6 Juni 2019. Hari raya Idul Fitri telah tiba. Setelah beberapa hari berkeliling bersilaturahmi dengan keluarga besar, saatnya aku hubungi teman-teman dan handai taulan yang rumahnya tak sempat aku kunjungi. Perlahan, satu persatu kontak dalam handphone aku kirimi chat yang intinya adalah seperti yang biasa kita kirim dan terima pada hari raya. Kata-kata yang sudah seperti template yang selalu kita kirim dan kita terima setiap hari raya Idul fitri. Tapi aku bukan tipe penganut “saat mata tak bisa melihat, saat kaki tak bisa berjalan”, karena insyaallah aku sehat lahir batin.
Tiba saatnya aku kirimkan permohonan maaf kesalah satu guru aku, teman aku, mentor aku, orang tua aku, sebut saja pak Bambang (Nama sebenarnya). Beliau adalah guru Bahasa Inggris sewaktu aku di SMP. Berkat motivasi-motivasi dari beliaulah, aku mendapatkan salah satu optimisme dalam hidup yang Alhamdulillah mengantarkan aku menjadi manusia seperti sekarang. FYI, dulu aku memang sejenis Avertebrata.
Entah bagaimana ceritanya, tanpa sengaja aku chat seperti ini. “Apa ngga ada rencana ke gunung Slamet gitu pak?”. Memang sudah beberapa bulan ini kita sering chating tentang rencana pendakian, yang pada akhirnya hanya menjadi wacana. FYI, pak Bambang ini suka sekali dengan olahraga, termasuk mendaki gunung. Makanya aku sering chating soal rencana pendakian.
Setelah aku membuka percakapan itu, beliau langsung menyahut “Oke silakan diagendakan mas, aku ada waktu tanggal 9-12”. Baiklah tanpa pikir panjang, langsung aku sahut lagi dong, “Oke berarti langsung saja pak. Kita berangkat besok hari senin tanggal 10”. “OK”, begitulah pak Bambang menjawab.
Aku tahu, tak mungkin lah gunung Slamet sepi. Apalagi ini memang masih suasana lebaran. Ngga penuh sesak aja sudah untung. Tapi aku tidak mau naik satu rombongan hanya dengan pak Bambang. Kurang rame untuk ngobrol. Dan alasan sebenernya sih supaya cariel yang berat, yang isi tenda dan lain-lain itu bisa dibawa teman. Dan aku pilih yang ringan. Begitulah, pendaki licik seperti saya. Itu sudah menjadi kebiasaan rutin setiap aku mendaki gunung. “Merepotkan orang lain” adalah nama tengahku :D.
Akhirnya aku ajaklah dua teman dari kampungku yang sudah jelas fisiknya kuat. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya terpilihlah dua temanku. Personil oke, logistik oke, cuaca oke, ternyata masih ada satu masalah. Dompet ngga oke, karena aku lama menganggur dikarenakan SK CPNS yang tak kunjung turun. Karena hal ini pula lah istriku hampir saja tidak mengijinkan pendakianku. Tapi, dengan tekad yang sudah membara, istriku berhasil aku rayu. Karena nyatanya walaupun ini adalah pendakian gunung tertinggi yang pernah aku daki, ini adalah pendakian terhemat yang pernah ada. Sewa peralatan pak Bambang. Bensin temanku yang nanggung. Logistik ngga beli. Mental gratisan gini memang asyik untuk diri sendiri dan menyebalkan untuk teman-teman.
Singkat cerita berangkatlah kita ke Purbalingga untuk kemudian menuju Bambangan, desa terakhir sebelum kita treking. Jalur menuju Bambangan ini lumayan menyebalkan. Kenapa? Dari arah mana saja ngga ada petunjuk arahnya. Akhirnya di tengah kota Purbalingga kita memanfaatkan google Map. Senjata sejuta umat ketika tersesat di kehidupan yang fana. Akhirnya sampailah kita ke Basecamp. Ndilalah pada waktu itu kabut sedang tebal-tebalnya. Sepanjang jalan kita tidak melihat gunung Slamet sama sekali.
Shalat ashar, mengisi perut, membeli kekurangan logistik, selesai semua. Jam setengah 5 sore kita start treking. Dan trek dari basecamp ke pos 1 adalah trek tergila. Puanjaaaaaaaaang kaya jomblo yang hubungannya diulur-ulur gebetannya. Selain panjang, beberapa ratus meter sebelum pos 1, itu trek nanjaknya nggilani. Itu Firaun kalo lewat trek itu kayaknya bakalan tobat deh.
