Sekira pertengahan Juni 2019, setelah sekian purnama menunggu, akhirnya aku dipanggil Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk menerima Surat Keputusan Pengangkatan menjadi CPNS di Semarang. Sehari setelahnya, aku sudah harus melaksanakan tugas di tempat tugas yang telah terpilih yaitu Kabupaten Kebumen. 2 hari aku harus berkantor sementara di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen untuk melakukan orientasi dan berbagai penjelasan mengenai penempatan dan tugas yang akan aku laksanakan. Ada banyak peserta yang lainnya juga kurang lebih 15 orang.
Tentu saja aku bingung mau
tinggal dimana karena tidak punya
siapa-siapa di Kebumen. Teman-teman semasa kuliah sebenarnya banyak sekali
tetapi semuanya bekerja di tanah rantau. Untung saja kami para CPNS saling
berinteraksi dan berkonsultasi mengenai masalah yang kami hadapi di grup WA. Selain
banyak sampah dan gambar-gambar tak senonoh, ternyata grup WA ada gunanya juga.
Di grup itu jugalah aku mendapati seorang CPNS yang terlebih dahulu sudah ditugaskan
di Kebumen dan sudah punya kontrakan, yang dengan suka rela menawarkan ke aku untuk
menginap sementara di kontrakannya. Namanya Mas Huda. Dia berasal dari Sragen.
Dia ngontrak bareng sesama orang Sragen yang juga CPNS yang ditugaskan di Kebumen,
hanya saja beda instansi.
Di kontrakan itulah ide tulisan
ini muncul yang baru bisa aku tulis sekarang.
Setiap orang yang sudah
berkeluarga pasti menginginkan kebersamaan dengan keluarganya masing-masing. Mas
Huda dan Mas Haris sudah sama-sama punya istri dan anak yang dengan berat hati
mereka tinggalkan demi sebuah pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih
baik. Tentu saja mereka ingin ditempatkan di tempat yang bias berkumpul dengan
keluarga. Tetapi apa mau dikata. Atasan berkehendak lain, dan memang kami CPNS
sudah membuat sebuah komitmen hitam diatas putih untuk mau ditugaskan dimana
saja.
Di setiap ada kesempatan, mereka
berdua selalu menyempatkan untuk Video Call dengan istri dan anaknya. Dari jauh
aku sering memperhatikan betapa bahagianya mereka walau hanya dengan video
call. Aku tahu betul sebenarnya hati mereka tersayat ketika menahan rasa rindu
untuk melihat langsung keluarganya masing-masing. Dan begitulah perjuangan
seorang kepala keluarga untuk menghidupi anak dan istrinya. Mereka rela merantau
jauh demi anak istri yang Bahagia. Ketika kutanya mereka apakah ada rasa
penyesalan ditempatkan di tempat yang begitu jauh dengan keluarga, mereka
menjawab tidak. “Dimanapun tempatnya, insyaallah ini adalah tempat terbaik yang
diberikan Allah, dan yang penting ikhlas dan dibarengi rasa syukur, insyaallah
rasanya enteng”, begitulah mereka menjawab. Terus kalo lagi kangen banget sama
anak istri gimana?”, tanyaku. “Ya mau gimana lagi? Wong kita jauhnya ngga main-main,
yang penting saling percaya, saling mendoakan, paling banter ya video call. Itu
udah cukup”. Sebuah jawaban yang bijak.
Pun demikian yang terjadi denganku
saat ini. Aku lagi menjalani sebuah hubungan jarak jauh dengan istri dan anak-anakku.
Walaupun tidak terlalu jauh seperti Mas Huda dan Mas Haris. Setidaknya aku masih
bias pulang seminggu sekali.
Sebenarnya ini bukan hubungan
jarak jauh pertama kalinya. Sebelum menikah pun aku pernah satu tahun
berhubungan jarak jauh dengan calon istriku. Antar pulau malah. Aku di
Samarinda, istriku di Banjarnegara. Setelah menikah pun, waktu itu istriku pulang
dan melahirkan anak kami yang pertama, kita juga LDR karena aku belum sempat
pulang ke Jawa. Jadi lumayan ngga terlalu kaget lah.
Walaupun kadang rasa kangen
tiba-tiba datang, aku masih sangat bersyukur karena aku ditempatkan tidak
terlalu jauh. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari rumah ke tempat kerjaku. Jadi
Alhamdulillah aku masih bias pulang seminggu sekali. Walaupun harus masak
sendiri, bikin kopi sendiri, umbah-umbah sendiri, setidaknya aku menikmati
semua itu. Karena ini adalah pekerjaan impian aku sedari kecil, dan banyak jutaan
orang lainnya yang pengin pekerjaan seperti ini. Dan yang membuat aku semakin
bersyukur, insyaallah di awal tahun depan, istri dan anak-anakku bakal aku
boyong kesini.
Begitulah sedikit ceritaku
mengenai LDR yang kurang lebih sudah 6 bulan ini aku jalani.
Kepada semua bapak-bapak hebat
pejuang LDR, kuatlah, bergembiralah, karena insyaallah segala kangen dan rindu
dan segala penat yang kalian perjuangkan untuk keluarga, akan dibalas Allah
dengan balasan yang lebih indah. Yakinlah suatu saat nanti kalian akan
berkumpul dan tertawa Bahagia Bersama keluarga kalian masing-masing.
FYI, karena aku ngga bisa masak, aku pernah mencoba
masak sayur dan rasanya jauh lebih asin dari upil aku sendiri.
“Terus kalo hasrat menyalurkan
kebutuhan biologis lagi meninggi gimana?”

