• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

Pict : https://www.museumsoeharto.com/2019/02/tk-it-alhamdulillah/

Setelah melalui perdebatan panjang dan alot, akhirnya aku sama istri memutuskan menyekolahkan anakku ke TK IT yang ada di Karangkobar. Kenapa kok ke TK IT? Soalnya tadinya mau langsung di SMA. Tapi kan ngga boleh karena umur anakku belum mencukupi. Kan ngga lucu, masa anak umur 4 tahun udah SMA? Geeeeeerrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 

FYI, bertahun-tahun aku tuh ngga tahu kalo TK IT itu singkatan dari TK Islam Terpadu. Yang aku tahu, TK IT itu, TK yang sekolahnya itu menjurus ke pelajaran Komputer. Jadi bacanya itu "TK AITI" dari bahasa Inggris Information Technology. Kaya anak SMK gitu. Jadi selama ini selalu ada pertanyaan di benakku, "Anak-anak sekecil itu emang udah bisa diajarin komputer?"

Anyway, aku sama istri memang penginnya anak kita lebih intens untuk dapet ilmu Agama Islam. Makanya kita sepakat menyekolahkan anakku ke TK IT. Tentu saja semua orang tua pengin anaknya lebih baik dari pada orang tuanya. Begitu pun aku dan istriku. Karena kita sadar, ilmu agama kita cuma seuprit. Makanya kita pengin anak kita dari kecil sudah dibekali ilmu agama yang baik. Oleh sebab itu, sepertinya menyekolahkan anak ke TK IT adalah pilihan yang cukup logis, walaupun tentu saja masih banyak opsi yang lain yang bisa membuat anak-anak lebih mendalami agama Islam. 

 Masalahnya adalah, ini kan masih masa pandemi. Anak-anak sekolah masih belum boleh masuk. Kalo anakku sudah mendaftar sekolah dan ngga bisa masuk sekolah, NGAPAIN? kan uang bulanan tetep harus bayar walaupun mungkin ngga full. 

Bukan masalah uangnya sih. Karena insyaallah selalu ada jalan. Apalagi ini untuk menyekolahkan anak. Masa Allah ngga ngasih jalan? Kan ngga mungkin. Masalahnya kembali ke tujuan awal aku menyekolahkan anak ke TK IT. Kepengin anakku dapet ilmu Agama Islam lebih intens daripada waktu di rumah. Lah kalo ternyata ngga bisa masuk sekolah, gimana?

Sebenernya ada opsi lain. Ditunda saja dulu sekolahnya satu tahun. Sambil nunggu perkembangan pandemi di Indonesia. Tapi di usia anakku, memang udah waktunya dimasukkan ke sekolah. Kan kasian juga kalo nanti di SD gede sendiri. Pasti ada minder-mindernya. Dulu aja, waktu aku SMP ada malu-malunya gara-gara yang lain masih imut-imut, aku udah jenggotan sendiri. 

Kalo saja ada opsi ketiga. Langsung masuk SMA. Kan jadi lebih irit waktu dan biaya. 

Ada saran?


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Berpuluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa kecil yang masih sangat terpencil. Sebut saja desa Sabrang. Selain bertani dan bercocok tanam, pekerjaan utama warga desa Sabrang adalah memelihara ternak. karena itu, hampir semua warga desa Sabrang mempunyai hewan ternak. Ada yang punya ayam, ada yang punya kelinci, marmot, kambing, domba, sapi, kerbau, anoa, ikan teri, ikan hiu, ikan lele, dan ikan ……… (kamu tahu yang saya maksud).

kenapa saya cerita soal ternak? karena saya mau menceritakan cerita yang cukup lucu tapi lumayan membuat malu, yang berhubungan dengan ternak.

Watu itu, saya lupa tepatnya tahun berapa. kalau tidak salah, saya masih kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu saya masih sangat polos, tetapi aura tampan mempesona sudah terpancar. karena tampan dan mempesona memang bawaan bayi. Untung saya punya istri cantik. karena katanya laki-laki ganteng istrinya biasanya jelek. Laki-laki jelek biasanya istrinya cantik. Mungkin saya memang sebuah pengecualian. :D

kembali ke topik. Saya punya Budhe (kakak ibu saya). Saya biasa memanggil Uwa. Uwa saya ini punya kambing cukup banyak. Pada suatu hari di siang bolong, saya dan anaknya paman saya, entah kenapa tiba-tiba menawarkan diri untuk mencari makanan ambing. kami biasa menyebut kegiatan mencari makanan kambing dengan sebutan “ngarit”.

Uwa saya tahu bahwa hasil ngarit kami tidak seberapa dan tidak mungin cukup untuk pakan kambingnya. Tapi karena mungkin uwa ingin melatih kami bagaimana caranya ngarit yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, maka saya dan sodara saya diijinkan untuk ngarit. Dengan syarat tidak usah jauh-jauh dari kampung Sabrang. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. karena kami masih kecil-kecil.

Sesudah sarapan pagi yang cukup siang, kurang lebih jam 10 pagi kami berdua (saya dan anak paman saya) berangkatlah ke tempat tujuan ngarit. karena kami mau ngarit, tentu saja kami membawa alat untuk ngarit, yang disebut arit, dan juga tempat untuk menaruh rumput, yang terbuat dari bambu. Warga desa Sabrang menyebutnya Gandhek, atau Tomblok.

Bagi yang belum tahu, begini bentuk arit.

Begini bentuk gandhek

Begini bentu tomblok

Singkat cerita, tujuan kami ngarit adalah di sebelah selatan desa Sabrang yang disitu ada sungai besar, kami menyebutnya kalibombong. Di sepanjang tepi kalibombong memang banyak rumput-rumput hijau tak bertuan yang menjadi incaran kami.

Singkat cerita, tibalah kami di tepi  kalibombong dan langsung ngarit. Sekitar seperempat tomblok telah terisi. Lalu tiba-tiba kami berdua melihat rumput yang sangat hijau dan banyak. Sayangnya rumput itu berada di seberang sungai, yang artinya kalau kami ingin memotong rumput itu, kita harus menyeberangi kalibombong.

Terjadi perdebatan yang sengit antara saya dan anak paman saya, untuk memutusan kita benar-benar mau kesana atau tidak. Saya berpegang teguh bahwa kita tidak harus menyeberangi sungai karena kalau sampai hanyut, resikonya bisa fatal. Tetapi anak paman saya tetap bersikeras untuk menyeberangi sungai dengan alasan kalau dengan rumput itu saja, tomblok bisa langsung terisi penuh dan kita berdua bisa cepat pulang.

Perdebatan terus berlanjut dalam waktu lama. karena tak kunjung memperoleh kesepakatan, kita sampai memanggil ketua RT. ketua RT tidak sanggup untuk memutuskan. Akhirnya datanglah ketua RW. ketua RW pun tidak sanggup melerai kami. Akhirnya kesepakatan terjadi setelah datang Bapak Bupati dan Wakilnya. Diputuskanlah kami hakus menyeberangi kalibombong untuk mendapatkan rumput yang hijau dan banyak di seberang sungai itu.

Untuk menghindari basahnya baju kami, kami memutuskan untuk bertelanjang bulat dan menaruh baju kami di tomblok, baru kemudian dipakai lagi nanti di seberang sungai. Tadi saka juga sudah bercerita bahwa tomblok sudah terisi rumput kurang lebih seperempatnya. Celakanya, kami tidak memperhitungkan itu semua. Tubuh kami kan masih kecil kecil. Jadi ketika menyeberang sungai, separuh lebih tubuh kami masuk ke air, dan tomblok yang sudah berisi rumput dan baju mau tidak mau masuk ke air juga. Dan itulah sumber petakanya. Tomblok yang sudah terisi rumput dan juga terisi baju, harus menahan arus sungai yang kuat. Dan tangan kami tidak mungin menahan tomblok. karena kalau kami memaksa menahan, pasti kami hanyut. Alhasil mau tidak mau kami harus merelakan tomblok, arit, dan juga baju-baju kami hanyut di sungai.