Singkat cerita di pos 1 sekitar jam 6 sore. Gelar matras, shalat lah kita. Setelah badan cukup istirahat, lanjutlah kita ke pos 2. Trek dari pos 1 ke pos 2 tidak segila dari basecamp ke pos 1. Memang semakin menanjak tapi tidak sepanjang basecamp-pos 1. Dan ada banyak trek bonus walaupun pendek-pendek.
FYI, trek Slamet via Bambangan itu jarak antar pos semakin naik semakin pendek. Jadi, yang paling menyiksa memang antara basecamp samapai kurang lebih pos 3.
Singkat cerita sampailah kita di pos 3. Udara dingin semakin menusuk tulang, dan pak Bambang sudah kelihatan gemetar badannya karena sangkin dinginnya. Aku pikir, wah bisa bahaya kalo diteruskan tanpa pakaian dobel ini pak Bambang. Akhirnya aku sarankan beliau memakai 2 jaket, kaos tangan, dan penutup telinga. Alhamdulillah. Saran diterima, badan pak Bambang ngga lagi gemetaran. Kita lanjutkan bongkar makanan dalam tas karena perut yang semakin lapar. Beberapa pisang kepok rebus, beberapa buah kupat dengan lauk sisa-sisa lebaran langsung ludes kita santap. Dilanjutkan dengan minum kopi terenak sepanjang hayat. FYI, kopi, rokok, dan makanan kalo dimakan di gunung kok rasanya 10 kali lebih nikmat ya? Atau perasaanku saja?
Setelah kenyang, perjalanan kita lanjutkan ke pos 4. Sebuah pos keramat di Gunung Slamet via Bambangan. Sebuah pos yang dilarang mendirikan tenda di pos itu. Sebuah pos yang paling dihindari untuk beristirahat dalam waktu yang lama. Samarantu namanya. Mendengar namanya saja udah agak bikin merinding. Karena konon Samarantu itu berasal dari kata Samar dan Hantu. Serem pokoknya. Lebih serem dari cewek PMS. Kayu-kayunya gede-gede banget. Rimbun banget. Kalo siang, cahaya matahari aja susah masuk. Kata orang yang ngerti sih disitu ada banyak.... ah sudahlah.
Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang berliku, akhirnya kita sampai di pos 7 yang mana dari awal kita pengin ngecamp disitu. Ternyata, pas kita ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Purbalingga, antara pos 7 dan pos 8 itu jaraknya sangat pendek. Bahkan pos 8 bisa dilihat dari pos 7 kalo siang hari. Akhirnya kita berniat melanjutkan perjalanan karena fisik kita yang masih lumayan oke. Perjalanan kita lanjutkan ke pos 8 dan ternyata di pos 8 memang area campnya ngga begitu luas dan sudah penuh. FYI, waktu kita mendaki itu lagi rame-ramenya. Sepanjang jalan naik turun itu ngga pernah berhenti orang naik dan turun.
Karena di pos 8 sudah penuh, akhirnya rombonganku dan 1 rombongan dari Purbalingga mencoba mencari tanah yang cukup datar antara pos 8 dan pos 9. Yang mana pos 9 adalah pos terakhir dan batas akhir vegetasi. Alhamdulillah kita nemu tanah yang cukup datar dan luas diantara pos 8 dan pos 9. Tepat jam 12 malam, didirikanlah tenda. Setelah masak-masak dan ngopi-ngopi ganteng, kurang lebih pukul 1 malam, tidurlah kita.
Jam 4 pagi, 1 orang teman dan pak Bambang langsung summit attack. Aku dan temanku mah santai saja sangkin ngantuknya. Tepat pukul 5 setelah shalat subuh dan ngopi-ngopi ganteng, naiklah aku dan 1 temanku menyusul pak Bambang ke Puncak. Dari pos 9 Pelawangan sampai puncak adalah trek yang nggilani juga. Bener-bener nanjak, licin karena kerikil, belum lagi kalo ada batu yang meluncur dari atas. Sebuah miniatur Semeru. Akhirnya kurang lebih jam 6 pagi sampai lah aku di puncak tertinggi Jawa Tengah. Slamet, 3428 MDPL.
Rasa letih, lesu, lelah, lunglai, rasanya langsung hilang melihat keindahan matahari yang perlahan mulai nampak di ufuk timur, dan keindahan alam yang luar biasa karena saat itu cuaca benar-benar cerah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa indah yang memang hanya bisa dilihat dari gunung.
Setelah puas muter-muter di puncak, kurang lebih jam 7 turunlah kita. Akhirnya jam 2 siang sampailah kita di basecamp. Sebuah perjalanan panjang penuh perjuangan dan ini adalah perjalanan naik gunung terlama yang pernah aku alami.

