• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?

31 tahun yang lalu, Aku terlahir di keluarga yang cukup berada di kampungku. Ibuku pedagang ulung. Bapakku pekerja keras. Dikala anak-anak di kampungku masih bermain mobil-mobilan dari tanah liat, aku sudah bermain dengan mobil-mobilan yang dibeli dari pasar. Punya 2 peliharaan sapi juga menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi keluargaku cukup mapan, dimana kala itu punya peliharaan sapi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan ekonomi di kampungku. Belum lagi lumbung padi dan jagung milik ibuku yang selalu terisi penuh karena pada saat itu masih banyak warga yang membeli keperluan rumah tangga di warung milik ibuku dengan system barter.

11 atau 12 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD, keadaan berbalik 180 derajat. Orang tuaku bercerai. Aku dan ibuku menumpang hidup di rumah uwa. Bapakku sementara masih memakai rumah lama yang dulu kita tinggali. Karena satu dan lain hal, Bapakku akhirnya meninggalkan rumah itu juga dan aku ngga begitu tahu dimana Bapakku tinggal setelahnya karena memang setelah kejadian perceraian itu, aku menjadi jauh dengan Bapakku.

Karena satu dan lain hal pula, satu tahun setelahnya aku tidak tinggal lagi dengan uwa. Aku menumpang hidup di rumah nenek. Sebenarnya bukan nenek kandung. Beliau hanya seseorang di kampungku yang sejak kecil merawat kakak perempuanku karena dari pernikahannya, Beliau tidak dikaruniai satu orang anak pun. Aku biasa memanggilnya Mbok Hadi. Memang sejak dulu sewaktu Bapak ibuku belum bercerai, Mbok Hadi sudah aku anggap keluarga sendiri.

Karena berbagai alasan, setelah aku lulus SD, aku tak bisa melanjutkan sekolah. 2 tahun aku merantau di sebuah kota kecil di Jawa Barat, Majalengka. Aku menjadi tukang bersih-bersih rumah dan kantor sekaligus merangkap menjadi tukang rawat hewan-hewan peliharaan majikanku waktu itu.

Sedang asyik bekerja, bunyi telefon kantor berdering yang ternyata ibuku menelfon dari kampung, yang memintaku untuk pulang dan melanjutkan sekolah. Usut punya usut ternyata ada program beasiswa gratis full 3 tahun sampai lulus bahkan masih dibelikan perlengkapan sekolah dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Alhamdulillah 3 tahun di SMP berjalan lancar dan cukup menyenangkan. Walaupun setiap hari aku harus berjalan kaki kurang lebih 5 KM, dan sepulang sekolah masih harus mencari makanan kambing milik Mbok Hadi. 3 tahun berlalu, menjadi lulusan terbaik di SMP kala itu menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku, yang juga mengantarkan aku bisa melanjutkan ke sebuah SMA Negeri yang memberikan beasiswa gratis selama satu semester bagi lulusan terbaik.

Karena keadaan ekonomi, 3 tahun aku “menumpang” hidup di rumah salah seorang yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Sebut saja pak Hari. Jadi ceritanya, berpuluh-puluh tahun sudah Bapakku berkerja dengan pak Hari. Melihat potensiku yang cukup besar, pak Hari tak mau aku hanya sampai di SMP. Sehingga Beliau dengan suka rela membiarkan aku hidup di rumah beliau selama aku sekolah di SMA supaya pendidikanku tetap lancar. Karena memang Bapakku sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarga Pak Hari.

3 tahun berlalu, aku menjadi lulusan terbaik jurusan IPA di SMAku. Itu pula yang mengantarkan aku meraih bangku kuliah di Universitas Negeri Semarang. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Meskipun terseok-seok, akhirnya aku dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu sesuai yang ditetapkan pemerintah kepada kami mahasiswa berbeasiswa.

Lulus kuliah, tak lantas membuat aku menemukan pekerjaan seperti yang aku pikirkan. Beberapa bulan aku masih menganggur. Hanya beberapa pekerjaan serabutan saja yang aku kerjakan untuk mengisi hari-hariku.

Akhirnya, di tengah keputusasaanku yang tak kunjung mendapat pekerjaan, aku teringat kakak perempuanku yang ada di Samarinda. Ku telfon dia dan gayung bersambut. Kakakku punya kenalan yang sedang membutuhkan pekerjaan. Akhirnya dengan bekal seadanya, berangkatlah aku ke Samarinda yang menjadi pengalamanku pertama kali keluar pulau Jawa dan pertama kali pula naik pesawat terbang.

Sampai disana, bekerjalah aku di sebuah minimarket yang cabangnya menyebar secara sporadic diseluruh nusantara. Sebut saja Indomaret. Lebih kurang 2 tahun aku bekerja di perusahaan yang ternyata kalo di toko ada barang yang hilang, maka anak tokolah yang harus dipotong gajinya senilai barang yang hilang tersebut. Sialnya, pertama kali aku menjadi kepala toko, ternyata kasirnya lihai sekali mencuri barang. Nasib badan.

Satu tahun berlalu, tiba saatnya aku menikahi gadis yang sangat aku sayang. Ambil cuti kurang lebih 10 hari, lalu berlangsunglah pernikahan itu dengan lancar. H+4 setelah pernikahan, aku Kembali berangkat ke Samarinda dengan sudah ditemani istri tercinta.

8 bulan setelahnya istriku hamil dan keluarga di Jawa menghendaki agar istriku melahirkan di Jawa. Akhirnya di usia kehamilan ke 7 bulan, istriku pulang ke Jawa, sementara aku masih harus melanjutkan pekerjaanku dulu di Samarinda.

Selang 1 bulan setelah anakku lahir, aku memutuskan resign dan pulang Kembali ke Jawa. Kira-kira 2 atau 3 bulan setelah resign, kembalilah aku menjadi pengangguran. Sedangkan susu dan popok bayi terus saja habis. Nasib badan.

Akhirnya aku mencoba peruntungan mendaftar menjadi perangkat desa dan diterimalah aku menjadi Kepala Urusan Keuangan. Yang dengan itu perekonomian keluargaku mulai membaik. Meskipun belum bisa dikatakan memadai.

2 tahun berlalu, pemerintah membuka lowongan CPNS, dan diterimalah aku di Kementerian Agama, menjadi seorang Guru di sebuah MTs Negeri. Setelah SK CPNS diterima di tangan, ternyata aku di tempatkan di sebuah MTs Negeri di Kebumen, perbatasan Cilacap dan Banyumas. MTs Negeri Rowokele atau MTs Negeri 4 Kebumen.

“Jalan hidup kita yang merencanakan. Tuhan yang tentukan.”

“Dream it. Make it”

 (hehehe bisa juga aku nulis ngga ada guyonnya).

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

2009. Di sebuah SMA Negeri di suatu kota, tersebutlah seorang wakil ketua OSIS yang tampan rupawan, cerdas, dan mempesona. Sebut saja Mr. X. Waktu itu SMA tersebut sedang menerima tugas dari pemerintah kecamatan untuk menjadi pasukan pengibar bendera karena sebentar lagi akan diadakan upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia. Mr. X ditunjuk menjadi komandan paskibra karena dia yang mempunyai suara paling lantang diantara pengurus OSIS yang lain. Usut punya usut, ternyata suaranya lantang karena rumah Mr. X berada di pinggir sungai besar yang kalau bicaranya tidak lantang maka akan kalah dengan suara sungai itu. Jadi suara lantangnya memang dilatih langsung oleh alam.

Suatu pagi, setelah melakukan Latihan di lapangan yang akan digunakan untuk upacara, anak-anak Paskibra sedang istirahat. Di keempat sisi lapangan tersebut, ada jalan yang cukup lebar yang digunakan warga sekitar sebagai jalan menuju rumah-rumah warga. Disamping jalan itu, rumah-rumah warga berjejer lebih tinggi kurang lebih satu meter dari jalan itu.

