• Home
  • About
  • Daftar Isi
facebook twitter instagram Email

MASKASUM

Harimau Mati Meninggalkan Belang. Manusia mati meninggal kan?


“Pokoknya saya harus lulus tepat waktu. Maksimal 4 tahun saya sudah harus wisuda”, batin saya waktu itu. Dengan semangat berapi-api, saya selesaikan kuliah saya tepat waktu. Alhamdulillah, dengan perjuangan yang panjang, saya dapat lulus kurang dari 4 tahun. Lebih tepatnya 3 tahun 11 bulan 28 hari.

Akhirnya saya menyandang predikat S.Pd, Sarjana Pendidikan. Sesuai dengan kodrat, seharusnya setelah lulus saya harus menjadi seorang guru. FYI, sejak jaman Angling Darma masih memerintah di kerajaan Malwapati, saya memang ingin menjadi seorang guru. Tetapi apa mau dikata, dunia persilatan berkata lain. Sang penggurat goresan kehidupan, menghendaki saya menjadi seorang karyawan minimarket. Sebuah nasib yang sangat kontras dan sangat tidak nyambung. Layaknya seorang jomblo yang mengejar-ngejar gebetannya namun gebetannya jalan dengan lelaki lain.

Yup, 2 tahun lamanya saya menjadi seorang karyawan sebuah minimarket yang cabangnya tersebar secara sporadis di seluruh antero Indonesia. Bagaikan jomblo yang setiap malam minggu menyebar di sudut-sudut gang. Sebuah minimarket dengan awalan Indo, berakhiran Maret. Betul. Matahari. Saya yakin minimarket ini dulunya dibangun di bulan April. FYI, saya dulu masuk di cabang Samarinda. Lalu, kenapa sih orang yang tampan rupawan yang lulusan pendidikan ini bisa menjadi karyawan minimarket? Dan juga kenapa harus di Samarinda? Suatu saat akan saya bahas di tulisan lain.

Singkat cerita, 2 tahun setelahnya, karena waktu itu istri saya hamil besar dan memutuskan pulang ke Jawa, akhirnya saya menyusul kembali ke Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan dan memutuskan untuk melanjutkan kehidupan yang fana ini di Kampung halaman.

Selepas itu, saya mencoba peruntungan mendaftar menjadi seorang perangkat Desa. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, akhirnya saya diterima menjadi Kepala Urusan Keuangan. Sebuah jabatan yang belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah jabatan penuh dengan resiko dan pengorbanan tinggi mengingat semua uang yang diperoleh dari sumber manapun ke desa mengalir melalui Kepala Urusan Keuangan. Kenapa perangkat Desa? Jujur saja, sebelum saya menjadi Kaur Keuangan, saya sudah diterima menjadi tenaga honorer di sebuah sekolah di daerah tempat tinggal saya. Namun baru saja saya mendaftar, list kebutuhan anak saya sudah terpampang jelas di depan mata. Susu SGM Merk Frisian Flag, Pampers merk Merries, dan kebutuhan-kebutuhan lain dengan nominal yang tidak kecil sudah menanti untuk dipenuhi. Sementara kita semua tahu berapa gaji guru honorer. Memang rejeki Allah sudah atur. Tapi manusia juga diberi kesempatan untuk berikhtiar. Nah, ikhtiar saya waktu itu adalah dengan memilih menjadi seorang perangkat desa.

Memang garis hidup sudah ditentukan. 2 tahun setelah saya menjadi Perangkat Desa, dibukalah pendaftaran CPNS tahun 2018. Harapan untuk saya menyalurkan ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah akhirnya terbuka. Semangat menggebu-gebu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha untuk berlatih soal-soal CPNS yang dulu pernah keluar di tahun-tahun sebelumnya. Selain berusaha sekuat tenaga, berdoa juga menjadi andalan saya di setiap waktu. Karena saya yakin bahwa sehebat apapun usaha yang saya lakukan, tidak akan berhasil tanpa ridho dari Sang Maha Kuasa.

Untuk detail tahapan dan perjalanan saya menjadi seorang CPNS, bisa dibaca disini. Dijamin konyol dan agak lucu.

Singkat cerita, Alhamdulillah saya resmi menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang lama terpendam dan belum tersalurkan yang akhirnya di tahun 2019 ini bisa terrealisasi. Kementerian Agama , menjadi kementerian yang menaungi pekerjaan saya ini.

MTs Negeri 4 Kebumen, sebuah MTs di pinggiran kota Kebumen, menjadi tempat pertama saya menjalankan tugas. FYI, basic pendidikan saya adalah Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer. Jadi di MTs 4 saya pasti mengajar TIK dong. Tetapi karena pelajaran TIK di SMP hanya 1 jam per minggu, maka saya diminta untuk mengajar Seni Budaya. Sebuah pengalaman baru lagi mengingat ini adalah kali pertama kali saya mengenal materi seni Budaya.

Lah kenapa saya yang basicnya komputer kok ngajar seni Budaya? Usut punya usut, suatu saat saya bermain keyboard yang ada di sekolah. Nah, ndilalah bagian kurikulum melihat saya sedang bermain keyboard itu. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mengatakan, “Oke tahun pelajaran ini Bapak ngajar seni Budaya”. “Baiklah”, begitu langsung saya jawab. Beliau ngga tahu kalo sebenarnya saya cuma hafal chord C. Itupun C Mayor. Soalnya C Minor ada tuts hitamnya. Hehehe

Singkat cerita, saya sudah 2 bulan ini menjadi guru seni Budaya dan TIK. Banyak banget cerita yang mengiringi perjalanan saya mencoba menjadi seorang guru. Mulai dari tingkah anak-anak yang agak konyol, sampai hal-hal yang membuat jengkel. Banyak hal lucu, banyak pula hal-hal yang menjengkelkan. Insyaallah akan ada banyak cerita yang akan ditulis di blog ini. Itu Kalo saya tidak ngantuk.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Posts Baru
Tulisan Terdahulu

Hy yang disana! Welcome

About Me

Selamat datang di warung sederhana saya. Happy reading

Medsos Saya

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Paling Populer

    Every Shit Happen, But ….
    WONG JAWA ILANG JAWANE
    Inikah Kisah Cinta Paling Heboh Melebihi Dilan dan Milea? (Part 1)

Kategori

  • Absurd
  • Adventure
  • Curhat
  • Diary
  • Family
  • Horor
  • Inspirasi
  • Lucu
  • My Life
  • Pernikahan
  • Ramadhan

Tulisan Lainnya

  • ►  2021 (11)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Januari (8)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2019 (15)
    • ►  Desember (1)
    • ▼  Agustus (1)
      • TENTANG PEKERJAAN BARU
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (8)
    • ►  Februari (3)

Hit

MASKASUM.COM BERDIRI SEJAK 2019. "CAPEK BANGET DONG" | Theme by MASKASUM.COM