Malang tak dapat dibendung, untung tak dapat diraih. Akhirnya kami memutuskan pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tadi ke uwa kami. Tapi masih ada satu PR yang harus kami kerjaan. kami harus menutupi burung-burung kami yang lucu pakai apa? Terus nanti kalau berpapasan dengan warga lain muka kita mau ditaruh dimana? Aduh. mana burung-burung kami lagi lucu-lucunya.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membungkus tubuh kami dengan daun pisang. Paling ngga burung-burung kami yang lucu bisa tertutupi lah. kita ambil 2 pelepah daun pisang dari kebun orang. Dan terselamatkanlah burung-burung kami dari tatapan orang-orang. Walaupun tetap saja kami tak bisa berkata apa-apa ketika ada orang bertanya “kuwe anu kepriwe maksude? Deneng dibungkus godhong gedang?”  

Dan selalu saya jawab “Iseng pak. Pengin ngerti rasane dadi lemper”.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Picture : quotesgram.com

Saya mempunyai teman yang sering sekali berselisih paham dengan teman sendiri dan berujung perkelahian. Sebut saja namanya Terran. Terran adalah tipe orang yang bicaranya blak-blakan dan cenderung sering tidak terkontrol, tidak tepat waktu, dan tidak pada tempatnya. Karena hal itu, Terran sering “diadili” oleh teman-temannya sendiri gara-gara omongannya itu.

Bentuk “pengadilan”nya pun macam-macam. Waktu SMA, Terran pernah dikelilingi “preman-preman” sekolahnya dan satu per satu memukul Terran gara-gara mereka berselisih paham. Sayangnya Terran termasuk orang yang sama sekali tidak jago berkelahi. Jadi Ketika dipukul, Terran banyak sekali menangkis. Dengan pipi tentunya.

Waktu Terran SMP, dia pernah cerita kalo dia pernah dibentak-bentak oleh temannya sendiri karena omongannya yang cukup menyakitkan temannya. Waktu SMA pula, dia juga pernah hampir baku hantam dengan adik kelasnya.

Tapi, ada satu peristiwa yang menurut Terran tidak akan terlupakan. Dia pernah dipukul teman sendiri karena kesalah pahaman. Lagi-lagi itu terjadi karena mulut Terran yang kurang terkontrol. Waktu itu mulut Terrran sampai berdarah karena dipukul, dan bibirnya sampai bengkak. Kayaknya Angelina Jolie bibirnya seksi gitu karena dipukul temannya juga deh.

Kenapa menurut Terran peristiwa itu tidak bisa terlupakan? Karena menurut Terran yang memukul itu termasuk teman yang cukup dekat dan sering sekali berinteraksi untuk melakukan kegiatan Bersama di sekolah. Dan menurut Terran juga, peristiwa pemukulan itu seharusnya ngga perlu terjadi karena itu hanya kesalah pahaman kecil yang bisa dibicarakan. dan yang jelas Terran harus sampai terluka dan berdarah. Menurutnya baru peristiwa pemukulan itu yang benar-benar menimbulkan luka. Tidak hanya luka fisik, namun luka batin yang lebih parah.

Tapi, yang mau saya ceritakan sebenarnya bukan soal pukul memukul itu. Ini tentang Terran dan hatinya yang begitu ikhlas hingga akan banyak cerita unik yang menyeret orang-orang yang pernah berselisih paham dengan Terran. Dan hal itu terjadi bertahun-tahun setelahnya.

Sebagai teman yang cukup dekat dengan Terran, saya tahu betul bahwa sebenarnya Terran adalah orang yang ngga pernah macam-macam. Boro-boro berkelahi. Wong dia pernah cerita, membayangkan berkelahi aja dia sudah merasa sakit.

Peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan tadi sebenarnya adalah karena kesalah pahaman saja antara Terran dan teman-temannya. Saya tahu betul, Terran adalah orang yang spontan. Kata-kata yang diucapkannya jujur dari dalam hatinya. Sayangnya, memang kata-kata itu kadang keluar di saat yang tidak tepat sehingga sering menimbulkan perselisihan. Tapi saya tahu Terran tidak bermaksud untuk melukai hati teman-temannya. Apalagi untuk alasan berkelahi. Tidak mungkin. Nonton sinetron aja dia nangis.

Tapi yang paling membuat aku kagum adalah sikap Terran dalam menghadapi itu semua. Dia benar-benar ikhlas, tidak dendam, dan tidak ingin melakukan apapun setelahnya. Dia juga jarang sekali berfikir “Biar Tuhan yang membalas”. Let it flow saja terus seperti itu. Hingga bertahun-tahun setelahnya, ada beberapa peristiwa unik yang mengaitkan Terran dengan orang-orang yang pernah “berkelahi” dengan dia.

10 Tahun berlalu, Terran masih berkomunikasi intens dengan saya. Terran sekarang mempunyai istri yang berdagang online. Tahu ngga? Langganan utamanya adalah istri dari salah satu orang yang berkeliling memukul Terran yang sebelumnya saya ceritakan. Padahal rumahnya jauh dan sebelumnya sama sekali tidak saling kenal, tidak ada komunikasi dan memang bukan siapa-siapa.

Yang lebih epic lagi, Tadi saya becerita bahwa ada satu peristiwa yang benar-benar tidak bisa Terran lupakan. BTW si pemukul Terran sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Terran baru tahu karena istri Terran baru cerita belum lama ini.

Suatu hari istri dari si pemukul Terran pernah menghubungi istri Terran bermaksud meminjam uang untuk beli susu anaknya karena susu anaknya habis dan si pemukul Terran belum gajian. Sekali lagi, padahal dia bukan siapa-siapa, tempat tinggalnya sangat jauh, kenal pun  hanya sebatas kenal. Oh My God. Allahu Akbar. Sempit sekali dunia ini.

Apa makna dari semua itu? Sepertinya kita harus belajar banyak dari Terran bagaimana untuk bersikap ikhlas dalam menjalani kehidupan. Karena ternyata ada banyak sentilan-sentilan mesra dari Allah kalau kita bersikap ikhlas. Ternyata ikhlas itu tidak mudah. Bahkan kata-kata “Biar Allah yang membalas” saja, itu sudah menggambarkan ketidak ikhlaskan.

Ternyata dengan bersikap ikhlas, akan ada banyak hikmah dan makna yang bisa kita jadikan alasan untuk selalu tersenyum menghadapi kehidupan. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang benar-benar ikhlas sehingga bila kita merasa disakiti orang lain, bukan kita lagi yang akan membalasnya, tapi Tuhan. Dan balasan Tuhan jelas jauh lebih indah dari apapun.

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


01-01-2020 - SAHABAT PENA KITA

(Picture :sahabatpenakita.id ) 

Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.

Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang  terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D

Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.

Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.

Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”

Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.

Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”

Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.

Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.

Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.

Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.

Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu.  Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.

Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.

2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.

Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.

Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.

2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.

Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas  segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir. 

 

 

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 
Dieng, 6 Juli 2020. Hasrat pengin naik gunung udah ngga bisa ditahan. Ditambah beberapa hari lagi udah harus masuk kantor karena liburan udah hampir usai. padahal cuaca lagi ngga menentu banget. Tapi karena mungkin timingnya pas banget, akhirnya berangkatlah aku, berdua saja sama keponakanku. Tadinya mau berempat sama temen yang udah biasa muncak bareng, tapi susah banget koordinasinya. Iya. Kaya pemerintah Indonesia ngadepin Covid. 

Akhirnya dibarengi dengan semangat 69, berangkatlah pagi-pagi sekali kita berdua langsung menuju Dieng. Tapi sebelum itu kita harus buat surat sehat dulu. Karena memang surat sehat menjadi salah satu syarat wajib dikarenakan masih dalam masa pandemi Covid 19. Akhirnya berangkatlah kita ke Puskesmas Karangkobar. Sayang sekali ternyata di Puskesmas Karangkobar, untuk meminta surat sehat, kita harus minta surat pengantar dari desa dulu. Tak mau ribet, karena aku lihat beberapa pendaki membuat surat sehat di Dieng dan ngga perlu ke Desa, akhirnya kita berdua sepakat langsung berangkat saja dan bikin surat sehat di Puskesmas Dieng.

Dengan cara saksama dan dalam tempo yang lumayan lambat, karena kita cuma naik Honda Beat, maka sampailah kita di Puskesmas tertinggi di Pulau Jawa, Batur 2. Kalo ngga salah kita berdua bayar 33 ribu saja untuk mengurus surat sehat. 

Setelah selesai, langsung saja kita menuju Basecamp Dieng. Kenapa ngga lewat Patak Banteng saja biar lebih mainstream? Karena basecamp lain baru mau dibuka tanggal 10 Juli. Sekalian mencoba jalur lainnya. Karena ini pendakian keduaku di gunung Prau. Patak Banteng udah pernah. 

Sampailah kita di Basecamp Gunung Prau Via Dieng. Cukup bersih dan fasilitas juga cukup memadai. Di sekeliling banyak warung-warung penyedia isi perut dan juga beberapa perlengkapan pendakian kaya kupluk, buff, syal, sarung tangan, dan sarung tinju. Toilet dan mushola juga disediakan oleh pihak basecamp. selain itu, kalau perlengkapan pendakian kita ternyata kurang, atau tertinggal, pihak basecamp juga menyewakan berbagai macam alat pendakian. 

Singkat cerita, ternyata sebelum memulai pendakian, kita akan melewati tahap checking perlengkapan. sebenernya proses checkingnya sih cepet. Tapi antri nunggunya itu yang nggilani. Aku sama ponakanku itu sampai basecamp jam 9 pagi dan kita baru dipanggil sekitar jam setengah 12 siang. 

Akhirnya selesai juga kita checking, dan bersiap melakukan petualangan sesungguhnya. Setelah shalat Dhuhur bareng pendaki-pendaki lain, berangkatlah kita ke Gunung Prau. 

Dari basecamp sampai sekitar 100 meter, jalan masih didominasi perkebunan warga dan cukup landai. dan memang jalur Dieng ini sepanjang track ada banyak bonusnya. Memasuki hutan gunung Prau, kabut tebal terus mengiringi perjalanan kami. 

Setelah kurang lebih setengah perjalanan, barulah "petaka" sesungguhnya dimulai.  Hujan turun begitu derasnya. Karena prepare kita bagus dan lengkap, langsung kita pakai mantel masing-masing dan berharap semoga hujan cepat selesai. Tapi, hujan turun semakin nggilani, dan sesekali guntur menyambar-nyambar. Beberapa kali pula aku tanya ke ponakanku, apakah mau lanjut atau tidak. Aku tawarkan kalo mau lanjut, ayo. Kalo mau turun aja, ayo. Tapi berkali-kali pula ponakanku dengan yakin menjawab lanjut. Karena memang ini pendakian pertama dia. Jadi mungkin dia pengin dapet pengalaman sampai puncak gunung itu kaya gimana. Sebenernya ada rasa kasian juga sama ponakanku ini. Baru pertama kali naik gunung udah dapet cuaca yang seekstrem ini. 

Tapi "petaka" ngga cuma sampai disitu. Ternyata mantel yang dipakai ponakanku itu rembesnya parah. Jadi sepanjang perjalanan, ponakanku sekujur badan udah basah kuyup. dan dia ngga bawa celana cadangan. Cuma bawa cadanga baju aja. Tapi ya udah lah ya. Kita lanjutkan saja dengan harapan semoga cuaca kembali cerah. Jam 3 tepat, sampailah kita di puncak gunung Prau. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit. 

Dengan diiringi hujan yang luar biasa, langsung kita dirikan tenda dengan ala kadarnya karena berpacu dengan derasnya hujan. Akhirnya tenda berdiri dan kita langsung memasuki tenda. Sebenernya ada beberapa titik yang belum pas di sudut-sudut tenda. Tapi karena keadaan sudah ngga memungkinkan untuk kita benerin, ya udah kita biarkan saja. 