Ketika Mr. X sedang beristirahat di emperan rumah warga, datanglah salah seorang cewek anggota Paskibra yang ingin ikut beristirahat di emperan rumah warga itu. Karena posisinya di jalan yang lebih rendah dari emperan rumah warga itu, maka gadis itu meminta tolong kepada Mr. X untuk meraih tangan gadis itu untuk dapat sama-sama beristirahat di emperan rumah warga tersebut. Kejadian itu adalah kali pertama Mr. X berkenalan dan memegang tangan gadis itu. Cerita selesai sampai disitu dan tidak ada sesuatu apapun yang terjadi disana. Hanya bincang-bincang ringan membahas keadaan birokrasi yang semrawut, poros ekonomi China dan Amerika, Organisasi elite global, Konspirasi Iluminati, proyeksi mereka tentang masa depan Indonesia di era 4.0, serta bahasan-bahasan ringan yang lain. Selesai sampai di situ. Dalam hati Mr.X pun tidak ada perasaan apapun. Hanya gumaman dalam hati. “Siapa sih cewek ini? Udah gendut, sedikit item, Tapi kok enak diajak ngobrol. Kayak ada inner beauty gitu”. Begitu gumam Mr. X dalam hati.

Siapa sangka pertemuan yang tidak direncanakan serta sekonyong-konyong itu akan menjadi cerita yang menyayat hati melebihi kisah Romeo dan Juliet? Siapa sangka hubungan mereka akan melebihi heroiknya perjuangan Jack untuk mendapatkan Rose? Siapa sangka hubungan mereka akan melebihi alaynya kisah Dilan dan Milea? Mari kita lanjutkan.

Singkat cerita, upacara pengibaran Bendera Merah Putih sukses dilaksanakan. Tiba saatnya untuk upacara penurunan bendera. Seperti digariskan Tuhan, Mr. X dan si gadis itu menjadi peserta upacara dan berdiri berdampingan. Saat itulah mulai timbul percakapan-percakapan alay tidak penting khas anak SMA. Yang kemudian berlanjut dengan bertukar nomer HP, nomer sepatu, nomer rumah, nomer celana, dan nomer-nomer yang lain. Kalau kalian sering lihat FTV, kurang lebih adegannya sama. Hanya pemerannya saja yang lebih tampan. Hehehe.

Dari situlah kisah cinta paling heroik, menyayat hati, alay, memalukan, mendebarkan, membahagian dimulai.  Kisah cinta yang kini telah membuahkan hasil dua makhluk yang sangat lucu. Kisah cinta yang telah mengiringi satu pemuda biasa menjadi seorang ayah yang lebih dari biasa. Kisah cinta yang mengiringi ganasnya kehidupan di negeri orang. Kisah cinta yang melewati ganasnya badai yang disebut badai “ekonomi”, kisah cinta yang telah melewati orang ketiga, keempat, dan orang-orang lainnya. Kisah cinta yang telah melahirkan jutaan tangis dan tawa. Kisah cinta dari manusia biasa. Kisah cinta aku dan istriku.

BERSAMBUNG ……………………………..

 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


1975, di sebuah daerah di New Jersey, America Serikat, tinggallah seorang anak, Jon (yang bernama asli John Francis Bongiovi, Jr), yang berusia 13 tahun dan mahir bermain piano. Itu pasti karena sejak kecil dia bermain piano. Kalo dari kecil ‘main hati’ pasti besarnya jadi Andra and The Backbone. Apasih?

 Saat berumur 16 tahun bertemulah Jon dengan seorang anak yang lain yang bernama David Bryan dan mereka sepakat membentuk band pertama mereka yang bernama ‘Raze’. Walaupun mereka masih di bawah umur, mereka sering sekali manggung di klub-klub di New Jersey.

Jon : “Pid, gawe band yo! Bosen ning ngumah bae ora ana gawean. Rebahan terus marakna lemu banget. Delok iki wetenge wis kaya kaya onta. Bergelambir”.

David: “Ayo siap. Aku ya wis suwe ora dolanan music. Jebul dolanan cewek terus ya bosen”.

Begitulah awal percakapan mereka membentuk sebuah band. Setelah melalui perjalanan Panjang, akhirnya mereka mengeluarkan single pertama “Runaway” yang ternyata mendapat sambutan yang luar biasa di pasar music saat itu.

Sementara itu. Di lain tempat nun jauh dari New Jersey Amerika, tahun 2003, di sebuah kampung yang sangat terpencil -sebut saja kampung Sabrang- yang tingkat kemajuannya bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan dengan New Jersey, tinggallah seorang anak berumur kurang lebih 12 tahun. Sebut saja Namanya Mas Kas. Dia tinggal Bersama neneknya karena setelah kedua orang tuanya bercerai,  dia menumpang hidup di rumah neneknya.

Mas Kas mempunyai tetangga seorang perempuan yang menikah dengan seorang pemuda ibukota. Sebut saja perempuan itu bernama Galih dan suaminya Ratna. Atau terbalik? Terserah wong ini Cuma ilustrasi. Sebagai seorang pemuda ibu kota tentu saja Galih mempunyai style dan selera yang berbeda dengan orang-orang di kampung Sabrang. Termasuk selera musiknya. Bila waktu itu tahun 2003 orang-orang di kampung Sabrang masih mendengarkan Gending dan Campursari, maka Galih sudah mendengarkan lagu-lagu barat.

Sebagai gambaran, di kampung Sabrang, orang-orang terbiasa memainkan music dengan suara yang keras sampai terdengar jauh ke beberapa rumah tetangga. Bahkan, bagi Sebagian warga kampung Sabrang, semakin keras dan mantapnya suara music mereka, maka akan semakin menambah gengsi dalam hidup mereka. Kalo orang kota untuk bergengsi mereka tinggal memakai pakaian bermerk, nongkrong lah di café-café dan terlihat gengsinya. Masa orang kampung Sabrang harus bawa sound system waktu nongkrong?

Karena Galih yang terbiasa memainkan music-music barat dengan suara keras, maka mau tak mau  suara music itu harus sampai ke rumah nenek Mas Kas dan tentu saja ke telinga Mas Kas. Begitulah seterusnya setiap hari, berulang-ulang, dengan lagu-lagu yang sama karena waktu itu masih jamannya VCD player. Sebenarnya ada perasaan kurang suka di hati Mas Kas yang terus mendengarkan music yang keras dari rumah orang lain. Tetapi entah kenapa, sebagai seorang anak kampung yang terbiasa dengan culture gending dan campursari, justru Mas Kas menyukai music-music yang diputar Galih. Terlebih lagi, ada satu lagu yang sangat Mas Kas sukai dan selalu terngiang-ngiang di telinga dia. Tapi dia tidak tahu itu lagu apa dan siapa yang menyanyikan. Karena lagunya memang berbahasa Inggris.

Setelah melalui perjalanan Panjang, Mas Kas baru tahu kalau lagu itu berjudul Always yang dinyanyikan sebuah band dari New Jersey Amerika, Bon Jovi.

Begitulah cerita awal mula saya mengenal Bon Jovi. Mulai saat itu, saya mulai mencari info tentang mereka, lagu-lagu mereka, dan juga cerita yang mengiringi perjalanan mereka, dan semakin hari pula saya semakin suka dengan music mereka.

17 tahun sudah Bon Jovi menemani perjalanan hidup saya di dunia fana ini. Ada begitu banyak highlight kehidupan saya yang diiringi musik Bon Jovi. Mengenai hal-hal itu dan mengapa saya menyukai Bon Jovi, akan saya tulis di lain kesempatan. Kalo saya ngga ngantuk.

“We've gotta hold on to what we've got

It doesn't make a difference if we make it or not

We've got each other and that's a lot For love”

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ►  2021 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ▼  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ▼  Mei (3)
      • MY LIFE IN 1 ARTICLE (yang cukup panjang ternyata)
      • Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan...
      • Tentang Aku dan Band Favoritku
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM