“Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.
Begitulah salah satu rangkaian
lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang
dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi
lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda
adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai
mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan
mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja
dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri
kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya.
Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah
direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih
nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain.
“Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok
malah ngelantur kemana-mana.
Kembali ke topik. Di tulisan saya
sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah
pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan
saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.
Kembali ke Maret 2019, saya
mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya.
Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK
tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang
dan harus diambil oleh yang bersangkutan.
Detik mendebarkan itu pun tiba,
perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu.
Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang
luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan
ditempatkan.
Setelah SK CPNS berada di tangan,
dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS
tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang
akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat
saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85
kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus
berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin
dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di
jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau
kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata
dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh
dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang
rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.
Tidak disangka tidak dinyana,
bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali
mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng. Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat
mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu
ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan
surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat
keputusan mutasi secara simbolis.
Aduh. Jadi deg-degan lagi .
Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual
pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi
karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.
2 hari berlalu, tibalah saatnya
penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS,
perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin
saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung
tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah,
puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali
ke “pangkuan ibu pertiwi”.
MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara
fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali
belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan
kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.
Bangunannya memang bukan bangunan
baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis
yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan
rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal
baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum
saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa
yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat
bagus untuk perkembangan anak didik kita.
Hal lain yang menguatkan bahwa
MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar
biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi
siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi
prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada
yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada
intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi
tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.
Itulah cerita bagaimana
perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs
Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik
ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.
Ada fakta menarik di MTs Negeri 1
Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr.
Komedi komedi komedi. 😃😃😃