Ternyata, ketidak beresan dalam mendirikan tenda, ternyata menjadi sumber "petaka" selanjutnya. Setelah makan, ngopi-ngopi dan rokokan, kira-kira jam 6 sore sehabis maghrib, tenda rembes sampai ke dalam karena layer tenda yang diluar, tidak terpasang dengan sempurna. Akhirnya ponakanku yang tidur lelap sehabis makan, aku bangunin. "Pilihannya cuma 2. Tetap disini berharap hujan berhenti, tapi kalo ngga berhenti resiko hypotermia, atau entah bagaimana caranya kita bongkar tenda, kita nekat turun di kondisi malam", kataku ke ponakanku.

Kebingungan dong ponakanku ditawari kaya gitu. Dia cuma ngomong "Aduh nek mudun wis pol ademe, tapi nek ning kene terus ya medeni. wong iki teles wis tekan ngkene-ngkene", kata ponakanku sambil menunjuk-nunjuk sleeping bagnya yang udah mulai terkena tetesan air. "Tapi ana PR maning. Iki nek nekat mudun, headlamp nek sampe kena banyu, bisa konslet. Bahaya banget nek mati ning dalan. Lah mung headlamp iki tok sumber cahayane. Lah iki cuaca agi pol ekstrem je", kataku lagi. 

Setelah berpikir berulang-ulang, kita mengambil keputusan yang cukup berani untuk turun di malam hari dengan cuaca yang begitu ekstrem. PR soal headlamp itu, akhirnya kita menemukan cara dengan memotong Botol air mineral dan memasukkan headlam itu ke botol air mineral itu, dan menjaga lubang botol tetap di bawah jadi headlamp aman. Tapi ada rasa gentar juga sih sebenernya. Soalnya seumur-umur aku naik gunung, belum pernah aku turun gunung malam hari dengan cuaca ekstrem kaya gini. Tapi mau gimana lagi, dari pada ambil resiko yang lebih besar, hypotermia. Musuh sejuta pendaki. 

Akhirnya diputuskan. untuk menjaga ponakanku tetap hangat, mantelku yang bagus, dipakai ponakanku. Juga celanaku yang masih cukup kering. Jadi, selama perjalanan nanti, yang aku pakai di sekujur badan itu basah. dan mantel yang aku pakai juga rembes. Jangan dibayangkan kaya apa dinginnya. Bahkan dinginnya sikap gebetan, belum ada apa-apanya. 

Dibongkarlah tenda dan semua perlengkapannya. Tepat jam 7.30, setelah selesai, lanjut kita turun. Sepanjang perjalanan hujan ngga pernah berhenti sekalipun. Sedikit reda pun ngga. Dan jangan bayangkan kaya apa seremnya berjalan di hutan, gelap gulita, dengan cuaca yang bikin bulu kuduk merinding. Alhamdulillah di beberapa titik kita berpapasan dengan pendaki yang sedang naik ke puncak. dan ekspresi mereka rata-rata keheranan. Kenapa jam segini ada pendaki turun ya? Karena di jam-jam itu memang lazimnya itu pendaki naik. 

Akhirnya setelah melewati seramnya hutan Gunung Prau, dengan beberapa kali terpeleset dan jatuh, sekitar jam 20.30 sampailah kita di basecamp. Mas-mas basecamp keheranan dong. "Loh katanya tadi mau ngecamp? Kok malah jam segini turun?", tanya mas-mas basecamp. "Aduh panjang ceritanya mas. Intinya ada masalah di tenda", jawabku. Setelah bersih-bersih badan, dan membuang sampah di tempat yang telah disediakan, kita menghubungi mas-mas basecamp untuk checkout dan pulang. 

