiwaku semakin jatuh ke lembah kesedihan.

Dari dulu sebenernya aku sadar. Menulis itu bukan hanya sekedar menulis. Butuh ketekunan dan konsistensi. Karena semakin kita konsisten menulis, tulisan kita dengan sendirinya akan semakin membaik. Dan itu juga yang sering aku dengar dari penulis-penulis terkenal itu. Makanya di tahun 2021 ini ada resolusi sederhana di blog yang sederhana ini. Satu hari satu tulisan. Ini juga pernah jadi resolusi temanku yang aku singgung di awal tadi. Dia ngga tahu kalo sudah punya anak dan istri, boro-boro satu hari satu tulisan. Kadang naikin celana melorot aja ngga sempat gara-gara digandulin anak-anak. Apalagi kalo sudah kepikiran popok habis, susu habis, padahal baru separuh bulan. Aduh boro-boro jadi tulisan. Jadi kasbon iya.

Emang bisa satu hari satu tulisan? Ya ngga tahu. Namanya saja resolusi. Semoga rasa malas-malas yang membuat resolusi tidak terlaksana bisa hilang, berganti dengan konsistensi untuk terus menulis.

“Emang motivasinya apa?”. Ngga ada. Seneng aja rasanya ada sesuatu yang bisa diungkapkan. Karena balik lagi ke awal, aku orangnya suka curhat. Suka cerita ke orang. Makanya isi blog ini ya Cuma cerita-cerita ngga penting tentang hidup aku. Kalo ada yang baca ya syukur. Lebih syukur lagi, kalo yang baca semakin banyak, dan banyak-banyak klik iklan. Adsense. Adsense. Adsense. Uang. Uang. Uang.

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pict : https://www.museumsoeharto.com/2019/02/tk-it-alhamdulillah/

Setelah melalui perdebatan panjang dan alot, akhirnya aku sama istri memutuskan menyekolahkan anakku ke TK IT yang ada di Karangkobar. Kenapa kok ke TK IT? Soalnya tadinya mau langsung di SMA. Tapi kan ngga boleh karena umur anakku belum mencukupi. Kan ngga lucu, masa anak umur 4 tahun udah SMA? Geeeeeerrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 

FYI, bertahun-tahun aku tuh ngga tahu kalo TK IT itu singkatan dari TK Islam Terpadu. Yang aku tahu, TK IT itu, TK yang sekolahnya itu menjurus ke pelajaran Komputer. Jadi bacanya itu "TK AITI" dari bahasa Inggris Information Technology. Kaya anak SMK gitu. Jadi selama ini selalu ada pertanyaan di benakku, "Anak-anak sekecil itu emang udah bisa diajarin komputer?"

Anyway, aku sama istri memang penginnya anak kita lebih intens untuk dapet ilmu Agama Islam. Makanya kita sepakat menyekolahkan anakku ke TK IT. Tentu saja semua orang tua pengin anaknya lebih baik dari pada orang tuanya. Begitu pun aku dan istriku. Karena kita sadar, ilmu agama kita cuma seuprit. Makanya kita pengin anak kita dari kecil sudah dibekali ilmu agama yang baik. Oleh sebab itu, sepertinya menyekolahkan anak ke TK IT adalah pilihan yang cukup logis, walaupun tentu saja masih banyak opsi yang lain yang bisa membuat anak-anak lebih mendalami agama Islam. 

 Masalahnya adalah, ini kan masih masa pandemi. Anak-anak sekolah masih belum boleh masuk. Kalo anakku sudah mendaftar sekolah dan ngga bisa masuk sekolah, NGAPAIN? kan uang bulanan tetep harus bayar walaupun mungkin ngga full. 

Bukan masalah uangnya sih. Karena insyaallah selalu ada jalan. Apalagi ini untuk menyekolahkan anak. Masa Allah ngga ngasih jalan? Kan ngga mungkin. Masalahnya kembali ke tujuan awal aku menyekolahkan anak ke TK IT. Kepengin anakku dapet ilmu Agama Islam lebih intens daripada waktu di rumah. Lah kalo ternyata ngga bisa masuk sekolah, gimana?

Sebenernya ada opsi lain. Ditunda saja dulu sekolahnya satu tahun. Sambil nunggu perkembangan pandemi di Indonesia. Tapi di usia anakku, memang udah waktunya dimasukkan ke sekolah. Kan kasian juga kalo nanti di SD gede sendiri. Pasti ada minder-mindernya. Dulu aja, waktu aku SMP ada malu-malunya gara-gara yang lain masih imut-imut, aku udah jenggotan sendiri. 

Kalo saja ada opsi ketiga. Langsung masuk SMA. Kan jadi lebih irit waktu dan biaya. 

Ada saran?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Picture : quotesgram.com

Saya mempunyai teman yang sering sekali berselisih paham dengan teman sendiri dan berujung perkelahian. Sebut saja namanya Terran. Terran adalah tipe orang yang bicaranya blak-blakan dan cenderung sering tidak terkontrol, tidak tepat waktu, dan tidak pada tempatnya. Karena hal itu, Terran sering “diadili” oleh teman-temannya sendiri gara-gara omongannya itu.

Bentuk “pengadilan”nya pun macam-macam. Waktu SMA, Terran pernah dikelilingi “preman-preman” sekolahnya dan satu per satu memukul Terran gara-gara mereka berselisih paham. Sayangnya Terran termasuk orang yang sama sekali tidak jago berkelahi. Jadi Ketika dipukul, Terran banyak sekali menangkis. Dengan pipi tentunya.

Waktu Terran SMP, dia pernah cerita kalo dia pernah dibentak-bentak oleh temannya sendiri karena omongannya yang cukup menyakitkan temannya. Waktu SMA pula, dia juga pernah hampir baku hantam dengan adik kelasnya.

Tapi, ada satu peristiwa yang menurut Terran tidak akan terlupakan. Dia pernah dipukul teman sendiri karena kesalah pahaman. Lagi-lagi itu terjadi karena mulut Terran yang kurang terkontrol. Waktu itu mulut Terrran sampai berdarah karena dipukul, dan bibirnya sampai bengkak. Kayaknya Angelina Jolie bibirnya seksi gitu karena dipukul temannya juga deh.

Kenapa menurut Terran peristiwa itu tidak bisa terlupakan? Karena menurut Terran yang memukul itu termasuk teman yang cukup dekat dan sering sekali berinteraksi untuk melakukan kegiatan Bersama di sekolah. Dan menurut Terran juga, peristiwa pemukulan itu seharusnya ngga perlu terjadi karena itu hanya kesalah pahaman kecil yang bisa dibicarakan. dan yang jelas Terran harus sampai terluka dan berdarah. Menurutnya baru peristiwa pemukulan itu yang benar-benar menimbulkan luka. Tidak hanya luka fisik, namun luka batin yang lebih parah.

Tapi, yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan soal pukul memukul itu. Ini tentang Terran dan hatinya yang begitu ikhlas hingga akan banyak cerita unik yang menyeret orang-orang yang pernah berselisih paham dengan Terran. Dan hal itu terjadi bertahun-tahun setelahnya.

Sebagai teman yang cukup dekat dengan Terran, saya tahu betul bahwa sebenarnya Terran adalah orang yang ngga pernah macam-macam. Boro-boro berkelahi. Wong dia pernah cerita, membayangkan berkelahi aja dia sudah merasa sakit.

Peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan tadi sebenarnya adalah karena kesalah pahaman saja antara Terran dan teman-temannya. Saya tahu betul, Terran adalah orang yang spontan. Kata-kata yang diucapkannya jujur dari dalam hatinya. Sayangnya, memang kata-kata itu kadang keluar di saat yang tidak tepat sehingga sering menimbulkan perselisihan. Tapi saya tahu Terran tidak bermaksud untuk melukai hati teman-temannya. Apalagi untuk alasan berkelahi. Tidak mungkin. Nonton sinetron aja dia nangis.

Tapi yang paling membuat aku kagum adalah sikap Terran dalam menghadapi itu semua. Dia benar-benar ikhlas, tidak dendam, dan tidak ingin melakukan apapun setelahnya. Dia juga jarang sekali berfikir “Biar Tuhan yang membalas”. Let it flow saja terus seperti itu. Hingga bertahun-tahun setelahnya, ada beberapa peristiwa unik yang mengaitkan Terran dengan orang-orang yang pernah “berkelahi” dengan dia.

10 Tahun berlalu, Terran masih berkomunikasi intens dengan saya. Terran sekarang mempunyai istri yang berdagang online. Tahu ngga? Langganan utamanya adalah istri dari salah satu orang yang berkeliling memukul Terran yang sebelumnya saya ceritakan. Padahal rumahnya jauh dan sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, tidak ada komunikasi dan memang bukan siapa-siapa.

Yang lebih epic lagi, Tadi saya becerita bahwa ada satu peristiwa yang benar-benar tidak bisa Terran lupakan. BTW si pemukul Terran sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Terran baru tahu karena istri Terran baru cerita belum lama ini.

Suatu hari istri dari si pemukul Terran pernah menghubungi istri Terran bermaksud meminjam uang untuk beli susu anaknya karena susu anaknya habis dan si pemukul Terran belum gajian. Sekali lagi, padahal dia bukan siapa-siapa, tempat tinggalnya sangat jauh, kenal pun  hanya sebatas kenal. Oh My God. Allahu Akbar. Sempit sekali dunia ini.

Apa makna dari semua itu? Sepertinya kita harus belajar banyak dari Terran bagaimana untuk bersikap ikhlas dalam menjalani kehidupan. Karena ternyata ada banyak sentilan-sentilan mesra dari Allah kalau kita bersikap ikhlas. Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Bahkan kata-kata “Biar Allah yang membalas” saja, itu sudah menggambarkan ketidak ikhlaskan.

Ternyata dengan bersikap ikhlas, akan ada banyak hikmah dan makna yang bisa kita jadikan alasan untuk selalu tersenyum menghadapi kehidupan. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang benar-benar ikhlas sehingga bila kita merasa disakiti orang lain, bukan kita lagi yang akan membalasnya, tapi Tuhan. Dan balasan Tuhan jelas jauh lebih indah dari apapun.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


01-01-2020 - SAHABAT PENA KITA

(Picture :sahabatpenakita.id ) 

Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.

Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang  terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D

Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.

Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”

Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.

Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”

Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.

Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.

Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.

Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.

Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu.  Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.

Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.

2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.

Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.

Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.

2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.

Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas  segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir. 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ▼  Januari (8)
      • TENTANG DIVYA, BOBOIBOY DAN GOPAL
      • IMAJINASI LIAR DIVYA
      • Me and Mountaineering
      • Resolusi Simpel 2021
      • TK IT, Sekolah Supaya Anak-anak Jadi Ahli Komputer?
      • Tentang Aku, Ngarit, dan Rasanya Jadi Lemper
      • Tentang Teman Saya Terran dan Keikhlasannya
      • 2020
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM