Rasanya memang hanya rasa syukur kepada Allah yang patut saya ungkapkan ketika saya mengingat nikmat-nikmat yang Allah limpahkan di tahun-tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, setelah anak pertama saya berumur kurang lebih 2,5 tahun, saya dipercaya kembali oleh Allah untuk punya anak lagi. Tidak seperti anak pertama yang direncanakan penuh perhitungan, anak kedua ini sama sekali tidak direncanakan. Tiba-tiba saja istri saya telat satu minggu dan ketika ditest -dengan test pack tentunya- ada 2 garis merah di test pack tersebut.
Jutaan orang tidak menyadari bahwa saya beserta istri dan anak-anak baru saja pindahan dari Banjarnegara ke Kebumen. Mereka saya bawa ke Kebumen karena saya merasa bahwa anak kedua saya sudah cukup besar dan anak pertama saya sudah cukup bisa diajak hidup mandiri di negeri orang. Dalam hati, sudah sangat bahagia walaupun hanya membayangkan. Setiap bangun tidur ada anak-anak yang tersenyum bahagia, canda tawa, dan istri yang selalu siaga menyeduh kopi di pagi hari.
Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.
Tentu saja aku bingung mau
tinggal dimana karena tidak punya
siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali
tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling
berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain
banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga.
Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan
di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk
menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen.
Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen,
hanya saja beda instansi.
Di kontrakan itulah ide tulisan
ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.
Setiap orang yang sudah
berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas
Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati
mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih
baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan
keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS
sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana
saja.
Di setiap ada kesempatan, mereka
berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh
aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video
call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu
untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan
seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau
jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa
penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka
menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang
diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah
rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama
anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main,
yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu
udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.
Pun demikian yang terjadi denganku
saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku.
Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih
bias pulang seminggu sekali.
Sebenarnya ini bukan hubungan
jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun
berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di
Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang
dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat
pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah.
Walaupun kadang rasa kangen
tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak
terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi
Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak
sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati
semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan
orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin
bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku
boyong kesini.
Begitulah sedikit ceritaku
mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.
Kepada semua bapak-bapak hebat
pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu
dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah
dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan
berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing.
FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba
masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan
kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”
“Pokoknya saya harus lulus tepat waktu. Maksimal 4 tahun saya
sudah harus wisuda”, batin saya waktu itu. Dengan semangat
berapi-api, saya selesaikan kuliah saya tepat waktu. Alhamdulillah,
dengan perjuangan yang panjang, saya dapat lulus kurang dari 4 tahun.
Lebih tepatnya 3 tahun 11 bulan 28 hari.
Akhirnya saya menyandang predikat S.Pd, Sarjana Pendidikan. Sesuai
dengan kodrat, seharusnya setelah lulus saya harus menjadi seorang
guru. FYI, sejak jaman Angling Darma masih memerintah di kerajaan
Malwapati, saya memang ingin menjadi seorang guru. Tetapi apa mau
dikata, dunia persilatan berkata lain. Sang penggurat goresan
kehidupan, menghendaki saya menjadi seorang karyawan minimarket.
Sebuah nasib yang sangat kontras dan sangat tidak nyambung. Layaknya
seorang jomblo yang mengejar-ngejar gebetannya namun gebetannya jalan
dengan lelaki lain.
Yup, 2 tahun lamanya saya menjadi seorang karyawan sebuah
minimarket yang cabangnya tersebar secara sporadis di seluruh antero
Indonesia. Bagaikan jomblo yang setiap malam minggu menyebar di
sudut-sudut gang. Sebuah minimarket dengan awalan Indo,
berakhiran Maret. Betul. Matahari. Saya yakin minimarket ini dulunya
dibangun di bulan April. FYI, saya dulu masuk di cabang Samarinda.
Lalu, kenapa sih orang yang tampan rupawan yang lulusan pendidikan
ini bisa menjadi karyawan minimarket? Dan juga kenapa harus di
Samarinda? Suatu saat akan saya bahas di tulisan lain.
Singkat cerita, 2 tahun setelahnya, karena waktu itu istri saya
hamil besar dan memutuskan pulang ke Jawa, akhirnya saya menyusul
kembali ke Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan dan memutuskan
untuk melanjutkan kehidupan yang fana ini di Kampung halaman.
Selepas itu, saya mencoba peruntungan mendaftar menjadi seorang
perangkat Desa. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, akhirnya
saya diterima menjadi Kepala Urusan Keuangan. Sebuah jabatan yang
belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah jabatan penuh dengan
resiko dan pengorbanan tinggi mengingat semua uang yang diperoleh
dari sumber manapun ke desa mengalir melalui Kepala Urusan Keuangan.
Kenapa perangkat Desa? Jujur saja, sebelum saya menjadi Kaur
Keuangan, saya sudah diterima menjadi tenaga honorer di sebuah
sekolah di daerah tempat tinggal saya. Namun baru saja saya
mendaftar, list kebutuhan anak saya sudah terpampang jelas di depan
mata. Susu SGM Merk Frisian Flag, Pampers merk Merries, dan
kebutuhan-kebutuhan lain dengan nominal yang tidak kecil sudah
menanti untuk dipenuhi. Sementara kita semua tahu berapa gaji guru
honorer. Memang rejeki Allah sudah atur. Tapi manusia juga diberi
kesempatan untuk berikhtiar. Nah, ikhtiar saya waktu itu adalah
dengan memilih menjadi seorang perangkat desa.
Memang garis hidup sudah ditentukan. 2 tahun setelah saya menjadi
Perangkat Desa, dibukalah pendaftaran CPNS tahun 2018. Harapan untuk
saya menyalurkan ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah akhirnya
terbuka. Semangat menggebu-gebu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha
untuk berlatih soal-soal CPNS yang dulu pernah keluar di tahun-tahun
sebelumnya. Selain berusaha sekuat tenaga, berdoa juga menjadi
andalan saya di setiap waktu. Karena saya yakin bahwa sehebat apapun
usaha yang saya lakukan, tidak akan berhasil tanpa ridho dari Sang
Maha Kuasa.
Untuk detail tahapan dan perjalanan saya menjadi seorang CPNS, bisa
dibaca disini. Dijamin konyol dan
agak lucu.
Singkat cerita, Alhamdulillah
saya resmi menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang lama terpendam
dan belum tersalurkan yang akhirnya di tahun 2019 ini bisa
terrealisasi. Kementerian Agama , menjadi kementerian yang menaungi
pekerjaan saya ini.
MTs Negeri 4 Kebumen, sebuah MTs
di pinggiran kota Kebumen, menjadi tempat pertama saya menjalankan
tugas. FYI, basic pendidikan saya adalah Pendidikan Teknik
Informatika dan Komputer. Jadi di MTs 4 saya pasti mengajar TIK dong.
Tetapi karena pelajaran TIK di SMP hanya 1 jam per minggu, maka saya
diminta untuk mengajar Seni Budaya. Sebuah pengalaman baru lagi
mengingat ini adalah kali pertama kali saya mengenal materi seni
Budaya.
Lah kenapa saya yang basicnya
komputer kok ngajar seni Budaya? Usut punya usut, suatu saat saya
bermain keyboard yang ada di sekolah. Nah, ndilalah bagian kurikulum
melihat saya sedang bermain keyboard itu. Tanpa pikir panjang, beliau
langsung mengatakan, “Oke tahun pelajaran ini Bapak ngajar seni
Budaya”. “Baiklah”, begitu langsung saya jawab. Beliau ngga
tahu kalo sebenarnya saya cuma hafal chord C. Itupun C Mayor. Soalnya C Minor ada tuts hitamnya. Hehehe
Singkat cerita, saya sudah 2
bulan ini menjadi guru seni Budaya dan TIK. Banyak banget cerita yang
mengiringi perjalanan saya mencoba menjadi seorang guru. Mulai dari
tingkah anak-anak yang agak konyol, sampai hal-hal yang membuat
jengkel. Banyak hal lucu, banyak pula hal-hal yang menjengkelkan.
Insyaallah akan ada banyak cerita yang akan ditulis di blog ini. Itu
Kalo saya tidak ngantuk.
Aku sudah menikah lebih kurang 4 tahun. Alhamdulillah dari pernikahan itu, aku dan istriku dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat lucu (menurut saya :D ). Aku kasih nama Divya. Sebuah kebahagiaan yang tiada terkira mengingat aku dan istriku cukup lama menanti seorang buah hati.
Finally setelah 8 bulan mencoba berbagai gaya :D , akhirnya istriku hamil juga. Itupun melalui perjalanan yang amat panjang. Kita sampai keliling berbagai klinik di Samarinda. Mulai dari klinik Tong Fang, Klinik Bersalin, Sampai klinik tutup pun kita datangi.
