31 tahun yang lalu, Aku terlahir di keluarga yang cukup berada di kampungku. Ibuku pedagang ulung. Bapakku pekerja keras. Dikala anak-anak di kampungku masih bermain mobil-mobilan dari tanah liat, aku sudah bermain dengan mobil-mobilan yang dibeli dari pasar. Punya 2 peliharaan sapi juga menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi keluargaku cukup mapan, dimana kala itu punya peliharaan sapi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi di kampungku. Belum lagi lumbung padi dan jagung milik ibuku yang selalu terisi penuh karena pada saat itu masih banyak warga yang membeli keperluan rumah tangga di warung milik ibuku dengan system barter.
11 atau 12 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD, keadaan berbalik 180 derajat. Orang tuaku bercerai. Aku dan ibuku menumpang hidup di rumah uwa. Bapakku sementara masih memakai rumah lama yang dulu kita tinggali. Karena satu dan lain hal, Bapakku akhirnya meninggalkan rumah itu juga dan aku ngga begitu tahu dimana Bapakku tinggal setelahnya karena memang setelah kejadian perceraian itu, aku menjadi jauh dengan Bapakku.
Karena satu dan lain hal pula, satu tahun setelahnya aku tidak tinggal lagi dengan uwa. Aku menumpang hidup di rumah nenek. Sebenarnya bukan nenek kandung. Beliau hanya seseorang di kampungku yang sejak kecil merawat kakak perempuanku karena dari pernikahannya, Beliau tidak dikaruniai satu orang anak pun. Aku biasa memanggilnya Mbok Hadi. Memang sejak dulu sewaktu Bapak ibuku belum bercerai, Mbok Hadi sudah aku anggap keluarga sendiri.
Karena berbagai alasan, setelah aku lulus SD, aku tak bisa melanjutkan sekolah. 2 tahun aku merantau di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Majalengka. Aku menjadi tukang bersih-bersih rumah dan kantor sekaligus merangkap menjadi tukang rawat hewan-hewan peliharaan majikanku waktu itu.
Sedang asyik bekerja, bunyi telefon kantor berdering yang ternyata ibuku menelfon dari kampung, yang memintaku untuk pulang dan melanjutkan sekolah. Usut punya usut ternyata ada program beasiswa gratis full 3 tahun sampai lulus bahkan masih dibelikan perlengkapan sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Alhamdulillah 3 tahun di SMP berjalan lancar dan cukup menyenangkan. Walaupun setiap hari aku harus berjalan kaki kurang lebih 5 KM, dan sepulang sekolah masih harus mencari makanan kambing milik Mbok Hadi. 3 tahun berlalu, menjadi lulusan terbaik di SMP kala itu menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku, yang juga mengantarkan aku bisa melanjutkan ke sebuah SMA Negeri yang memberikan beasiswa gratis selama satu semester bagi lulusan terbaik.
Karena keadaan ekonomi, 3 tahun aku “menumpang” hidup di rumah salah seorang yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Sebut saja pak Hari. Jadi ceritanya, berpuluh-puluh tahun sudah Bapakku berkerja dengan pak Hari. Melihat potensiku yang cukup besar, pak Hari tak mau aku hanya sampai di SMP. Sehingga Beliau dengan suka rela membiarkan aku hidup di rumah beliau selama aku sekolah di SMA supaya pendidikanku tetap lancar. Karena memang Bapakku sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Pak Hari.
3 tahun berlalu, aku menjadi lulusan terbaik jurusan IPA di SMAku. Itu pula yang mengantarkan aku meraih bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun terseok-seok, akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu sesuai yang ditetapkan pemerintah kepada kami mahasiswa berbeasiswa.
Lulus kuliah, tak lantas membuat aku menemukan pekerjaan seperti yang aku pikirkan. Beberapa bulan aku masih menganggur. Hanya beberapa pekerjaan serabutan saja yang aku kerjakan untuk mengisi hari-hariku.
Akhirnya, di tengah keputusasaanku yang tak kunjung mendapat pekerjaan, aku teringat kakak perempuanku yang ada di Samarinda. Ku telfon dia dan gayung bersambut. Kakakku punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya dengan bekal seadanya, berangkatlah aku ke Samarinda yang menjadi pengalamanku pertama kali keluar pulau Jawa dan pertama kali pula naik pesawat terbang.
Sampai disana, bekerjalah aku di sebuah minimarket yang cabangnya menyebar secara sporadic diseluruh nusantara. Sebut saja Indomaret. Lebih kurang 2 tahun aku bekerja di perusahaan yang ternyata kalo di toko ada barang yang hilang, maka anak tokolah yang harus dipotong gajinya senilai barang yang hilang tersebut. Sialnya, pertama kali aku menjadi kepala toko, ternyata kasirnya lihai sekali mencuri barang. Nasib badan.
Satu tahun berlalu, tiba saatnya aku menikahi gadis yang sangat aku sayang. Ambil cuti kurang lebih 10 hari, lalu berlangsunglah pernikahan itu dengan lancar. H+4 setelah pernikahan, aku Kembali berangkat ke Samarinda dengan sudah ditemani istri tercinta.
8 bulan setelahnya istriku hamil dan keluarga di Jawa menghendaki agar istriku melahirkan di Jawa. Akhirnya di usia kehamilan ke 7 bulan, istriku pulang ke Jawa, sementara aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dulu di Samarinda.
Selang 1 bulan setelah anakku lahir, aku memutuskan resign dan pulang Kembali ke Jawa. Kira-kira 2 atau 3 bulan setelah resign, kembalilah aku menjadi pengangguran. Sedangkan susu dan popok bayi terus saja habis. Nasib badan.
Akhirnya aku mencoba peruntungan mendaftar menjadi perangkat desa dan diterimalah aku menjadi Kepala Urusan Keuangan. Yang dengan itu perekonomian keluargaku mulai membaik. Meskipun belum bisa dikatakan memadai.
2 tahun berlalu, pemerintah membuka lowongan CPNS, dan diterimalah aku di Kementerian Agama, menjadi seorang Guru di sebuah MTs Negeri. Setelah SK CPNS diterima di tangan, ternyata aku di tempatkan di sebuah MTs Negeri di Kebumen, perbatasan Cilacap dan Banyumas. MTs Negeri Rowokele atau MTs Negeri 4 Kebumen.
“Jalan hidup kita yang merencanakan. Tuhan yang tentukan.”
“Dream it. Make it”
(hehehe bisa juga aku nulis ngga ada guyonnya).



