• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?



Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.

Tentu saja aku bingung mau tinggal dimana karena  tidak punya siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga. Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen. Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen, hanya saja beda instansi.

Di kontrakan itulah ide tulisan ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.

Setiap orang yang sudah berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana saja. 

Di setiap ada kesempatan, mereka berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main, yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.

Pun demikian yang terjadi denganku saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku. Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih bias pulang seminggu sekali.

Sebenarnya ini bukan hubungan jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah. 

Walaupun kadang rasa kangen tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku boyong kesini. 

Begitulah sedikit ceritaku mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.  

Kepada semua bapak-bapak hebat pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing. 

 FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ►  2021 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2019 (15)
    • ▼  Desember (1)
      • TENTANG LONG DISTANCE RELATIONSHIP
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM