• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

 “Mendung tanpo udan. Ketemu lan kelangan. Kabeh kuwi sing diarani perjalanan”.

Begitulah salah satu rangkaian lirik lagu Mendung Tanpo Udan yang sedang booming sekali di dunia maya, yang dinyanyikan Ndarboy Geng dan Deny Caknan. Entah kebetulan atau bagaimana, isi lagu tersebut sedang sangat “Relate” dengan perjalanan hidup saya. Yang beda adalah konteksnya saja. Di lagu tersebut menceritakan bahwa si penyanyi pernah mempunyai mimpi yang begitu indah bersama pasangannya. “Awak dewe tau duwe bayangan mbesuk yen wis wayah omah-omahan, aku maca koran sarungan, kowe belanja dasteran. “Nanging saiki wis dadi kenangan aku karo kowe wis pisahan. Aku kiri kowe kanan, wis bedo dalan”. (Siapa yang baca sambil nyanyi?) Kasihan mereka ya. Kadang kalo sedang jatuh cinta memang seperti itu. Bayangan masa depan sudah direncanakan berdua. Bahkan sudah merencanakan mau anak berapa, mau dikasih nama siapa, mau menikah dengan adat apa, eh tau tau malah menikah dengan orang lain. “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir” – Cu Pat Kay 1990. Aduh kok malah ngelantur kemana-mana.

Kembali ke topik. Di tulisan saya sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa mulai bulan Augustus 2021, saya pindah pekerjaan ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Mari saya ceritakan perjalanan saya menjalani kisah perjalanan dari Kebumen ke Banjarnegara.

Kembali ke Maret 2019, saya mendapatkan surat cinta (SK CPNS) yang telah lama saya tunggu kedatangannya. Berangkatlah saya ke Semarang untuk mengambil surat cinta tersebut karena SK tersebut dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Semarang dan harus diambil oleh yang bersangkutan.

Detik mendebarkan itu pun tiba, perasaan gembira sekaligus was-was mewarnai penerimaan SK CPNS waktu itu. Gembira, karena sesuatu yang sangat saya tunggu dan diwarnai perjuangan yang luar biasa akhirnya bisa benar-benar saya raih (Cerita penuh harunya 😃bisa dibaca disini). Was-was karena masih bertanya-tanya, dimanakah saya akan ditempatkan.

Setelah SK CPNS berada di tangan, dengan penuh rasa penasaran dan dag dig dug luar biasa, dibukalah SK CPNS tersebut dan tanpa pikir panjang, mata ini langsung tertuju ke Madrasah yang akan saya tempati. MTs Negeri 4 Kebumen. Itulah tempat yang akan menjadi tempat saya bekerja. Ada perasaan gembira namun bercampur rasa syukur. Jarak 85 kilometer itulah yang membuat saya cukup bersedih karena itu berarti saya harus berpisah dengan orang tua dan keluarga di Banjarnegara. Karena tak mungkin dengan jarak sejauh itu mampu saya tempuh pulang pergi setiap hari. Bisa tua di jalan kalo harus pulang pergi. Yang berarti saya harus mengontrak rumah atau kos. Tetapi ada hal lain yang membuat saya harus bersyukur. Karena ternyata dari sekian ratus CPNS baru, mayoritas ditempatkan di tempat yang sangat jauh dengan tempat tinggal. Dari 5 CPNS di MTs N 4 Kebumen saja, ada 4 orang yang rumahnya berjarak ratusan kilometer, dan saya adalah yang terdekat.

Tidak disangka tidak dinyana, bagaikan mendapatkan durian runtuh, setelah 2 tahun berlalu, dan saya kembali mendapat surat cinta dari Kanwil Jateng.  Kali ini rumornya kita akan mendapatkan surat mutasi. Kenapa rumor? Karena memang semuanya mendadak. Kita tidak tahu menahu ada rencana mutasi seperti itu. Lalu tiba-tiba di malam hari, kami mendapatkan surat undangan untuk melakukan rapat online dan akan melakukan penerimaan surat keputusan mutasi secara simbolis.

Aduh. Jadi deg-degan lagi . Kemanakah saya akan berlabuh setelah ini? Acara penyerahan SK secara virtual pun selesai dan saya masih belum mengetahui kemanakah tujuan saya dimutasi karena kita baru akan tahu ketika kita mendapatkan SK secara fisik.

2 hari berlalu, tibalah saatnya penyerahan SK di Kantor Kemenag Kabupaten Kebumen. Layaknya saat menerima SK CPNS, perasaan berdebar-debar kembali muncul. Kemanakah saya akan dimutasi? batin saya dalam hati. Setelah SK di tangan, tanpa melihat apapun, mata ini langsung tertuju ke satuan kerja tujuan saya. MTs Negeri 1 Banjarnegara. Alhamdulillah, puji syukur dalam hati tak henti-hentinya saya ucapkan karena saya bisa kembali ke “pangkuan ibu pertiwi”.

MTs Negeri 1 Banjarnegara. Secara fisik maupun batin, saya memang belum pernah ada ikatan apapun, dan sama sekali belum mengenal Madrasah yang ada di Pucang ini. Namun, begitu saya menginjakkan kaki di sana, rasa senang dan kagum sudah langsung terasa.

Bangunannya memang bukan bangunan baru. Kalo tidak mau dibilang tua. Tapi, ketika masuk ke sana, aura akademis yang kuat langsung terasa. Hal itu terlihat ketika saya mulai berbincang dengan rekan-rekan guru, para wakil kepala madrasah, dan teman-teman, banyak sekali hal baru, yang menurut saya sangat baik di dunia pendidikan yang selama ini belum saya temui. Ada perbincangan-perbincangan mengenai masa depan anak-anak, apa yang perlu kita lakukan untuk memajukan madrasah, dan hal-hal lain yang sangat bagus untuk perkembangan anak didik kita.

Hal lain yang menguatkan bahwa MTs Negeri 1 adalah Madrasah yang sangat bagus adalah prestasinya yang luar biasa. Begitu saya masuk ke MTs Negeri 1, ada banyak sekali laporan prestasi siswa yang baru-baru ini diraih. Bukan 1 atau 2. Tapi puluhan. Belum lagi prestasi bapak ibu guru yang begitu banyak. Ada yang aktif sekali menulis, ada yang aktif sekali di keagamaan, riset, tahfidz, dan masih banyak lagi. Pada intinya, walaupun di masa pandemi ini, saya merasa aura untuk terus berprestasi tidak pernah surut di MTs Negeri 1 Banjarnegara ini.

Itulah cerita bagaimana perjalanan saya dari Kebumen ke Banjarnegara dan secuil kesan saya mengenai MTs Negeri 1 Banjarnegara. Semoga dengan datangnya saya, bisa memberi warna yang baik ke MTs yang mempunyai Slogan “Madtsansa Mendunia” ini.

Ada fakta menarik di MTs Negeri 1 Banjarnegara. Ternyata pintu gerbangnya ada di depan. Geeeeeeerrrrrrrrrrr. Komedi komedi komedi. 😃😃😃

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

“Jangan makan burung emprit. Nanti tua hidupnya pindah-pindah terus”. Begitu mitos yang sering diucapkan orang-orang tua di kampungku. Tapi dari jaman aku kecil ucapan-ucapan ngga masuk akal semacam itu selalu aku bantah. Soalnya dipikir secara logika aja ngga nyampe. Apalagi kalau dikaitkan dengan agama. Bisa menjerumus ke Tatoyur. Mempercayai sesuatu yang terjadi karena sebab-sebab yang ngga masuk akal. “Jangan berdiri di depan pintu. Nanti menghalangi rejeki”. “Jangan nyisain makanan ntar ayamnya mati”. “Jangan berdiri di tengah jalan tol, nanti ditabrak sedan”. “Jangan kritik pemerintah. Nanti ada kang bakso lewat”. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Hal yang bikin aku semakin ngga percaya kalimat-kalimat ngga masuk akal tadi adalah, dari jaman orok aku ngga pernah makan burung emprit. Tapi hidupku udah kaya burung emprit. Pindah-pindah terus. Dari desa satu ke desa lain, dari provinsi satu ke provinsi lain, bahkan dari pulau satu ke pulau lain. Mari kita bedah.

Lulus SD, aku udah harus kerja di Majalengka Jawa Barat selama kurang lebih 2 tahun. Ngga dapet apa-apa tuh disitu. Paling yang aku dapet  jadi lancar banget ngomong Bahasa Sunda waktu itu. Bahkan kalo orang Sunda waktu itu ngomong sama aku, dikira aku orang Sunda. Sangkin luwes dan fasehnya. Lulus SD merantau ke Majalengka Jawa Barat 2 tahun.

Karena keadaan keluargaku yang wadidaw sekali, ikutlah aku sama orang yang biayain aku sekolah. Pindah ke desa lain. 3 tahun.

Kuliah ngga aku anggep merantau lah ya. Karena emang harus kuliah di Semarang. Kan ngga mungkin kuliah di kampungku sendiri.  

Habis kuliah akhirnya pertarungan sesungguhnya. Merantaulah ke luar pulau. Samarinda, Kalimantan Timur. 2 tahun. Lumayan tuh disana dapet macem-macem. Dapet uang mahar, dapet biaya lahiran anak pertama, dapet pengalaman sebagai karyawan Indomaret, dapet pengalaman dibentak-bentak manager, dapet banyak lah pokoknya disana.

Sehabis istri melahirkan, resignlah aku. Balik lagi ke kampung halaman. Jadilah perangkat desa. Kurang lebih 2 tahun. Nah pas jadi perangkat desa ini aku juga tinggal pindah-pindah antar kecamatan. Soalnya aku ikut mertua di Karangkobar, tapi perangkat desanya ikut kecamatan kalibening.

2018, ikutlah aku tes CPNS. Diterimalah aku di Kementerian Agama. Ditempatkanlah di Kebumen. 2 tahun kurang lebih.

Kaya ketiban Durian Montong, tiba-tiba beberapa hari yang lalu dapet surat cinta dari Semarang. Dimutasilah aku Kembali ke Banjarnegara. Tempat baru lagi, ketemu orang-orang baru lagi, adaptasi lagi, dan tetek bengeknya. Tapi aku Bahagia. Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, kota kecil nan menggemaskan ini, adalah harapanku sedari dulu. Walaupun aku udah kerja kemana-mana, Kembali ke Banjarnegara adalah harapan yang selalu tersimpan dalam hati.

Jadi intinya di tulisan ini aku mau bilang, “Jangan makan burung emprit nanti hidupnya pindah-pindah terus”, adalah sebuah kebohongan yang nyata.

Semoga di Banjarnegara ini bisa sampai pensiun lah ya. Capek banget pindah-pindah terus. Kaya hati seorang jomblo yang gonta ganti pasangan namun tak jua menemukan tambatan hatinya.

Hubungannya sama judul? Sangat erat hubungannya.

Di setiap kepindahanku pasti selalu ada “Shit”nya. Banyak banget. Yang pasti, CAPEK. Tapi mau gimana lagi. Wong kita Cuma wayang. mau gimanapun jalan kehidupan kita, ya terserah sang Dalang. Tetap bersyukur adalah kunci dari semua ini. Well, let me say…. EVERY SHIT HAPPEN, BUT …. LIFE MUST GO ON.

Dari rangkuman perjalanan hidupku ini, kayaknya ada sesuatu di balik 2 tahun. Hampir semua perjalanan karirku (cie karir 😀) selalu berpindah setelah 2 tahun. Majalengka 2 tahun, Samarinda 2 tahun, Kebumen 2 tahun. Apakah di Banjarnegara ini akan berpindah lagi setelah 2 tahun? Aku sendiri penasaran. Patut buat aku tunggu.

Oh iya satu lagi inti dari tulisan ini adalah….. Dulu di Samarinda aku sering dibentak-bentak manager. Namanya Pak Wayan. Dari Bali dong. Masa dari Jawa. Kalo dari Jawa namanya Wahyono. 😀

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ▼  2021 (11)
    • ►  September (1)
    • ▼  Agustus (2)
      • KEMBALI KE PANGKUAN IBU PERTIWI
      • Every Shit Happen, But ….
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM