
(Picture :sahabatpenakita.id )
Sepertinya kita sepakat kalo tahun 2020 adalah tahun yang sangat berat untuk kita jalani sebagai penghuni planet bumi. Hampir semua lini kehidupan terdampak akibat adanya pandemic virus corona. Terlepas dari semua teori yang beredar, kita sepakat bahwa memang virus ini benar-benar ada dan mengakibatkan kekacauan yang luar biasa.
Saya adalah salah satu makhluk Tuhan yang terdampak dengan adanya pandemic ini. Bagaimana tidak? Sebagai seorang guru, pekerjaan saya yang selama ini mengharuskan saya bertemu dengan siswa, terpaksa harus beralih menggunakan system online, yang mana secara umum di masyarakat kita, masih banyak sekali hambatan yang ditemui Ketika kita menggunakan system online. Ada yang terkendala sinyal, ada yang terkendala kuota, ada yang terkendala sinyal dan kuota, bahkan masih banyak yang belum punya HP untuk proses belajar mengajar. Sekalinya punya HP ternyata tetap saja tidak bisa dipakai untuk pembelajaran. Karena ternyata HPnya bukan Handphone tapi Printer. Geeeeerrrrr. Komedi komedi komedi :D
Itu masih sangat mending dibandingkan dengan banyak sekali profesi yang benar-benar terdampak langsung secara ekonomi. Tukang sayur keliling, tukang sound system, tukang rias, tukang sayur yang nyambi tukang rias, tukang sound system yang nyambi jadi tukang sayur, adalah beberapa profesi yang sangat merasakan dampaknya.
Saya pernah ngobrol dengan pedagang sayur keliling, yang kebetulan dia tidak nyambi jadi tukang rias. Saya kepengin tahu bagaimana nasib jualannya Ketika awal-awal pandemic berlangsung. Sebut saja Namanya Peter.
Saya :”Kang Peter, kepriwe rasane dadolan sayuran pas ana korona kaya kiye?”
Peter : “Aduh mas. Jan melas banget. Masa ora ana sing tuku babar blas?”.
Saya : “Lah nangapa sih deneng ora ana sing gelem tuku? Apa wong-wong pada wedi metu karna korona?”
Peter : “Ora mas. Malah wonge pada emosi. Lah aku tukang sayur ya mbengok mbengok “Sayur sayur sayur”. Tapi pas kuwe malah sing tak gawa udu sayuran. Malah kleru nggawane dagangan pentol ayam”.
Saya : “Oalah wong kenthir. Wong genah tukang sayur malah nggawane pentol ayam. Ya pantes wong-wong pada emosi. Wong genah diprank rika kok ya”.
Peter : “Iya mas. Ya ngapura wong jenenge salah nggawa. Dagangane pancen dobel-dobel. Nek sore pancen dagang pentol. Ngejar setoran nggo nyicil apartemen”.
Berdasarkan pengamatan saya, di masa awal-awal pandemic, hampir semua desa-desa yang saya lewati menerapkan penutupan jalan. Siapapun yang berasal dari luar daerah tidak boleh masuk. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Peter sebagai tukang sayur. Dan tentu saja masih banyak Peter Peter yang lainnya.
Pekerjaan saya memang tidak terdampak langsung secara ekonomi. Tapi dalam kehidupan sosial masyarakat, saya benar-benar mengalami dampak yang sangat luar biasa. Kemana-mana dibatasi, ibadah di masjid dibatasi. Ke tempat kerja dibatasi. Bahkan untuk bertemu keluarga pun saya dibatasi. Harus mandi dulu, harus sikat gigi dulu, harus ganti pakaian dulu. Seandainya muka ini bisa diganti, pasti harus diganti dulu. Tapi kalo beneran ada kayaknya asyik tuh. Saya mau ganti muka saya kaya Han Ji Pyeong biar istri makin cinta.
Tapi di balik ini semua, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berfikir.
2020, mengajarkan saya, bahwa manusia itu sangat rapuh. Rapuh Ketika ternyata makhluk yang sangat kecil, bisa mengambil segalanya dari manusia. Dan bahkan sampai sekarang manusia belum sepenuhnya mampu untuk “mengalahkan” makhluk kecil tersebut.
Dari corona pula saya belajar bagaimana kita manusia sangat sering tidak mensyukuri nikmat sehat. Ternyata kita baru menyadari bahwa Kesehatan itu adalah nikmat yang luar biasa besar yang sering kita tidak menyadarinya.
Bagi saya pribadi, 2020 membuat saya semakin dekat dengan istri dan anak-anak saya. Bila sebelum ada pandemic, mungkin saya hanya akan bertemu dengan anak-anak saya di Weekend, tapi karena ada pandemic dan mengharuskan kerja dari rumah, maka saya dapat bertemu dengan keluarga dengan waktu yang lebih fleksibel.
2020 juga mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan apapun yang kita alami. Setidaknya nikmat Kesehatan masih ada di badan kita. Kita masih bisa menatap hari esok dengan penuh doa dan harapan.
Terima kasih para tenaga Kesehatan atas dedikasinya selama ini, terima kasih pemerintah atas segala upaya untuk mengatasi ini semua terlepas dari segala kekurangan yang ada, terimakasih kepada semua pihak yang berdiri di garis depan dalam menghadapi pandemic ini. Semoga kita semua semakin kuat, dan pandemic ini segera berakhir.