Masih ada PR lagi dong selama perjalanan pulang. Bisa bayangin ngga jam 10 malem perjalanan dari Dieng, dengan baju yang basah? Aduh, Raja Firaun disuruh gitu, dia langsung nyembah Allah pasti.  Ini Dieng loh. Dieng. Setahuku daerah paling bikin tulang ngilu karena sangkin dinginnya ya Dieng. Sekitar 45 menit perjalanan,  Aku langsung muntah-muntah dipinggir jalan. Waduh masuk angin. Akhirnya ponakanku yang ambil alih kemudi. 15 menit kemudian sampailah kita di rumah tercinta disambut raut muka istriku yang keheranan. "Besok deh aku ceritain", kataku. 

Begitulah cerita perjalanan naik gunung Prau Via Dieng yang masih dalam masa pandemi. Besoknya, setelah aku ceritain, istriku tanya dengan nada mengejek. "Gimana? udah kapok naik gunung?",tanya istriku. "Weladalah, tukang mancing ngga selalu harus bawa ikan dong kalo pulang. Sering juga ngga dapet ikan. Kadang yo kepleset pas ning watu. Kadang ya ketemu genderuwo pas ning kali sing angker. Tapi nek wis seneng mancing, ngesuk ya mangkat maning", kataku sambil nyengir dan disambut muka kecut istriku. 

Tahu ngga apa yang paling bikin mbuh? Sepanjang perjalanan pulang dari basecamp ke rumah, langit cerah, bintang-bintang bertaburan, Sindoro Sumbing dan gunung Prau terlihat sangat jelas seakan-akan berkata dengan nada mengejek "Lha kok bali mas?". Arrrrghhhhhhh MBUHHHHHHHHH.




Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

31 tahun yang lalu, Aku terlahir di keluarga yang cukup berada di kampungku. Ibuku pedagang ulung. Bapakku pekerja keras. Dikala anak-anak di kampungku masih bermain mobil-mobilan dari tanah liat, aku sudah bermain dengan mobil-mobilan yang dibeli dari pasar. Punya 2 peliharaan sapi juga menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi keluargaku cukup mapan, dimana kala itu punya peliharaan sapi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi di kampungku. Belum lagi lumbung padi dan jagung milik ibuku yang selalu terisi penuh karena pada saat itu masih banyak warga yang membeli keperluan rumah tangga di warung milik ibuku dengan system barter.

11 atau 12 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD, keadaan berbalik 180 derajat. Orang tuaku bercerai. Aku dan ibuku menumpang hidup di rumah uwa. Bapakku sementara masih memakai rumah lama yang dulu kita tinggali. Karena satu dan lain hal, Bapakku akhirnya meninggalkan rumah itu juga dan aku ngga begitu tahu dimana Bapakku tinggal setelahnya karena memang setelah kejadian perceraian itu, aku menjadi jauh dengan Bapakku.

Karena satu dan lain hal pula, satu tahun setelahnya aku tidak tinggal lagi dengan uwa. Aku menumpang hidup di rumah nenek. Sebenarnya bukan nenek kandung. Beliau hanya seseorang di kampungku yang sejak kecil merawat kakak perempuanku karena dari pernikahannya, Beliau tidak dikaruniai satu orang anak pun. Aku biasa memanggilnya Mbok Hadi. Memang sejak dulu sewaktu Bapak ibuku belum bercerai, Mbok Hadi sudah aku anggap keluarga sendiri.

Karena berbagai alasan, setelah aku lulus SD, aku tak bisa melanjutkan sekolah. 2 tahun aku merantau di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Majalengka. Aku menjadi tukang bersih-bersih rumah dan kantor sekaligus merangkap menjadi tukang rawat hewan-hewan peliharaan majikanku waktu itu.

Sedang asyik bekerja, bunyi telefon kantor berdering yang ternyata ibuku menelfon dari kampung, yang memintaku untuk pulang dan melanjutkan sekolah. Usut punya usut ternyata ada program beasiswa gratis full 3 tahun sampai lulus bahkan masih dibelikan perlengkapan sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Alhamdulillah 3 tahun di SMP berjalan lancar dan cukup menyenangkan. Walaupun setiap hari aku harus berjalan kaki kurang lebih 5 KM, dan sepulang sekolah masih harus mencari makanan kambing milik Mbok Hadi. 3 tahun berlalu, menjadi lulusan terbaik di SMP kala itu menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku, yang juga mengantarkan aku bisa melanjutkan ke sebuah SMA Negeri yang memberikan beasiswa gratis selama satu semester bagi lulusan terbaik.

Karena keadaan ekonomi, 3 tahun aku “menumpang” hidup di rumah salah seorang yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Sebut saja pak Hari. Jadi ceritanya, berpuluh-puluh tahun sudah Bapakku berkerja dengan pak Hari. Melihat potensiku yang cukup besar, pak Hari tak mau aku hanya sampai di SMP. Sehingga Beliau dengan suka rela membiarkan aku hidup di rumah beliau selama aku sekolah di SMA supaya pendidikanku tetap lancar. Karena memang Bapakku sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Pak Hari.

3 tahun berlalu, aku menjadi lulusan terbaik jurusan IPA di SMAku. Itu pula yang mengantarkan aku meraih bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun terseok-seok, akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu sesuai yang ditetapkan pemerintah kepada kami mahasiswa berbeasiswa.

Lulus kuliah, tak lantas membuat aku menemukan pekerjaan seperti yang aku pikirkan. Beberapa bulan aku masih menganggur. Hanya beberapa pekerjaan serabutan saja yang aku kerjakan untuk mengisi hari-hariku.

Akhirnya, di tengah keputusasaanku yang tak kunjung mendapat pekerjaan, aku teringat kakak perempuanku yang ada di Samarinda. Ku telfon dia dan gayung bersambut. Kakakku punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya dengan bekal seadanya, berangkatlah aku ke Samarinda yang menjadi pengalamanku pertama kali keluar pulau Jawa dan pertama kali pula naik pesawat terbang.

Sampai disana, bekerjalah aku di sebuah minimarket yang cabangnya menyebar secara sporadic diseluruh nusantara. Sebut saja Indomaret. Lebih kurang 2 tahun aku bekerja di perusahaan yang ternyata kalo di toko ada barang yang hilang, maka anak tokolah yang harus dipotong gajinya senilai barang yang hilang tersebut. Sialnya, pertama kali aku menjadi kepala toko, ternyata kasirnya lihai sekali mencuri barang. Nasib badan.

Satu tahun berlalu, tiba saatnya aku menikahi gadis yang sangat aku sayang. Ambil cuti kurang lebih 10 hari, lalu berlangsunglah pernikahan itu dengan lancar. H+4 setelah pernikahan, aku Kembali berangkat ke Samarinda dengan sudah ditemani istri tercinta.

8 bulan setelahnya istriku hamil dan keluarga di Jawa menghendaki agar istriku melahirkan di Jawa. Akhirnya di usia kehamilan ke 7 bulan, istriku pulang ke Jawa, sementara aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dulu di Samarinda.

Selang 1 bulan setelah anakku lahir, aku memutuskan resign dan pulang Kembali ke Jawa. Kira-kira 2 atau 3 bulan setelah resign, kembalilah aku menjadi pengangguran. Sedangkan susu dan popok bayi terus saja habis. Nasib badan.

Akhirnya aku mencoba peruntungan mendaftar menjadi perangkat desa dan diterimalah aku menjadi Kepala Urusan Keuangan. Yang dengan itu perekonomian keluargaku mulai membaik. Meskipun belum bisa dikatakan memadai.

2 tahun berlalu, pemerintah membuka lowongan CPNS, dan diterimalah aku di Kementerian Agama, menjadi seorang Guru di sebuah MTs Negeri. Setelah SK CPNS diterima di tangan, ternyata aku di tempatkan di sebuah MTs Negeri di Kebumen, perbatasan Cilacap dan Banyumas. MTs Negeri Rowokele atau MTs Negeri 4 Kebumen.

“Jalan hidup kita yang merencanakan. Tuhan yang tentukan.”

“Dream it. Make it”

 (hehehe bisa juga aku nulis ngga ada guyonnya).

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ▼  September (1)
      • TENTANG GADGET DAN ANAK KELAS 4 SD YANG LAGI WUDHU...
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM