“Pokoknya saya harus lulus tepat waktu. Maksimal 4 tahun saya
sudah harus wisuda”, batin saya waktu itu. Dengan semangat
berapi-api, saya selesaikan kuliah saya tepat waktu. Alhamdulillah,
dengan perjuangan yang panjang, saya dapat lulus kurang dari 4 tahun.
Lebih tepatnya 3 tahun 11 bulan 28 hari.
Akhirnya saya menyandang predikat S.Pd, Sarjana Pendidikan. Sesuai
dengan kodrat, seharusnya setelah lulus saya harus menjadi seorang
guru. FYI, sejak jaman Angling Darma masih memerintah di kerajaan
Malwapati, saya memang ingin menjadi seorang guru. Tetapi apa mau
dikata, dunia persilatan berkata lain. Sang penggurat goresan
kehidupan, menghendaki saya menjadi seorang karyawan minimarket.
Sebuah nasib yang sangat kontras dan sangat tidak nyambung. Layaknya
seorang jomblo yang mengejar-ngejar gebetannya namun gebetannya jalan
dengan lelaki lain.
Yup, 2 tahun lamanya saya menjadi seorang karyawan sebuah
minimarket yang cabangnya tersebar secara sporadis di seluruh antero
Indonesia. Bagaikan jomblo yang setiap malam minggu menyebar di
sudut-sudut gang. Sebuah minimarket dengan awalan Indo,
berakhiran Maret. Betul. Matahari. Saya yakin minimarket ini dulunya
dibangun di bulan April. FYI, saya dulu masuk di cabang Samarinda.
Lalu, kenapa sih orang yang tampan rupawan yang lulusan pendidikan
ini bisa menjadi karyawan minimarket? Dan juga kenapa harus di
Samarinda? Suatu saat akan saya bahas di tulisan lain.
Singkat cerita, 2 tahun setelahnya, karena waktu itu istri saya
hamil besar dan memutuskan pulang ke Jawa, akhirnya saya menyusul
kembali ke Jawa dan tidak kembali lagi ke Kalimantan dan memutuskan
untuk melanjutkan kehidupan yang fana ini di Kampung halaman.
Selepas itu, saya mencoba peruntungan mendaftar menjadi seorang
perangkat Desa. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, akhirnya
saya diterima menjadi Kepala Urusan Keuangan. Sebuah jabatan yang
belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah jabatan penuh dengan
resiko dan pengorbanan tinggi mengingat semua uang yang diperoleh
dari sumber manapun ke desa mengalir melalui Kepala Urusan Keuangan.
Kenapa perangkat Desa? Jujur saja, sebelum saya menjadi Kaur
Keuangan, saya sudah diterima menjadi tenaga honorer di sebuah
sekolah di daerah tempat tinggal saya. Namun baru saja saya
mendaftar, list kebutuhan anak saya sudah terpampang jelas di depan
mata. Susu SGM Merk Frisian Flag, Pampers merk Merries, dan
kebutuhan-kebutuhan lain dengan nominal yang tidak kecil sudah
menanti untuk dipenuhi. Sementara kita semua tahu berapa gaji guru
honorer. Memang rejeki Allah sudah atur. Tapi manusia juga diberi
kesempatan untuk berikhtiar. Nah, ikhtiar saya waktu itu adalah
dengan memilih menjadi seorang perangkat desa.
Memang garis hidup sudah ditentukan. 2 tahun setelah saya menjadi
Perangkat Desa, dibukalah pendaftaran CPNS tahun 2018. Harapan untuk
saya menyalurkan ilmu yang saya dapat dari bangku kuliah akhirnya
terbuka. Semangat menggebu-gebu. Dengan sekuat tenaga saya berusaha
untuk berlatih soal-soal CPNS yang dulu pernah keluar di tahun-tahun
sebelumnya. Selain berusaha sekuat tenaga, berdoa juga menjadi
andalan saya di setiap waktu. Karena saya yakin bahwa sehebat apapun
usaha yang saya lakukan, tidak akan berhasil tanpa ridho dari Sang
Maha Kuasa.
Untuk detail tahapan dan perjalanan saya menjadi seorang CPNS, bisa
dibaca disini. Dijamin konyol dan
agak lucu.
Singkat cerita, Alhamdulillah
saya resmi menjadi seorang guru. Sebuah cita-cita yang lama terpendam
dan belum tersalurkan yang akhirnya di tahun 2019 ini bisa
terrealisasi. Kementerian Agama , menjadi kementerian yang menaungi
pekerjaan saya ini.
MTs Negeri 4 Kebumen, sebuah MTs
di pinggiran kota Kebumen, menjadi tempat pertama saya menjalankan
tugas. FYI, basic pendidikan saya adalah Pendidikan Teknik
Informatika dan Komputer. Jadi di MTs 4 saya pasti mengajar TIK dong.
Tetapi karena pelajaran TIK di SMP hanya 1 jam per minggu, maka saya
diminta untuk mengajar Seni Budaya. Sebuah pengalaman baru lagi
mengingat ini adalah kali pertama kali saya mengenal materi seni
Budaya.
Lah kenapa saya yang basicnya
komputer kok ngajar seni Budaya? Usut punya usut, suatu saat saya
bermain keyboard yang ada di sekolah. Nah, ndilalah bagian kurikulum
melihat saya sedang bermain keyboard itu. Tanpa pikir panjang, beliau
langsung mengatakan, “Oke tahun pelajaran ini Bapak ngajar seni
Budaya”. “Baiklah”, begitu langsung saya jawab. Beliau ngga
tahu kalo sebenarnya saya cuma hafal chord C. Itupun C Mayor. Soalnya C Minor ada tuts hitamnya. Hehehe
Singkat cerita, saya sudah 2
bulan ini menjadi guru seni Budaya dan TIK. Banyak banget cerita yang
mengiringi perjalanan saya mencoba menjadi seorang guru. Mulai dari
tingkah anak-anak yang agak konyol, sampai hal-hal yang membuat
jengkel. Banyak hal lucu, banyak pula hal-hal yang menjengkelkan.
Insyaallah akan ada banyak cerita yang akan ditulis di blog ini. Itu
Kalo saya tidak ngantuk.