Alhamdulillah di Samarinda ada satu klinik yang sangat bagus yang mendiagnosa kalo istriku memang ada masalah. Akhirnya setelah dua kali berobat, seminggu kemudian istriku hamil. Padahal dulu aku sempet berfikir, jangan-jangan punyaku, -sebut saja titit- bermasalah. Eh ternyata sebenernya aku sangat perkasa :D
Alhamdulillah, Divya sekarang sudah 2 tahun lebih. Dan lebih bersyukur lagi, aku dan isriku langsung dikasih kepercayaan sama Allah. Istriku hamil anak kedua. Nah kalo anak yang kedua ini, ngga pake gaya-gayaan. entah gimana ceritanya, tahu-tahu istri telat aja. Begitu ditest pack, eh beneran positif. Masa istriku hamil sama angin sih? Angin kan ngga punya titit :D . Saat tulisan ini dibuat, kandungan istriku sudah berumur 7 bulan. Gimana? Mantap kan hasil kerja "keras"ku? Mantap dong?
Divya ini anak yang luar biasa aktif. Kayaknya tiap detiknya ngga pernah dia lewati dengan diam. Pokoknya diamnya dia ya hanya kalo tidur. yang bikin aku agak was-was itu karena motorik kasarnya Divya ini agak lambat perkembangannya. Karena hal ini, cukup membuat aku dan istriku kerepotan. Jadi tiap detik aku dan istriku harus gantian melihat dia bermain-main. Karena kalo kita lalai sedikit saja, bisa-bisa kita lihat dia sudah jatuh.
Tapi dibalik -kekurang bagusan- perkembangan motorik kasarnya, menurut penilaianku Divya adalah bayi yang sangat cerdas. Bicaranya sudah jelas dibandingkan dengan anak-anak seumurannya. Divya juga sudah hapal hampir semua lagu anak-anak. Mulai dari lagu Selamat Ulang tahun yang dinyanyikan Trio Kwek Kwek, Bolo-Bolonya Tina Toon, Cita-Citaku punya Susan, Kesempurnaan Cinta punya Rizki Febian, Umbrella punya Rihanna dan lain-lain :D
Selain bicaranya yang sudah jelas dan hafal lagu-lagu anak-anak, Divya juga sudah mulai hafal dengan doa-doa dan hafalan-hafalan surat pendek. Diantaranya doa makan, doa tidur, doa makan sambil tidur, doa membangun rumah, membangun candi, membangun piramida dll. Yang lebih membanggakan, dengan umur segitu, dia juga sudah hafal Surat Al-Baqoroh. Ayat 1 :D
Membesarkan anak adalah hal seni yang luar biasa. Bahagia, marah, takut, kecewa, gembira, semua bercampur jadi satu. Bahagia karena memang membesarkan anak itu sangat membahagiakan. Marah karena kadang anak kita begitu "menjengkelkan", takut karena kita berfikir akan jadi apa anak kita kelak. Kecewa karena anak kita bertingkah tidak sesuai keinginan kita. Gembira karena tingkah lucu anak-kita yang kadang diluar dugaan kita.
Kita juga ditutuntut membentuk karakter anak menjadi anak yang baik. Selain itu kehabisan Pampers dan susu disaat ngga punya duit juga menjadi seni tersendiri. Pokoknya membesarkan anak itu campur aduk rasanya.
Namun Bahagia dan penuh cinta adalah hal terbesar yang kami rasakan. Disaat pulang, selepas penat bekerja, maka bermain dengan anak adalah obat yang sangat mujarab. Disaat ada masalah dalam hidup, melihat lucunya wajah anak kita, maka seketika masalah sementara terlupakan. Disaat kita gelisah memikirkan mantan, dan anak kita wajahnya mirip mantan, maka hati kita semakin gelisah :D
Untuk yang sudah menikah dan belum dikaruniai anak, saya doakan semoga secepatnya punya makhluk lucu dambaan kalian.
Buat yang jomblo dan membayangkan lucunya punya anak. Sadar woy. Nikah dulu baru punya anak. Halu aja bisanya. :D
6 Juni 2019. Hari raya Idul Fitri telah tiba. Setelah beberapa hari berkeliling bersilaturahmi dengan keluarga besar, saatnya aku hubungi teman-teman dan handai taulan yang rumahnya tak sempat aku kunjungi. Perlahan, satu persatu kontak dalam handphone aku kirimi chat yang intinya adalah seperti yang biasa kita kirim dan terima pada hari raya. Kata-kata yang sudah seperti template yang selalu kita kirim dan kita terima setiap hari raya Idul fitri. Tapi aku bukan tipe penganut “saat mata tak bisa melihat, saat kaki tak bisa berjalan”, karena insyaallah aku sehat lahir batin.
Tiba saatnya aku kirimkan permohonan maaf kesalah satu guru aku, teman aku, mentor aku, orang tua aku, sebut saja pak Bambang (Nama sebenarnya). Beliau adalah guru Bahasa Inggris sewaktu aku di SMP. Berkat motivasi-motivasi dari beliaulah, aku mendapatkan salah satu optimisme dalam hidup yang Alhamdulillah mengantarkan aku menjadi manusia seperti sekarang. FYI, dulu aku memang sejenis Avertebrata.
Entah bagaimana ceritanya, tanpa sengaja aku chat seperti ini. “Apa ngga ada rencana ke gunung Slamet gitu pak?”. Memang sudah beberapa bulan ini kita sering chating tentang rencana pendakian, yang pada akhirnya hanya menjadi wacana. FYI, pak Bambang ini suka sekali dengan olahraga, termasuk mendaki gunung. Makanya aku sering chating soal rencana pendakian.
Setelah aku membuka percakapan itu, beliau langsung menyahut “Oke silakan diagendakan mas, aku ada waktu tanggal 9-12”. Baiklah tanpa pikir panjang, langsung aku sahut lagi dong, “Oke berarti langsung saja pak. Kita berangkat besok hari senin tanggal 10”. “OK”, begitulah pak Bambang menjawab.
Aku tahu, tak mungkin lah gunung Slamet sepi. Apalagi ini memang masih suasana lebaran. Ngga penuh sesak aja sudah untung. Tapi aku tidak mau naik satu rombongan hanya dengan pak Bambang. Kurang rame untuk ngobrol. Dan alasan sebenernya sih supaya cariel yang berat, yang isi tenda dan lain-lain itu bisa dibawa teman. Dan aku pilih yang ringan. Begitulah, pendaki licik seperti saya. Itu sudah menjadi kebiasaan rutin setiap aku mendaki gunung. “Merepotkan orang lain” adalah nama tengahku :D.
Akhirnya aku ajaklah dua teman dari kampungku yang sudah jelas fisiknya kuat. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya terpilihlah dua temanku. Personil oke, logistik oke, cuaca oke, ternyata masih ada satu masalah. Dompet ngga oke, karena aku lama menganggur dikarenakan SK CPNS yang tak kunjung turun. Karena hal ini pula lah istriku hampir saja tidak mengijinkan pendakianku. Tapi, dengan tekad yang sudah membara, istriku berhasil aku rayu. Karena nyatanya walaupun ini adalah pendakian gunung tertinggi yang pernah aku daki, ini adalah pendakian terhemat yang pernah ada. Sewa peralatan pak Bambang. Bensin temanku yang nanggung. Logistik ngga beli. Mental gratisan gini memang asyik untuk diri sendiri dan menyebalkan untuk teman-teman.
Singkat cerita berangkatlah kita ke Purbalingga untuk kemudian menuju Bambangan, desa terakhir sebelum kita treking. Jalur menuju Bambangan ini lumayan menyebalkan. Kenapa? Dari arah mana saja ngga ada petunjuk arahnya. Akhirnya di tengah kota Purbalingga kita memanfaatkan google Map. Senjata sejuta umat ketika tersesat di kehidupan yang fana. Akhirnya sampailah kita ke Basecamp. Ndilalah pada waktu itu kabut sedang tebal-tebalnya. Sepanjang jalan kita tidak melihat gunung Slamet sama sekali.
Shalat ashar, mengisi perut, membeli kekurangan logistik, selesai semua. Jam setengah 5 sore kita start treking. Dan trek dari basecamp ke pos 1 adalah trek tergila. Puanjaaaaaaaaang kaya jomblo yang hubungannya diulur-ulur gebetannya. Selain panjang, beberapa ratus meter sebelum pos 1, itu trek nanjaknya nggilani. Itu Firaun kalo lewat trek itu kayaknya bakalan tobat deh.
Singkat cerita di pos 1 sekitar jam 6 sore. Gelar matras, shalat lah kita. Setelah badan cukup istirahat, lanjutlah kita ke pos 2. Trek dari pos 1 ke pos 2 tidak segila dari basecamp ke pos 1. Memang semakin menanjak tapi tidak sepanjang basecamp-pos 1. Dan ada banyak trek bonus walaupun pendek-pendek.
FYI, trek Slamet via Bambangan itu jarak antar pos semakin naik semakin pendek. Jadi, yang paling menyiksa memang antara basecamp samapai kurang lebih pos 3.
Singkat cerita sampailah kita di pos 3. Udara dingin semakin menusuk tulang, dan pak Bambang sudah kelihatan gemetar badannya karena sangkin dinginnya. Aku pikir, wah bisa bahaya kalo diteruskan tanpa pakaian dobel ini pak Bambang. Akhirnya aku sarankan beliau memakai 2 jaket, kaos tangan, dan penutup telinga. Alhamdulillah. Saran diterima, badan pak Bambang ngga lagi gemetaran. Kita lanjutkan bongkar makanan dalam tas karena perut yang semakin lapar. Beberapa pisang kepok rebus, beberapa buah kupat dengan lauk sisa-sisa lebaran langsung ludes kita santap. Dilanjutkan dengan minum kopi terenak sepanjang hayat. FYI, kopi, rokok, dan makanan kalo dimakan di gunung kok rasanya 10 kali lebih nikmat ya? Atau perasaanku saja?
Setelah kenyang, perjalanan kita lanjutkan ke pos 4. Sebuah pos keramat di Gunung Slamet via Bambangan. Sebuah pos yang dilarang mendirikan tenda di pos itu. Sebuah pos yang paling dihindari untuk beristirahat dalam waktu yang lama. Samarantu namanya. Mendengar namanya saja udah agak bikin merinding. Karena konon Samarantu itu berasal dari kata Samar dan Hantu. Serem pokoknya. Lebih serem dari cewek PMS. Kayu-kayunya gede-gede banget. Rimbun banget. Kalo siang, cahaya matahari aja susah masuk. Kata orang yang ngerti sih disitu ada banyak.... ah sudahlah.
Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang berliku, akhirnya kita sampai di pos 7 yang mana dari awal kita pengin ngecamp disitu. Ternyata, pas kita ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Purbalingga, antara pos 7 dan pos 8 itu jaraknya sangat pendek. Bahkan pos 8 bisa dilihat dari pos 7 kalo siang hari. Akhirnya kita berniat melanjutkan perjalanan karena fisik kita yang masih lumayan oke. Perjalanan kita lanjutkan ke pos 8 dan ternyata di pos 8 memang area campnya ngga begitu luas dan sudah penuh. FYI, waktu kita mendaki itu lagi rame-ramenya. Sepanjang jalan naik turun itu ngga pernah berhenti orang naik dan turun.
Karena di pos 8 sudah penuh, akhirnya rombonganku dan 1 rombongan dari Purbalingga mencoba mencari tanah yang cukup datar antara pos 8 dan pos 9. Yang mana pos 9 adalah pos terakhir dan batas akhir vegetasi. Alhamdulillah kita nemu tanah yang cukup datar dan luas diantara pos 8 dan pos 9. Tepat jam 12 malam, didirikanlah tenda. Setelah masak-masak dan ngopi-ngopi ganteng, kurang lebih pukul 1 malam, tidurlah kita.
Jam 4 pagi, 1 orang teman dan pak Bambang langsung summit attack. Aku dan temanku mah santai saja sangkin ngantuknya. Tepat pukul 5 setelah shalat subuh dan ngopi-ngopi ganteng, naiklah aku dan 1 temanku menyusul pak Bambang ke Puncak. Dari pos 9 Pelawangan sampai puncak adalah trek yang nggilani juga. Bener-bener nanjak, licin karena kerikil, belum lagi kalo ada batu yang meluncur dari atas. Sebuah miniatur Semeru. Akhirnya kurang lebih jam 6 pagi sampai lah aku di puncak tertinggi Jawa Tengah. Slamet, 3428 MDPL.
Rasa letih, lesu, lelah, lunglai, rasanya langsung hilang melihat keindahan matahari yang perlahan mulai nampak di ufuk timur, dan keindahan alam yang luar biasa karena saat itu cuaca benar-benar cerah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa indah yang memang hanya bisa dilihat dari gunung.
Setelah puas muter-muter di puncak, kurang lebih jam 7 turunlah kita. Akhirnya jam 2 siang sampailah kita di basecamp. Sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan dan ini adalah perjalanan naik gunung terlama yang pernah aku alami.
Avenger End Game memang sudah lama tayang di bioskop-bioskop seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun Hypenya belum juga mereda. Maklum saja, film ini memang menjawab penantian panjang fans Marvel selama kurang lebih 11 tahun ini. Karena di film ini, hampir semua Superhero Marvel berkumpul dengan cerita klimaks dari puluhan film yang selama ini telah dibangun. Dengan alur cerita yang sangat menawan, drama yang menyayat hati, serta visual yang tak perlu diragukan, membuat film ini melejit tak terbendung. Predikat film dengan pendapatan terbesar kedua di dunia rasanya sangat pantas disandang Avenger End Game.
Bagi Anda yang belum nonton Avenger End Game, saya simpulkan penyebabnya ada 2. Pertama, Anda memang sangat tidak suka dengan film superhero, sehingga Anda sama sekali tidak ingin menontonnya. Kedua, Anda hidup di gua. Masa film sebagus ini ngga ditonton? Tapi bukan alasan ketiga dong? Anda malu menonton karena Anda jomblo dan semua penonton membawa pasangannya masing-masing. Saya turut prihatin.
Bagi yang belum nonton, inti ceritanya adalah sebagai berikut :
Thanos adalah musuh utama di film ini. Thanos berkeinginan menghilangkan (memusnahkan) separuh populasi kehidupan di alam raya ini dengan cara mengumpulkan infinity stone yang tersebar di berbagai belahan galaksi, yang dengan kekuatan itu dia akan menjentikkan jarinya lalu musnahlah 50% kehidupan. Bukan hanya di bumi, namun antar galaksi. Tugas Avenger adalah menghentikan langkah Thanos.
Pertanyaannya, kenapa Thanos ingin memusnahkan separuh populasi kehidupan di alam semesta ini? Menurut Thanos, dunia butuh keseimbangan. Karena dunia sudah sangat kompleks dan penghuninya semakin hari semakin merusak. Sehingga Thanos merasa perlu mengembalikan keseimbangan alam agar dunia bisa terselamatkan.
Saya memang kurang setuju dengan cara Thanos. Bayangkan, seandainya saya sedang asyik melakukan sesuatu dengan istri saya, lalu tiba-tiba Thanos beraksi dan istri saya menghilang, dengan keadaan sedang tanggung, apa ngga bikin saya sakit pinggang? Atau ada seorang jomblo yang sedang melakukan kegiatan rutinnya, lalu tiba-tiba sabun di tangannya menghilang? Sungguh itu akan membuat mereka mengamuk membabi buta. Saya tidak bisa membayangkan betapa ngerinya. Karena tidak ada yang lebih mengerikan dari mengamuknya seorang jomblo.
Tapi saya sangat paham mengapa Thanos sangat ingin memusnahkan separuh kehidupan di dunia ini. Kita bisa lihat sendiri bagaimana sesaknya kehidupan di abad ini. Terutama di kota-kota besar. Dan Kita pasti sangat paham mengapa Thanos ingin melakukan pemusnahan separuh populasi. Belum lagi kalo kita bicara sampah, kerusakan alam, global warming, dan kerusakan-kerusakan lain yang ditimbulkan.
Yang lebih ngeri, kalo Thanos sampai tahu bagaimana kelakuan sebagian netizen di Indonesia pra Pilpres dan Pasca Pilpres? Ribut terus tidak pernah berhenti. Saling serang, saling hujat, saling sindir, saling sebar hoax, dan kegiatan mengerikan lainnya.
Saya adalah salah satu pengguna Twitter aktif sampai sekarang. Pasca Pilpres, keributan bukan mereda tapi justru semakin menggila. Terutama pendukung kedua pasangan calon. Kelakuannya diluar nalar. Saya sampai bertanya “Masa sangkin bencinya bisa jadi gitu ya? Apa mereka ngga punya cinta di hidup mereka?”
Seandainya saya punya infinity Stone, saya akan gunakan untuk memusnahkan netizen-netizen yang kerjaannya membuat keributan di Indonesia. Biar kapok, saya hanya akan menghilangkan Tititnya saja. Biar mereka tidak berkembang biak.





